Buah Asli Indonesia Ini Dijual Lebih Mahal dari Barang Mewah di Eropa, Apa Sebabnya?

Siapa sangka, buah durian yang kini sering dijual di pinggir jalan dan asli Asia Tenggara, termasuk Indonesia, ini pernah dihargai lebih mahal dibanding salah satu barang mewah di Eropa. Durian, dengan aromanya yang tajam, menjadi sangat mahal pada awal abad ke-19. Bahkan, harga satu durian bisa melampaui harga selusin nanas, buah yang sangat mahal dan identik dengan status sosial serta kemewahan di Eropa pada masa itu.

Momen Penentu di Abad ke-19

Penjelajah asal Skotlandia, John Crawfurd, dalam memoar berjudul History of the Indian Archipelago (1820), mengungkapkan fakta tersebut. Crawfurd sendiri menjadi salah satu orang Eropa yang sangat menyukai durian. Awalnya, dia terganggu oleh ukuran buah yang besar dan aromanya yang menyengat. Namun, semua kesan tersebut berubah setelah dia mulai mencicipi isi buahnya. “Daging buah putih ini bagian yang saya suka! Durian lebih enak dibanding buah lain. Makan ini tidak membosankan atau mengurangi selera makan. Malah, nafsu makan makin bertambah. Biji durian pun bisa dimakan. Saat dipanggang rasanya mirip kastanye,” ungkap John Crawfurd.

Kecintaan orang Eropa terhadap buah yang tercatat di Borobudur sejak tahun 824 Masehi ini sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Crawfurd menuliskan pengalamannya. Pada 1599, penjelajah bernama Linschott menyebut durian memiliki rasa yang sangat enak, bahkan menurutnya lebih nikmat dibanding buah lain di dunia. Popularitas durian di kalangan orang Eropa kemudian semakin meningkat setelah peneliti Rumphius menerbitkan Herbarium Amboinense pada 1741. Dalam catatannya, dia menggambarkan durian sebagai buah berukuran besar dengan duri tajam dan aroma menyengat, tetapi memiliki rasa yang sangat lezat ketika dicicipi.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Cerita lain diungkap pula oleh Alfred Russel Wallace yang semakin membuka mata orang Eropa terhadap buah eksotis ini. Dalam The Malay Archipelago (1869), naturalis terkemuka dunia itu menyebut durian sebagai salah satu buah terbaik dengan rasa yang tak tertandingi. Atas dasar itulah, Wallace kemudian menjuluki durian sebagai raja buah-buahan, sebutan yang bertahan hingga sekarang.

Durian memang memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh buah lain. Buahnya yang besar dengan duri tajam dan aroma menyengat membuatnya menjadi buah yang sangat spesial. Namun, keunikan ini juga yang membuat durian menjadi sangat mahal pada awal abad ke-19. Harga durian yang melampaui harga selusin nanas menunjukkan bahwa buah ini sangat dihargai oleh orang Eropa pada masa itu.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kini durian mungkin hanya dianggap sebagai buah musiman yang dijual di pinggir jalan. Namun, ratusan tahun lalu, buah asal Indonesia ini pernah menjadi barang mewah yang dihargai lebih mahal dibanding salah satu simbol kemewahan masyarakat Eropa. Durian telah menjadi bagian dari sejarah perdagangan dan kuliner dunia. Bahkan, hingga saat ini, durian masih menjadi salah satu buah yang paling populer di Asia Tenggara.

Dengan demikian, durian tidak hanya sekedar buah, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat penting. Oleh karena itu, kita harus terus melestarikan dan mempromosikan keunikan durian kepada dunia. Dengan begitu, durian dapat terus menjadi salah satu buah yang paling dicintai oleh masyarakat dunia.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dalam beberapa tahun terakhir, durian telah menjadi semakin populer di seluruh dunia. Banyak negara yang telah mulai menanam durian sebagai salah satu komoditas unggulan. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi dalam mengembangkan industri durian. Oleh karena itu, kita harus terus bekerja sama untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas durian, serta mempromosikan keunikan durian kepada dunia.

Dengan kerja sama dan komitmen yang kuat, kita dapat menjadikan durian sebagai salah satu buah yang paling unggul di dunia. Durian dapat menjadi salah satu komoditas yang dapat membantu meningkatkan perekonomian Indonesia dan negara-negara lain di Asia Tenggara. Oleh karena itu, kita harus terus melestarikan dan mengembangkan industri durian untuk masa depan yang lebih baik.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260624112746-25-745306/buah-asli-ri-ini-dijual-lebih-mahal-dari-barang-mewah-di-eropa, without altering the facts of the original article.

BEI Lakukan Review Papan Pemantauan Khusus, Integritas Pasar Diutamakan

Evaluasi dan Penyempurnaan Kebijakan

Evaluasi terhadap implementasi Papan Pemantauan Khusus menunjukkan adanya perubahan pola aktivitas perdagangan pada sejumlah saham, khususnya saham yang masuk berdasarkan kriteria nonfundamental, yaitu kriteria 6, 7, dan 10. Pada saham yang masuk karena belum memenuhi ketentuan free float (kriteria 6) dan pada saham yang dikenakan penghentian sementara perdagangan akibat aktivitas perdagangan (kriteria 10), hasil evaluasi menunjukkan efektivitas yang berbeda. Evaluasi ini menjadi dasar bagi BEI untuk melakukan penyesuaian terhadap beberapa ketentuan agar mekanisme pengawasan perdagangan dapat berjalan semakin efektif, adaptif, dan berkelanjutan.

Mengapa Penyempurnaan Kebijakan Ini Penting?

Penyempurnaan kebijakan ini penting karena pasar modal yang sehat dibangun melalui tata kelola yang adaptif dan kebijakan yang terus disempurnakan sesuai dinamika pasar. BEI secara konsisten melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang telah diterapkan agar senantiasa efektif dalam mendukung terciptanya pasar modal Indonesia yang teratur, wajar, efisien, transparan, serta memberikan pelindungan yang optimal bagi investor. Dengan demikian, penyempurnaan kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan menjaga stabilitas pasar modal.

Apa yang Diubah dan Bagaimana Dampaknya?

Berdasarkan hasil evaluasi, BEI mengusulkan penghapusan kriteria 6, 7, dan 10, penyesuaian terhadap kriteria 11, serta penyempurnaan mekanisme perdagangan pada Papan Pemantauan Khusus. Penyempurnaan tersebut dilakukan untuk menyelaraskan kebijakan dengan perkembangan kondisi pasar, berbagai kebijakan lain yang telah diterapkan, serta masukan dari para pelaku industri dan pemangku kepentingan. Selain itu, BEI juga mengusulkan perubahan mekanisme perdagangan melalui penerapan batas atas dan bawah Auto Rejection yang lebih berjenjang pada Papan Pemantauan Khusus. Penyesuaian tersebut diharapkan membuat mekanisme Auto Rejection lebih selaras dengan karakteristik masing-masing kelompok harga saham sehingga mendukung proses pembentukan harga yang lebih wajar, meningkatkan kualitas likuiditas, serta menciptakan perdagangan yang lebih teratur, wajar, dan efisien.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Penyempurnaan kebijakan Papan Pemantauan Khusus merupakan langkah berkelanjutan dalam menjaga integritas dan kualitas pasar modal Indonesia. BEI masih harus terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan kebijakan untuk memastikan bahwa pasar modal Indonesia tetap sehat, stabil, dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh pemangku kepentingan. Dengan komitmen yang kuat dan kebijakan yang adaptif, BEI diharapkan dapat menjaga kepercayaan investor dan meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia ke depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708191238-17-749262/perkuat-integritas-pasar-bei-review-papan-pemantauan-khusus, without altering the facts of the original article.

Laba Bersih PalmCo Meroket 90,3%, Tembus Rp 7,08 T

Laba bersih PalmCo, subholding BUMN perkebunan PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV), melonjak 90,3% menjadi Rp 7,08 triliun pada tahun buku 2025. Kinerja ini ditopang oleh kenaikan produksi minyak sawit mentah (CPO), efisiensi operasional, serta penguatan fundamental bisnis. PalmCo berhasil meningkatkan laba bersihnya dari Rp 3,72 triliun pada tahun 2024.

Faktor yang Mendorong Kenaikan Laba

Menurut Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Santosa, peningkatan laba bersih ini didorong oleh beberapa faktor, termasuk kenaikan produksi CPO, efisiensi operasional, dan dampak penguatan fundamental bisnis. Harga jual rata-rata CPO pada tahun 2025 juga meningkat menjadi Rp 14.223 per kilogram, atau 10,4% lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.

PalmCo berhasil memproduksi 2,70 juta ton CPO sepanjang 2025, meningkat 7,87% dibandingkan produksi tahun sebelumnya yang mencapai 2,49 juta ton. Peningkatan produksi dan efisiensi biaya menjadi tulang punggung perusahaan dalam meningkatkan laba bersihnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kenaikan laba bersih ini menunjukkan bahwa PalmCo telah berhasil meningkatkan kinerjanya secara signifikan. Perusahaan ini terus melakukan evaluasi terhadap aspek operasional, penguatan manajemen risiko, serta peningkatan efisiensi guna menjaga keberlanjutan kinerja. PalmCo juga memastikan pertumbuhan perusahaan sejalan dengan produktifitas dan kesejahteraan petani mitra.

Pada tahun 2025, PTPN IV PalmCo tercatat sebagai perusahaan paling aktif secara nasional dengan 6.672 hektare pendampingan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Petani plasma binaan juga mampu meraih produktifitas mumpuni di atas standar nasional mencapai rata-rata 20,18 ton TBS per hektar per tahun.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski telah mencapai kinerja yang luar biasa, PalmCo menyatakan bahwa hasil tersebut bukan merupakan akhir dari proses transformasi. Perusahaan akan terus melakukan pengembangan hilirisasi industri sawit, termasuk optimalisasi produk turunan sawit sebagai bahan baku renewable biogasoline untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Dengan kinerja yang terus meningkat, PalmCo diharapkan dapat terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam meningkatkan kinerja dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708193148-17-749271/naik-903-palmco-bukukan-laba-bersih-rp708-t, without altering the facts of the original article.

BRI Catat CASA Tembus Rp 1.058,6 T, Cost of Fund Malah Terkendali

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sukses mencatat Current Account Saving Account (CASA) tembus Rp 1.058,6 triliun pada Triwulan I 2026, dengan cost of fund yang terkendali. Pencapaian ini merupakan hasil dari strategi penguatan struktur pendanaan yang efisien dan berkelanjutan. BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.555,1 triliun, tumbuh 9,4% secara tahunan. CASA konsolidasian mencapai 68,07% dari total DPK, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penguatan Struktur Pendanaan

BRI menunjukkan keberhasilan transformasi bisnis melalui penguatan struktur pendanaan yang semakin efisien dan berkelanjutan. Strategi yang berfokus pada peningkatan dana murah (CASA) berhasil mendorong penurunan biaya dana (cost of fund / CoF) sekaligus memperkuat kualitas pertumbuhan bisnis Perseroan di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan. Perbaikan struktur pendanaan ini mencerminkan kemampuan BRI dalam mengelola biaya dana secara lebih optimal.

Capaian dan Proyeksi

Hingga Maret 2026, BRI berhasil menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4% secara tahunan (year-on-year/yoy). Dari jumlah tersebut, CASA (konsolidasian) kian mendominasi hingga mencapai Rp 1.058,6 triliun atau setara dengan 68,07% dari total DPK, meningkat dibandingkan 65,77% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Efisiensi pendanaan juga terlihat dari penurunan cost of fund BRI yang turun dari 2,98% pada Triwulan I 2025 menjadi 2,33% pada Triwulan I 2026 atau turun sebesar 65 basis poin.

Mengapa dan Dampak

Penguatan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) menjadi salah satu strategi utama dalam program transformasi yang tengah dijalankan Perseroan. Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan. Adapun tingginya volume transaksi terjadi pada berbagai kanal digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI. Dengan fondasi yang semakin kuat, BRI dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan pengelolaan risiko.

Penguatan struktur pendanaan tersebut turut menopang kinerja Perseroan secara keseluruhan. Hingga Triwulan I 2026, total aset BRI Group tumbuh 7,2% YoY mencapai Rp 2.250 triliun, sementara kredit dan pembiayaan tumbuh 13,7% menjadi Rp 1.562 triliun. Pada periode yang sama, laba bersih konsolidasian Perseroan meningkat 13,7% menjadi Rp 15,5 triliun.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dengan capaian yang telah diraih, BRI diharapkan dapat terus meningkatkan kinerja dan menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas dan berkelanjutan. Danantara terus mendorong transformasi menyeluruh pada perusahaan-perusahaan BUMN agar memiliki fundamental bisnis yang kuat dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat, BUMN akan memiliki daya saing yang lebih tinggi dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708200630-17-749287/sukses-tekan-cost-of-fund-casa-bri-tembus-rp10586-t, without altering the facts of the original article.

Pajak di PFII Bakal Setara Global, Pemerintah Beri Jaminan

Pemerintah Pastikan Rezim Pajak di PFII Sesuai Standar Global

Pemerintah Indonesia telah memastikan bahwa kebijakan pajak di PFII nantinya akan sesuai dengan standar global. Hal ini disampaikan oleh Herman Saheruddin, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan. Menurutnya, ketentuan pajak di PFII akan termasuk penerapan pajak minimum global (GMT) sebagaimana yang ditetapkan di pusat keuangan internasional lainnya. Sebelumnya, Ahli Hukum Bisnis sekaligus Guru Besar Hukum Dagang di Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Paripurna P. Sugarda, mengungkapkan bahwa skema fasilitas perpajakan sangat menentukan dalam memberikan daya tarik terhadap investor. Menurutnya, jika Indonesia ingin membentuk PFII dan bisa bersaing dengan pusat keuangan internasional lainnya, seperti Dubai, maka tarif pajaknya harus ditinjau dari 0%. Pasalnya, Dubai telah memiliki tarif pajak yang rendah, yaitu 0% untuk Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi dan 0-9% untuk PPh Badan.

Fasilitas Perpajakan yang Diberikan

Pemerintah berencana memberikan sejumlah fasilitas perpajakan di PFII, termasuk pengurangan PPh Badan sebesar 100%, pengurangan PPh bagi tenaga ahli, pengecualian sebagai subjek pajak dalam negeri, dan pembebasan pemotongan atau pemungutan. Selain itu, pemerintah juga berencana memberikan fasilitas PPN tidak dipungut dan pengecualian PPnBM. Fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia dibandingkan dengan pusat keuangan global lainnya. Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, mengungkapkan bahwa pemerintah dan DPR tengah membahas penerapan tarif pajak hingga 0% guna meningkatkan daya saing Indonesia. Menurutnya, skema tersebut akan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan global untuk menjadikan Indonesia sebagai basis operasional maupun pusat investasi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan demikian, PFII diharapkan dapat menjadi pusat keuangan yang kompetitif di tingkat global. Pemerintah berharap bahwa dengan memberikan fasilitas perpajakan yang menarik, Indonesia dapat menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, PFII juga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jalan panjang masih harus ditempuh untuk mewujudkan PFII sebagai pusat keuangan yang kompetitif. Namun, dengan komitmen pemerintah untuk memberikan fasilitas perpajakan yang menarik, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saingnya di tingkat global.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708174128-17-749251/pemerintah-pastikan-rezim-pajak-di-pfii-akan-sesuai-standar-global, without altering the facts of the original article.

Raksasa Investasi RI: Pemerintah Incar Dana Rp 500 T dari PFII

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menargetkan dana asing yang akan masuk ke dalam Pusat Financial Internasional Indonesia (PFII) sebesar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun. Target ini diharapkan dapat tercapai jika PFII mampu bersaing dengan pusat finansial negara lainnya seperti Singapura dan Dubai. Pemerintah memperkirakan dana asing ini akan masuk dalam bentuk investasi global, termasuk pembukaan kantor cabang di Indonesia. Dengan demikian, PFII diharapkan dapat menjadi salah satu pusat finansial internasional yang signifikan.

Pemerintah Incar Dana Rp 500 T dari PFII

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Kemenkeu, Herman Saheruddin, mengungkapkan bahwa pemerintah masih melakukan estimasi untuk target dana asing yang akan masuk ke PFII. “Gambaran awal, intinya kita masih estimasikan ya, kita estimasikan kalau dari perhitungan kita, moderat sekitar Rp300 hingga Rp500 triliun,” kata Herman saat ditemui wartawan di gedung DPR RI, Rabu (8/7/2026). Estimasi ini didasarkan pada asumsi bahwa PFII dapat bersaing dengan pusat finansial negara lainnya.

Tantangan dan Peluang

Menurut Herman, keberhasilan PFII dalam menarik dana asing sangat bergantung pada kemampuan Indonesia untuk bersaing dengan pusat finansial lainnya. “Tapi kan sekali lagi, itu semua tergantung dari asumsikan kita dapat bersaing dengan pusat finansial seperti di Singapura, Dubai, dan lain-lainnya,” lanjut Herman. Jika target ini tercapai, maka dampaknya akan signifikan bagi perekonomian Indonesia. Investasi global yang masuk diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Jika PFII berhasil menarik dana asing sebesar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun, maka hal ini akan memiliki dampak yang signifikan bagi perekonomian Indonesia. Pertama, investasi global yang masuk diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kedua, pembukaan kantor cabang di Indonesia diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Ketiga, PFII diharapkan dapat menjadi salah satu pusat finansial internasional yang signifikan, sehingga meningkatkan reputasi Indonesia sebagai negara dengan perekonomian yang stabil dan berkembang.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pemerintah masih memiliki jalan panjang untuk mencapai target tersebut. Pemerintah harus terus meningkatkan kemampuan Indonesia untuk bersaing dengan pusat finansial lainnya. Selain itu, pemerintah juga harus memastikan bahwa infrastruktur dan regulasi yang mendukung PFII sudah siap. Dengan demikian, PFII diharapkan dapat menjadi salah satu pusat finansial internasional yang signifikan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708174821-17-749253/pemerintah-ri-target-dana-investor-masuk-pfii-bisa-mencapai-rp-500-t, without altering the facts of the original article.

IHSG Gagal Menguat, Ditutup di Level 5.873 dengan Penurunan 1,89%

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal menguat pada perdagangan Selasa (7/7/2026), ditutup di level 5.873,37 atau turun 113,12 poin (1,89%) dari penutupan sebelumnya di level 5.986,50. Penurunan ini menghentikan tren penguatan enam hari beruntun di tengah optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar saham domestik. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 10,55 triliun dengan volume perdagangan mencapai 22,70 miliar saham dalam 1,97 juta kali transaksi.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada akhir sesi kedua, sebanyak 191 saham berada di zona hijau, sementara 482 saham melemah dan 116 saham bergerak stagnan. Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku, properti, dan konsumer. Emiten yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini termasuk BBCA, BBRI, AMMN, BMRI, dan BREN. Adapun emiten yang menopang IHSG dari pelemahan yang lebih dalam adalah TLKM, JECX, UNTR, dan ENRG.

Apa yang Membuat IHSG Anjlok?

Sentimen buruk pasar keuangan Indonesia hari ini khususnya datang dari peringatan S&P Global Indices. Lembaga penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) kembali mempertahankan status Bursa Efek Indonesia (BEI) pada klasifikasi Emerging Market alias pasar berkembang. Namun, dalam pengumuman terbaru itu, lembaga tersebut juga memberikan ancaman berat apabila sejumlah permasalahan di pasar modal domestik tak kunjung selesai. Indonesia kini masuk daftar pantauan lembaga indeks tersebut untuk kemungkinan perubahan klasifikasi pada review tahunan 2027 mendatang.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Peringatan S&P DJI ini datang di tengah tekanan serupa dari lembaga indeks global lainnya, MSCI, yang justru lebih dulu menyorot tajam bursa RI. Dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis akhir Juni 2026, MSCI memang mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market. Namun, MSCI menurunkan peringkat kriteria Information Flow (arus informasi) Indonesia – dari kategori tanpa masalah menjadi kategori yang perlu perbaikan. MSCI menyoroti tiga persoalan struktural yang nyaris sama persis dengan kekhawatiran S&P: opasitas atau ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, indikasi pola perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga, serta minimnya ketersediaan informasi berbahasa Inggris bagi investor asing.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kabar baiknya, S&P DJI menilai otoritas di Indonesia – mulai dari OJK hingga BEI – telah mengambil sejumlah langkah regulasi untuk membenahi persoalan tersebut. Namun, S&P memberi catatan tegas: jika permasalahan tak kunjung tuntas, Indonesia berpotensi dikenai Special Measures atau bahkan direklasifikasi menjadi Frontier Market pada review 2027. Sebaliknya, jika transparansi dan likuiditas pasar membaik, sentimen positif akan mengalir dan status Emerging Market Indonesia berpeluang dipertahankan. Dengan demikian, pelaku pasar harus terus memantau perkembangan pasar saham domestik dan berharap pada perbaikan yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708232519-17-749319/ihsg-putus-tren-penguatan-ditutup-anjlok-189-ke-level-5873, without altering the facts of the original article.

IHSG Ambles 1,89%, Asing Diam-diam Buang Saham Ini

Momen Penentu di Menit Akhir

Mengacu data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 113,13 poin atau 1,89% ke level 5.873,37. Posisi tersebut hanya terpaut sekitar 1,35 poin dari level terendah intraday di 5.872,02, menandakan tekanan jual bertahan hingga penutupan perdagangan. Nilai transaksi mencapai Rp10,54 triliun dengan volume perdagangan 21,18 miliar saham. Sebanyak 195 saham menguat, 512 saham melemah, dan 256 saham bergerak stagnan. Investor asing tercatat membukukan net sell sebesar Rp689,3 miliar di seluruh pasar. Total nilai beli asing mencapai Rp3,454 triliun, sementara nilai jual mencapai Rp4,144 triliun. Saham MAPI menjadi sasaran utama aksi jual asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp425,6 miliar, menjadikannya emiten dengan net sell terbesar pada perdagangan kemarin.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Di bawah MAPI, saham yang juga banyak dilepas asing antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp142,2 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp62,4 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp59,6 miliar, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) Rp21 miliar. Aksi jual asing juga terlihat pada sejumlah saham siklikal dan komoditas seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR), PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), hingga PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian ini menunjukkan bahwa investor asing masih memiliki sikap wait and see terhadap pasar saham Indonesia. Aksi jual asing yang signifikan dapat mempengaruhi sentimen pasar dan membuat IHSG tetap di bawah tekanan. Selain itu, kejadian ini juga menunjukkan bahwa saham-saham siklikal dan komoditas masih memiliki risiko penurunan harga.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Untuk meningkatkan kepercayaan investor, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas perusahaan, serta meningkatkan kualitas tata kelola. Selain itu, pemerintah dan regulator juga perlu melakukan upaya untuk meningkatkan stabilitas pasar dan mengurangi risiko penurunan harga. Dengan demikian, IHSG dapat kembali menguat dan mencapai level yang lebih tinggi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708204222-17-749303/ihsg-terjun-189-asing-ketahuan-buang-saham-ini, without altering the facts of the original article.

Laba BTN Rp1,85 T di Mei 2026, Kinerja Perusahaan Masih Moncer

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) membukukan laba bersih sebesar Rp1,85 triliun hingga Mei 2026, meningkat 54,37% secara tahunan (year-on-year/yoy). Pencapaian ini menunjukkan transformasi bisnis yang dijalankan perseroan mampu memperkuat fundamental bisnis sekaligus menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan industri perbankan. BTN Kantongi Laba Rp1,85 T hingga Mei 2026. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan transformasi yang dijalankan mulai memberikan hasil nyata.

Laba Bersih yang Signifikan

Menurut laporan keuangan bulanan hingga Mei 2026, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) BTN meningkat 15,15% yoy menjadi Rp7,13 triliun dari Rp6,19 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi intermediasi, total kredit dan pembiayaan BTN mencapai Rp403,06 triliun hingga Mei 2026 atau tumbuh 9,97% yoy, dibandingkan Rp366,52 triliun pada Mei 2025.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp433,95 triliun, naik 9,09% yoy dari Rp397,78 triliun. Perseroan juga mencatatkan peningkatan profitabilitas operasional. Laba operasional konsolidasi mencapai Rp2,39 triliun, meningkat 58,37% yoy dibandingkan Rp1,51 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Transformasi Bisnis yang Berhasil

Adapun pre-provision operating profit (PPOP) BTN Group tumbuh 20,07% yoy menjadi Rp3,98 triliun. BTN menyebut kinerja tersebut berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bersih bank umum nasional hingga Mei 2026 tumbuh 4,96% yoy, sementara laba bersih konsolidasi BTN meningkat 54,37% yoy.

Apa Artinya Ini ke Depan?

BTN menyatakan akan terus mempercepat transformasi bisnis melalui penyederhanaan proses bisnis, penguatan tata kelola, modernisasi infrastruktur teknologi informasi, percepatan digitalisasi layanan, serta optimalisasi sinergi dalam ekosistem Danantara Indonesia. Menurut Nixon, transformasi BTN menjadi bank beyond mortgage merupakan langkah strategis untuk memperluas sumber pertumbuhan sekaligus menghadirkan layanan keuangan yang lebih relevan bagi masyarakat.

BTN tidak lagi hanya berfokus pada pembiayaan rumah. Kami terus memperluas peran sebagai bank yang mendampingi kebutuhan finansial masyarakat di setiap tahap kehidupan, mulai dari mewujudkan kepemilikan rumah, mendukung berbagai kebutuhan gaya hidup, hingga mempersiapkan masa pensiun.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kinerja BTN yang meningkat ini menunjukkan bahwa transformasi bisnis yang dijalankan perseroan telah membawa hasil yang signifikan. Dengan terus mempercepat transformasi bisnis dan meningkatkan kualitas layanan, BTN diharapkan dapat mempertahankan momentum pertumbuhan dan meningkatkan kontribusinya dalam industri perbankan nasional.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708214352-17-749308/btn-kantongi-laba-rp185-t-hingga-mei-2026, without altering the facts of the original article.

IHSG Anjlok, Ternyata Asing Masih Berburu Saham Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,89% pada perdagangan Selasa (8/7/2026), namun investor asing masih melakukan aksi akumulasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. IHSG anjlok, tetapi asing masih berburu saham tertentu. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan net sell sebesar Rp689,3 miliar di seluruh pasar. Meski demikian, sejumlah saham masih mencatatkan arus dana asing masuk (net buy).

Momen Penentu di Menit Akhir

Saham BBCA menjadi incaran utama investor asing dengan nilai beli bersih mencapai Rp251,9 miliar. Di posisi kedua terdapat PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) dengan net buy Rp41 miliar, disusul PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) sebesar Rp33,3 miliar dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rp15,5 miliar. Sementara itu, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) mencatatkan net buy asing sebesar Rp12,5 miliar.

Apa yang Terjadi pada IHSG?

IHSG ditutup melemah 1,89% pada perdagangan Selasa (8/7/2026). Hal ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sedang mengalami tekanan. Namun, investor asing masih melakukan aksi akumulasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan IHSG yang melemah, namun investor asing masih melakukan aksi akumulasi pada sejumlah saham, menunjukkan bahwa investor asing masih memiliki kepercayaan pada pasar saham Indonesia. Sektor perbankan masih menjadi incaran utama investor asing, karena masih memiliki fundamental yang kuat dan prospek yang baik ke depan. Namun, investor harus tetap waspada dan memantau perkembangan pasar saham Indonesia ke depan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kedepan, investor harus tetap memantau perkembangan pasar saham Indonesia dan melakukan analisis yang tepat sebelum melakukan aksi investasi. IHSG masih memiliki potensi untuk rebound, namun investor harus tetap waspada dan tidak terlalu agresif dalam melakukan aksi investasi. Dengan demikian, investor dapat meminimalkan risiko dan memaksimalkan keuntungan ke depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260708213254-17-749307/saat-ihsg-anjlok-asing-ternyata-berburu-saham-ini, without altering the facts of the original article.