PHK Massal Gara-Gara AI, Bos Malah Kaget Kantong Perusahaan Boncos

PHK massal gara-gara AI ternyata tidak serta-merta membuat perusahaan menghemat biaya. Banyak perusahaan yang awalnya antusias mengganti atau mengurangi tenaga kerja manusia dengan kecerdasan buatan (AI), kini malah kaget karena tagihan biaya penggunaan AI justru membengkak dan sering kali melebihi gaji karyawan yang sudah dirumahkan.

Biaya AI yang Membengkak

Sebuah laporan terbaru dari firma akuntan terkemuka KPMG yang dirilis awal Juli 2026, menyebutkan bahwa biaya penggunaan AI dapat meningkat drastis seiring dengan meningkatnya penggunaan. Selama masa uji coba, penyedia layanan AI biasanya menawarkan kontrak harga tetap atau diskon besar agar perusahaan tertarik mencoba. Namun seiring melonjaknya biaya daya komputasi, hampir semua pengembang model bahasa besar kini beralih ke sistem pembayaran berdasarkan pemakaian atau dihitung per unit data yang diproses.

Artinya, makin sering AI dipakai, makin besar tagihannya. Banyak direksi yang awalnya mengira biayanya tetap, kini terkejut menerima rekening yang nilainya terus naik drastis. Survei KPMG yang melibatkan 2.145 eksekutif senior dari 20 negara menemukan fakta mencengangkan. Sebanyak 29% mengaku tidak tahu persis dari mana asal kenaikan biaya AI tersebut, sedangkan 33% menyatakan ketidaktahuan mereka soal hitungan ekonomi AI justru menjadi penghambat.

Mengapa Biaya AI Meningkat?

Banyak organisasi masih membangun kemampuan untuk meramalkan, memantau, dan mengelola pengeluaran AI secara tepat. Logika awal para CEO sederhana yaitu mengganti karyawan dengan AI sehingga biaya gaji, tunjangan, dan cuti akan hilang. Namun, kenyataannya berbeda. AI membutuhkan infrastruktur server dan listrik yang tidak murah, tenaga ahli khusus, dan masih membutuhkan intervensi manusia untuk “memperbaiki” kesalahan AI.

Dampaknya, tagihan penggunaan AI yang diukur menggunakan token, membengkak berkali-kali lipat karena pemakaian tidak dibatasi. Dalam beberapa kasus yang dilaporkan, perusahaan malah mengeluarkan biaya untuk AI yang nilainya dua hingga tiga kali lipat dari anggaran gaji tim yang sebelumnya diberhentikan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian ini memiliki dampak besar bagi perusahaan yang berencana untuk mengadopsi AI. Mereka harus lebih berhati-hati dalam menghitung biaya penggunaan AI dan memastikan bahwa mereka memiliki sistem pengawasan anggaran AI secara jelas dan terukur. Selain itu, perusahaan juga harus mempertimbangkan bahwa mempertahankan tenaga kerja yang terlatih justru lebih terukur biayanya dibandingkan mengandalkan sistem yang tagihannya tak terduga.

Strategi pemangkasan biaya yang mengandalkan AI kini kembali dikaji ulang. Banyak perusahaan mulai sadar bahwa mengganti karyawan dengan AI tidak selalu solusi yang efektif. Mereka harus lebih selektif dalam memilih teknologi yang tepat dan memastikan bahwa teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan harus terus memantau perkembangan teknologi AI dan memastikan bahwa mereka dapat menggunakannya secara efektif. Mereka juga harus terus meningkatkan kemampuan untuk meramalkan, memantau, dan mengelola pengeluaran AI secara tepat. Dengan demikian, perusahaan dapat memperoleh manfaat dari teknologi AI tanpa harus menghadapi biaya yang tidak terduga.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260710113743-37-749757/bos-phk-karyawan-diganti-ai-biar-tak-bayar-gaji-kantong-malah-boncos, without altering the facts of the original article.

Telkomsel Rebut Frekuensi 5G Rp 545,8 Miliar, Siap Gebrak Pasar?

Telkomsel berhasil memenangi spektrum frekuensi baru yang bisa dimanfaatkan untuk menggenjot ketersediaan layanan 5G. Operator telekomunikasi pelat merah tersebut berhasil menguasai frekuensi 2,6 GHz dengan penawaran Rp 545,8 miliar.

Momen Penentu di Menit Akhir

Kementerian Komunikasi dan Digital hari ini, Jumat (10/7/2026) melaporkan hasil seleksi pengguna pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz. Dalam pengumuman yang dipublikasikan di website resminya, Komdigi menyatakan lelang penguasaan frekuensi 2,6 GHz diikuti oleh tiga operator seluler yaitu Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.

PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) berada di posisi pertama dengan mengajukan penawaran Rp 545,8 miliar untuk menggunkan spektrum seluas 80 MHz di pita frekuensi 2,6 GHz. Dua operator lain mengajukan penawaran lebih rendah untuk spektrum yang lebih sempit.

PT Indosat Tbk. atau Indosat Ooredoo Hutchison mengajukan penawaran Rp 372 miliar untuk spektrum seluas 60 MHz, sedangkat PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk atau XLSmart menawarkan Rp 231,6 miliar untuk spektrum seluas 50 Mhz.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Makin tinggi frekuensi yang digunakan untuk menyediakan layanan seluler, makin besar kapasitas trafik yang bisa diantarkan. Oleh karena itu, frekuensi 2,6 GHz yang dimenangi oleh Telkomsel disebut pas sebagai infrastruktur penyedia layanan 5G yang berkapasitas besar.

Dengan kemenangan ini, Telkomsel diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan 5G dan meningkatkan kapasitas trafik. Hal ini juga dapat meningkatkan kemampuan Telkomsel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan yang lebih cepat dan lebih handal.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Ketiga peserta lelang diberikan kesempatan untuk menyampaikan sanggahan hasil seleksi secara tertulis disertai bukti pendukung yang memperkuat sanggahan hingga 14 Juli 2026. Apabila tidak ada sanggahan hasil seleksi, tim seleksi akan segera menyampaikan laporan dan rekomendasi kepada Menteri Komunikasi dan Digital.

Selain wajib melunasi Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio untuk Izin Pita Frekuensi Radio (BHP IPFR) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, pemenang seleksi dalam 5 tahun ke depan diwajibkan untuk memenuhi beberapa persyaratan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dengan kemenangan ini, Telkomsel diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan 5G dan meningkatkan kapasitas trafik. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Telkomsel dalam mengembangkan layanan 5G.

Telkomsel harus memastikan bahwa layanan 5G yang disediakan dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Selain itu, Telkomsel juga harus memastikan bahwa layanan 5G yang disediakan dapat berjalan dengan stabil dan handal.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260710185922-37-749971/kejar-5g-telkomsel-berani-bayar-rp-5458-miliar-buat-frekuensi-baru, without altering the facts of the original article.

Perang Frekuensi Emas, XLSmart Tawar Rp 1 Triliun untuk Raih Kemenangan

Tawaran yang Mengubah Permainan

Pada proses lelang yang berlangsung pada 7 Juli 2026, XLSmart menunjukkan strategi agresif dengan mengajukan penawaran sebesar Rp 1,060 triliun. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penawaran Telkomsel dan Indosat. Dengan kemenangan ini, XLSmart diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan jaringan dan memperluas cakupan wilayahnya.

Apa yang Terjadi?

Proses lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dilaksanakan oleh Komdigi sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan spektrum frekuensi radio. Pita frekuensi 700 MHz dianggap sangat strategis karena memiliki kemampuan untuk menjangkau area yang lebih luas dan memberikan kecepatan internet yang lebih tinggi. Adapun tahapan lelang harga dilakukan pada 7 Juli 2026, diikuti dengan pemilihan blok pita pada 8-10 Juli 2026. Peserta seleksi juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan sanggahan hasil seleksi secara tertulis dengan bukti pendukung hingga 14 Juli 2026.

Mengapa dan Dampaknya

Kemenangan XLSmart dalam lelang pita frekuensi ini memiliki dampak signifikan terhadap industri telekomunikasi di Indonesia. Dengan menguasai pita frekuensi 700 MHz, XLSmart berpotensi meningkatkan kualitas layanan jaringan dan memperluas cakupan wilayahnya, sehingga dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Selain itu, kemenangan ini juga menunjukkan strategi agresif XLSmart dalam meningkatkan posisinya di pasar telekomunikasi Indonesia. Ke depan, XLSmart diwajibkan melakukan beberapa hal dalam waktu paling lama 5 tahun, yaitu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Komdigi. Selain wajib melunasi Biaya Hak Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio untuk Izin Pita Frekuensi Radio (BHP IPFR) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, XLSmart juga mengemban tugas penting untuk mewujudkan kedaulatan digital yang inklusif.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meskipun telah memenangkan lelang pita frekuensi 700 MHz, XLSmart masih memiliki jalan panjang untuk meningkatkan kualitas layanan jaringan dan memperluas cakupan wilayahnya. Dengan kemenangan ini, XLSmart diharapkan dapat meningkatkan posisinya di pasar telekomunikasi Indonesia dan memberikan dampak positif bagi industri telekomunikasi secara keseluruhan. XLSmart harus terus meningkatkan kualitas layanan dan memperluas cakupan wilayahnya untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dan mempertahankan posisinya di pasar.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260710191652-37-749973/rebut-frekuensi-emas-xlsmart-berani-bayar-rp-1-triliun, without altering the facts of the original article.

Laba Bank Mega Syariah Naik 17,56%, Pembiayaan Melesat per Juni 2026

Bank Mega Syariah mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp137 miliar pada Juni 2026, tumbuh 17,56% dibandingkan Juni 2025 yang mencapai lebih dari Rp117 miliar. Pencapaian ini didorong oleh fungsi intermediasi yang optimal, dengan total pembiayaan yang mencapai lebih dari Rp10 triliun per Juni 2026. Jumlah ini tumbuh lebih dari 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pembiayaan terutama didorong oleh segmen komersial, khususnya corporate banking dan business banking, serta didukung oleh pertumbuhan pembiayaan ritel melalui Syariah Card dan pembiayaan konsumer.

Pertumbuhan Pembiayaan yang Signifikan

Segmen komersial menjadi kontributor utama dengan outstanding lebih dari Rp5,96 triliun per Juni 2026, tumbuh lebih dari 15% secara year to date (ytd). Di dalamnya, pembiayaan corporate banking menjadi kontributor utama dengan outstanding lebih dari Rp4,5 triliun, atau meningkat hingga di atas 16% dibandingkan posisi akhir 2025. Sementara itu, pembiayaan business banking juga tumbuh Rp156,0 miliar atau sekitar 12% menjadi Rp1,45 triliun dibandingkan posisi akhir 2025.

Pembiayaan ritel juga menunjukkan pertumbuhan yang positif. Pembiayaan Syariah Card tercatat mencapai lebih dari Rp325,4 miliar, tumbuh hingga lebih dari 67% secara tahunan. Adapun pembiayaan konsumer mencapai Rp601,0 miliar atau meningkat sebesar 17,73% dibandingkan Juni 2025.

Mengapa Pertumbuhan Pembiayaan Bank Mega Syariah?

Pertumbuhan pembiayaan yang sehat menjadi salah satu fokus utama Bank Mega Syariah. Menurut Hanie Dewita, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, pihaknya terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, kualitas portofolio, dan kontribusi yang berkelanjutan terhadap profitabilitas bank. Perbaikan komposisi dana murah terutama terlihat pada segmen retail, dengan DPK retail tercatat sebesar Rp5,84 triliun per Juni 2026, meningkat lebih dari 3,6% dibandingkan bulan sebelumnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Ke depan, Bank Mega Syariah akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan kualitas aset. Strategi ini penting agar Bank Mega Syariah dapat terus tumbuh secara sehat serta memberikan layanan keuangan syariah yang semakin relevan bagi masyarakat. Dengan pertumbuhan pembiayaan yang signifikan dan laba yang meningkat, Bank Mega Syariah diharapkan dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu bank syariah terkemuka di Indonesia.

Jalan panjang yang masih harus ditempuh oleh Bank Mega Syariah adalah mempertahankan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan strategi yang tepat dan fokus pada kualitas aset, Bank Mega Syariah diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710155014-17-749893/pembiayaan-melesat-laba-bank-mega-syariah-naik-1756-per-juni-2026, without altering the facts of the original article.

Laba ASABRI Melonjak 158%, Aset Tembus Rp55 Triliun pada 2025

PT ASABRI (Persero) membukukan laba bersih sebesar Rp713,72 miliar pada 2025, melonjak 158% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp275,60 miliar. Lonjakan laba ini didorong oleh peningkatan hasil investasi dan kondisi pasar modal yang lebih kondusif. Aset ASABRI juga tumbuh dua digit, mencapai Rp55,97 triliun atau naik 12,23% dibandingkan tahun sebelumnya.

Laba Bersih yang Melonjak

Direktur Utama PT ASABRI (Persero) Jeffry Haryadi P. Manullang mengungkapkan, laba bersih perseroan pada 2025 mencapai Rp713,72 miliar, meningkat 158% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp275,60 miliar. Sedangkan laba komprehensif Rp529,94 miliar meningkat 222,02% dibanding tahun sebelumnya Rp164,57 miliar. Kinerja tersebut ditopang oleh peningkatan hasil investasi dan kondisi pasar modal yang lebih kondusif sepanjang tahun lalu.

Kenaikan dari hasil kinerja keuangan ini dikontribusikan oleh pertama hasil investasi yang cukup kompetitif, kedua kondisi pasar modal yang mendukung, dan ketiga adanya penerapan ketentuan dari PSAK 109 yang ikut membantu mendorong kenaikan kinerja keuangan kami di tahun 2025. Namun demikian dominannya diberikan oleh kinerja investasi dan situasi pasar modal.

Pertumbuhan Aset dan Ekuitas

Sejalan dengan itu, total aset ASABRI juga tumbuh dua digit. Hingga akhir 2025, aset perseroan mencapai Rp55,97 triliun atau naik 12,23% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, posisi ekuitas terus membaik dengan defisit menyusut dari minus Rp894 miliar menjadi minus Rp363 miliar. Dari sisi kesehatan keuangan, tingkat solvabilitas meningkat signifikan dari 124% pada 2024 menjadi 321% pada 2025 atau melonjak sekitar 157%.

Perbaikan Kinerja Investasi

Perbaikan kinerja juga tercermin dari sisi investasi. Yield on investment meningkat menjadi 7,43% dari 4,94% pada tahun sebelumnya atau tumbuh 49,28%. Hasil investasi bersih mencapai Rp985 miliar, naik 56,82% dibandingkan 2024 sebesar Rp628 miliar.

Tantangan Program Tabungan Hari Tua (THT)

Di sisi operasional, ASABRI membayarkan 69.749 klaim sepanjang 2025. Rinciannya meliputi sekitar 56 ribu klaim program THT, 4.500 klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), serta 8.400 klaim Jaminan Kematian (JKM). Meski demikian, Jeffry mengakui program Tabungan Hari Tua (THT) masih menjadi tantangan utama karena rasio klaim tetap melampaui 100%.

Kalau kita lihat klaim ratio yang selama ini menjadi momok di PT ASABRI adalah program THT, di mana klaim ratio-nya berada di atas 100%, yaitu tahun 2025 ini klaimnya Rp1,5 triliun, sementara preminya Rp1,3 triliun. Artinya klaim ratio-nya berada di 115,65%.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pertumbuhan laba dan aset ASABRI yang signifikan menunjukkan perbaikan kinerja yang cukup baik. Namun, tantangan program THT masih perlu diatasi. Dengan demikian, ASABRI perlu terus meningkatkan kinerjanya dan mengatasi tantangan-tantangan yang ada untuk meningkatkan kepercayaan stakeholders.

Jalan panjang yang masih harus ditempuh oleh ASABRI untuk meningkatkan kinerjanya dan mengatasi tantangan-tantangan yang ada masih cukup panjang. Namun, dengan perbaikan kinerja yang telah dicapai, ASABRI diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusinya dalam mendukung program-program sosial dan ekonomi di Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710171313-17-749927/laba-asabri-melonjak-158-jadi-rp713-m-pada-2025-aset-tembus-rp55-t, without altering the facts of the original article.

Bank Jago Buka Suara Soal Isu Merger dengan BFI Finance

Bank Jago buka suara mengenai kabar merger dengan BFI Finance. Manajemen Bank Jago mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan komentar terkait aktivitas atau keputusan pemegang saham. Bank Jago juga tidak dapat memberikan komentar atas informasi yang tidak berasal dari perseroan atau spekulasi pasar.

Merger yang Masih Spekulatif

Sebelumnya, laporan Bloomberg menyebut kelompok investor yang dipimpin oleh taipan Jerry Ng sedang mempertimbangkan opsi untuk kepemilikan saham mereka di BFI Finance dan Bank Jago. Menurut sumber, musyawarah mengenai hal ini sedang berlangsung. Jerry Ng memiliki sekitar 51% saham BFI Finance melalui Trinugraha Capital & Co dan sekitar 30% saham Bank Jago.

Sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago konsisten mengembangkan bisnis dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan melalui inovasi dan kolaborasi dengan berbagai ekosistem digital dan keuangan. Marchelo menyebut kolaborasi dengan BFI Finance merupakan bagian dari kerja sama bisnis strategis yang telah berjalan untuk memberikan solusi keuangan yang relevan kepada nasabah serta mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Jika merger antara Bank Jago dan BFI Finance benar-benar terjadi, maka hal ini dapat memiliki dampak signifikan pada industri keuangan di Indonesia. Bank Jago dan BFI Finance memiliki kekuatan masing-masing yang dapat saling melengkapi. Bank Jago memiliki kekuatan dalam teknologi dan inovasi, sedangkan BFI Finance memiliki kekuatan dalam pembiayaan.

Merger ini juga dapat meningkatkan kemampuan kedua perusahaan dalam menghadapi persaingan di industri keuangan yang semakin ketat. Dengan demikian, merger ini dapat menjadi salah satu langkah strategis yang tepat untuk meningkatkan kinerja dan pertumbuhan kedua perusahaan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski demikian, manajemen Bank Jago menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki informasi yang dapat disampaikan terkait merger antara perseroan dengan BFI Finance maupun informasi terkait pendekatan dari institusi keuangan atau investor asing. Sebagai perusahaan terbuka, Bank Jago senantiasa mematuhi ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku dan akan menyampaikan setiap informasi material sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, kita masih harus menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kabar merger antara Bank Jago dan BFI Finance. Apakah merger ini akan benar-benar terjadi? Kita masih harus menunggu jawaban dari kedua perusahaan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710162714-17-749910/ada-isu-mau-merger-dengan-bfi-finance–bfin–bank-jago-buka-suara, without altering the facts of the original article.

Emiten Ini Bangkit Setelah Bertahun-Tahun Dijauhi Investor

Saham perusahaan rokok kembali menjadi perhatian investor global setelah bertahun-tahun dijauhi karena pertimbangan etika dan tekanan regulasi. Kali ini, kebangkitan tersebut didorong oleh pesatnya pertumbuhan produk bebas asap seperti rokok elektrik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin. Perusahaan yang berhasil menggeser bisnisnya ke produk non-konvensional kini memperoleh penilaian yang lebih tinggi di pasar saham. Philip Morris International menjadi contoh paling menonjol, sementara British American Tobacco dinilai mulai mengikuti jejak tersebut.

Perubahan Kebijakan dan Ekspansi Bisnis

Perubahan arah kebijakan di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor pendorong kebangkitan saham perusahaan rokok. Pemerintahan Presiden Donald Trump periode kedua dinilai lebih ramah terhadap industri tembakau dibanding pemerintahan Joe Biden. Perubahan tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap risiko regulasi yang selama bertahun-tahun membebani saham perusahaan rokok. Perusahaan-perusahaan tembakau juga meningkatkan aktivitas lobi politik untuk memperjuangkan sejumlah kepentingan industri.

Perubahan kebijakan terbaru FDA juga dinilai menjadi angin segar, khususnya bagi British American Tobacco. Regulator kini mengizinkan produsen menjual produk vape maupun kantong nikotin baru selama proses evaluasi izin pemasaran masih berlangsung. Sebelumnya, perusahaan harus menunggu persetujuan penuh sebelum produk boleh dipasarkan, proses yang dapat memakan waktu bertahun-tahun.

Mengapa Perusahaan Rokok Mulai Bangkit

Perusahaan rokok masih mampu menjaga pendapatan melalui kenaikan harga, namun strategi tersebut tidak akan efektif dalam jangka panjang seiring semakin berkurangnya jumlah konsumen rokok. Jumlah perokok di Amerika Utara terus menyusut, dengan volume penjualan rokok yang telah turun sekitar sepertiga sejak 2020. Oleh karena itu, transformasi menuju produk bebas asap menjadi penting bagi perusahaan rokok untuk meningkatkan pendapatan dan mempertahankan pangsa pasar.

Dampak Terhadap Investor dan Industri

Transformasi menuju produk bebas asap juga membuka peluang kembalinya investor institusi yang sebelumnya menghindari saham perusahaan rokok karena alasan Environmental, Social, and Governance. Perusahaan yang berhasil menggeser bisnisnya ke produk non-konvensional kini memperoleh penilaian yang lebih tinggi di pasar saham. Philip Morris International menjadi pemimpin dalam transformasi tersebut, dengan sekitar 41% pendapatannya berasal dari produk non-kombustibel pada 2025.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kebangkitan saham perusahaan rokok masih memiliki tantangan ke depan. Perusahaan harus terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produk bebas asap untuk mempertahankan pangsa pasar. Selain itu, perusahaan juga harus memperhatikan isu-isu kesehatan masyarakat dan regulasi yang masih menjadi perhatian global. Dengan demikian, perusahaan rokok dapat mempertahankan keberlangsungan bisnis dan meningkatkan nilai bagi investor.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710174447-17-749934/bertahun-tahun-dijauhi-saham-emiten-sektor-ini-mulai-bangkit, without altering the facts of the original article.

Investor Buang Saham JELI dan BACH, Apa yang Terjadi?

Saham JELI dan BACH menjadi perhatian investor pada perdagangan Jumat (10/7/2026) setelah kompak tertekan aksi jual. Saham JELI, produsen makanan bermerek INACO, anjlok 14,81% ke level Rp1.495 per saham dan menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Sementara itu, saham BACH, emiten genset dan infrastruktur telekomunikasi afiliasi Grup Djarum, rontok nyaris 10% ke Rp500 per saham hari ini.

Momen Penentu di Menit Akhir

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja dua emiten baru lainnya, yakni PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) milik Raffi Ahmad yang melesat ke ARA di hari perdananya, dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang ikut memimpin top gainers. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri bergerak tenang di zona hijau hari ini.

Apa yang Terjadi pada JELI dan BACH?

JELI resmi melantai pada 7 Juli 2026 dengan harga IPO Rp900 per saham, melepas 266 juta saham (21,01% modal) dan menghimpun Rp239,4 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Sucor Sekuritas. Sementara itu, BACH juga melakukan IPO pada awal Juli ini.

Mengapa Saham JELI dan BACH Diterpa Aksi Jual?

Persoalan pertama ada pada valuasi yang terbang meninggalkan kinerja labanya. Sepanjang 2025, JELI hanya membukukan laba bersih sebesar Rp39,0 miliar. Angka ini memang melonjak 235,5% dibanding laba tahun sebelumnya yang cuma Rp11,6 miliar, tetapi lonjakan persentase sebesar itu berasal dari basis yang sangat kecil. Dengan laba semungil itu, harga IPO JELI saja sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba (PER) di kisaran 31-39 kali – jauh di atas rata-rata emiten sejenis di sektor makanan dan minuman yang berada di rentang 12-18 kali.

Selain itu, pendapatan JELI justru menyusut tiga tahun berturut-turut, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025. Artinya, lonjakan laba yang jadi daya tarik utama emiten ini bukan berasal dari bertambahnya volume penjualan, melainkan dari efisiensi dan perbaikan marjin – sumber pertumbuhan yang punya batas dan tidak bisa diulang tanpa henti setiap tahun.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kombinasi harga yang premium, mesin pertumbuhan yang justru menyusut, dan arus kas operasional yang melemah membuat investor semakin berhati-hati dalam menilai prospek JELI dan BACH. Investor perlu memperhatikan kinerja keuangan dan strategi bisnis kedua emiten ini ke depan untuk menentukan potensi pertumbuhan dan return on investment yang lebih akurat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kedua emiten ini masih memiliki jalan panjang untuk membuktikan diri sebagai pemain yang solid dan berpotensi tumbuh di pasar modal. Dengan tantangan yang ada, JELI dan BACH harus mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dan strategi bisnis yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan investor dan mencapai tujuan bisnis mereka.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710183012-17-749939/saham-jeli-dan-bach-kompak-dibuang-investor-ada-apa, without altering the facts of the original article.

Purbaya Cari Dana Rp10 T: 8 Seri Utang Syariah Siap Dilelang Pekan Depan

Purbaya Lelang 8 Seri Utang Syariah untuk Cari Dana Rp10 T Pemerintah bakal melelang delapan seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara pada pekan depan, dengan target indikatif mencapai Rp 10 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memenuhi sebagian target pembiayaan dalam APBN 2026. SBSN yang akan dilelang terdiri dari seri SPN-S (Surat Perbendaharaan Negara – Syariah) dan PBS (Project Based Sukuk). Momen Penentu di Menit Akhir Pengumuman yang dipublikasikan oleh Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa lelang SBSN akan dilaksanakan pada Selasa, 14 Juli 2026. Target indikatif untuk lelang ini adalah Rp 10 triliun, dengan kemungkinan maksimal dimenangkan sebesar 200% dari target indikatif. Delapan seri SBSN yang akan dilelang adalah SPNS08092026, SPNS03022027, SPNS12042027 dengan imbalan diskonto, PBS030 dengan imbalan 5,87%, PBS040 sebesar 5%, PBSG002 sebesar 5,62%, PBS034 sebesar 6,5%, serta PBS038 yang imbalannya 6,87%. Apa yang Terjadi Seri PBSG002 yang dilelang merupakan seri Green Sukuk yang ditawarkan melalui lelang di pasar perdana domestik. Ini melengkapi program penerbitan Green Sukuk yang sudah dilakukan sebanyak 8 kali di pasar global sejak tahun 2018 dan 12 kali di pasar domestik melalui Green Sukuk Ritel sejak tahun 2019. Green Sukuk ini dapat digunakan untuk mendukung program RPIM (Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial) bagi Bank Umum Konvensional, Bank Umum Syariah, dan Unit Usaha Syariah. MENGAPA & DAMPAK Pemerintah melakukan lelang SBSN ini untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam APBN 2026. Dengan menawarkan SBSN, pemerintah dapat memperoleh sumber pendanaan yang syariah dan mendukung proyek-proyek yang berkelanjutan. Dampaknya, upaya ini dapat meningkatkan transparansi dan inklusivitas dalam pembiayaan negara. Selain itu, penerbitan Green Sukuk dapat membantu meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam mendukung proyek-proyek hijau. Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh Lelang SBSN ini akan dilaksanakan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia sebagai Agen Lelang SBSN. Semua pihak, baik investor individu maupun institusi, dapat menyampaikan penawaran pembelian dalam lelang, tetapi harus melalui Dealer Utama yang telah mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan. Pemerintah memiliki hak untuk menjual seri-seri SBSN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari target indikatif yang ditentukan. Dengan demikian, kesuksesan lelang ini sangat penting dalam mencapai target pembiayaan negara dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710171620-17-749929/cari-dana-rp10-t-purbaya-lelang-8-seri-utang-syariah-pekan-depan, without altering the facts of the original article.

BSI dan BPJS Ketenagakerjaan Berkolaborasi: KPR Syariah 30 Tahun Kini Lebih Mudah Diakses

PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) dan BPJS Ketenagakerjaan telah menjalin kerja sama untuk menyediakan akses pembiayaan perumahan yang inklusif, kompetitif, dan berkah bagi jutaan pekerja Penerima Upah (PU) di Indonesia. Melalui sinergi ini, peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan dapat menikmati fasilitas pembiayaan BSI Griya dengan berbagai keunggulan, termasuk kepastian angsuran tetap hingga akhir masa pembiayaan, serta tenor fleksibel hingga 30 tahun untuk menjaga stabilitas cashflow bulanan nasabah. BSI Griya menjadi salah satu opsi pembiayaan perumahan syariah yang paling diminati di Indonesia.

Kolaborasi Strategis untuk Meningkatkan Akses Pembiayaan Perumahan

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen nyata BSI dalam mendukung program strategis pemerintah untuk mengatasi backlog perumahan nasional sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi. Sektor perumahan memiliki multiplier effect yang sangat besar terhadap berbagai industri turunan di Indonesia. Melalui kemitraan strategis dengan BPJS Ketenagakerjaan, BSI hadir memberikan solusi nyata bagi para pekerja untuk memiliki hunian layak dengan prinsip syariah yang adil.

Dengan kerja sama ini, peserta BPJS Ketenagakerjaan dapat memperoleh pembiayaan perumahan dengan skema syariah yang lebih mudah dan fleksibel. BSI Griya menawarkan berbagai keunggulan, termasuk angsuran tetap dan tenor yang fleksibel, sehingga memudahkan pekerja untuk memiliki rumah impian mereka. Kerja sama ini juga diharapkan dapat meningkatkan akses pembiayaan perumahan bagi masyarakat Indonesia, terutama bagi mereka yang belum memiliki rumah.

Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat melalui Pembiayaan Perumahan

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, mengatakan kehadiran BSI sebagai bank penyalur Manfaat Layanan Tambahan (MLT) akan semakin memperluas akses sekaligus menambah alternatif pembiayaan perumahan dengan skema syariah yang dapat dimanfaatkan oleh peserta BPJS Ketenagakerjaan. Bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan, kerja sama ini diharapkan semakin memudahkan akses untuk memiliki rumah sebagai aset jangka panjang sekaligus bekal dalam mempersiapkan kehidupan yang lebih sejahtera di hari tua.

Ketersediaan pembiayaan perumahan yang mudah dan fleksibel diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dengan memiliki rumah yang layak, pekerja dapat bekerja dengan lebih tenang dan produktif, sekaligus membangun masa depan keluarga yang lebih baik. Oleh karena itu, kerja sama antara BSI dan BPJS Ketenagakerjaan ini sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kerja sama antara BSI dan BPJS Ketenagakerjaan ini diharapkan dapat memiliki dampak positif bagi masyarakat Indonesia ke depan. Dengan meningkatnya akses pembiayaan perumahan, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi. BSI dan BPJS Ketenagakerjaan berkomitmen untuk terus meningkatkan kerja sama ini dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.

Dalam jangka panjang, kerja sama ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Dengan memiliki rumah yang layak, pekerja dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup mereka. Oleh karena itu, kerja sama ini sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia ke depan.

BSI dan BPJS Ketenagakerjaan akan terus meningkatkan kerja sama ini dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia. Dengan komitmen yang kuat dan kerja sama yang erat, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dan memacu pertumbuhan ekonomi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260710171615-17-749930/bsi-gandeng-bpjs-ketenagakerjaan-buka-akses-kpr-syariah-30-tahun, without altering the facts of the original article.