Kisah Pengusaha RI yang Sukses Besar usai Rajin ke Gunung Kawi

Gunung Kawi, sebuah destinasi ziarah yang dipercaya membawa keberuntungan, telah menjadi tempat yang sering dikunjungi oleh pengusaha Indonesia. Salah satu pengusaha yang tercatat rutin berkunjung ke tempat tersebut adalah pendiri perusahaan rokok Bentoel, Ong Hok Liong, yang kemudian tumbuh menjadi miliarder.

Kisah Sukses Ong Hok Liong

Ong Hok Liong rajin berkunjung ke Gunung Kawi yang di dekat Malang untuk memohon kepada Eyang Jugo dan Iman Soedjono agar bisnisnya sukses. Salah satu kunjungan Ong ke Gunung Kawi pada sekitar 1954 kemudian menjadi kisah yang paling dikenal. Saat berziarah, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Tanpa ada cerita apapun di mimpinya. Namun, setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam.

Menurut penuturan sang juru kunci, mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokok yang saat itu belum berkembang. Atas tafsir mimpi tersebut, dia kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel. Bentoel merupakan sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas yang dia lihat dalam mimpi.

Momen Penentu di Menit Akhir

Saat itu, Ong merupakan pemilik pabrik rokok bernama Strootjes-Fabriek Ong Hok Liong yang tak begitu laku. Namun, setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokoknya terus meningkat. Perusahaan juga berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kisah sukses Ong Hok Liong membuat nama Gunung Kawi semakin lekat dengan cerita tentang keberuntungan. Hingga kini, tempat itu masih didatangi banyak peziarah yang berharap memperoleh kelancaran usaha maupun rezeki. Bagi pengusaha, kisah Ong Hok Liong dapat menjadi inspirasi untuk terus berinovasi dan mencari peluang baru.

Selain itu, keberhasilan Bentoel juga menunjukkan bahwa keberuntungan dapat diperoleh melalui kerja keras dan ketekunan. Perusahaan rokok Bentoel kemudian terus berkembang hingga akhirnya diakuisisi oleh British American Tobacco pada 2009. Sepeninggal Ong, perusahaan diteruskan oleh anak-anaknya, termasuk Budhiwijaya Kusumanegara yang menjabat sebagai presiden direktur.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, perjalanan bisnis Ong membuat nama Gunung Kawi semakin lekat dengan cerita tentang keberuntungan. Bagi para pengusaha, Gunung Kawi dapat menjadi destinasi ziarah yang membawa inspirasi dan motivasi untuk mencapai kesuksesan. Dengan demikian, kisah Ong Hok Liong akan terus menjadi contoh bagi pengusaha Indonesia untuk terus berinovasi dan mencari peluang baru.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260706105209-25-748306/pengusaha-ri-ini-rajin-ke-gunung-kawi-dan-berujung-jadi-miliarder, without altering the facts of the original article.

Merawat Hutan Ranjuri Sigi Lewat Batik Valiri, Warga Lokal Ungkap Upaya Konservasi

Di tengah hutan seluas sekitar sembilan hektare, terdapat komunitas yang merawat hutan sekaligus memberdayakan diri sendiri dengan membuat batik. Batik Valiri, nama yang diberikan pada usaha ini, menjadi cara warga Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, untuk merawat Hutan Ranjuri. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan pendekatan kontemporer, Batik Valiri tidak hanya melestarikan budaya tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal.

Merawat Hutan dengan Batik

Pendiri Batik Valiri, Afrianto atau Anto, merintis usahanya pada 2019 setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan batik di Kota Palu. Ia melihat bahwa kekayaan alam, budaya, dan sejarah Sigi belum banyak diangkat ke dalam kain batik. “Selama ini batik identik dengan motif Jawa. Padahal di Sigi, kita punya kekayaan alam, budaya, dan sejarah yang sangat kuat. Dari hutan Ranjuri saja, yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari tempat produksi, saya melihat ada banyak hal yang bisa diangkat, termasuk pewarna alami yang bisa dikembangkan dari tanaman di dalam hutan purba tersebut,” ujar Anto.

Valiri berasal dari Bahasa Kaili, yang berarti ‘jadi di sini’. Nama itu merujuk pada kawasan sekitar Hutan Ranjuri, tempat masyarakat sejak lama menggantungkan hidup, menghidupkan nilai budaya, dan menjaga sistem pengetahuan lokal. Hutan bagi masyarakat adat Kaili bukan hanya sebagai penyangga ekologis yang melindungi desa dari banjir bandang dan kekeringan, tetapi juga menjadi sumber air, sumber inspirasi motif, dan sumber bahan pewarna alami.

Menggali Inspirasi dari Alam

Alam dan sekitarnya menjadi inspirasi utama motif Batik Valiri. Setiap pola bukan hanya ornamen visual, tetapi menyimpan filosofi dan identitas daerah. Motif taiganja, misalnya, melambangkan kesuburan dan menggambarkan cinta serta ketulusan hati. Dalam tradisi Kaili, taiganja merupakan benda sakral berbentuk menyerupai liontin yang digunakan dalam upacara adat dan sering menjadi mahar pernikahan. Melalui Batik Valiri, makna taiganja yang mulai jarang dikenal dihidupkan kembali agar dapat dipahami dalam konteks budaya masa kini.

Selain taiganja, Batik Valiri juga mengangkat motif Pohon Rau dari Hutan Ranjuri, daun kelor, senjata tradisional guma, hingga jejak megalitik yang tersebar di wilayah Sigi. Semua motif ini menjadi pintu masuk untuk mengenal kekayaan alam, sosial, dan sejarah Sigi.

Mengapa Batik Valiri Penting?

Mengapa Batik Valiri menjadi penting? Pertama, usaha ini merupakan upaya nyata dalam melestarikan budaya dan alam Sigi. Dengan menggunakan pewarna alami dari tanaman di Hutan Ranjuri, Batik Valiri turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan. Kedua, Batik Valiri memberdayakan masyarakat lokal dengan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan meningkatkan pendapatan.

Dampak dari Batik Valiri ke depan sangat signifikan. Usaha ini tidak hanya membantu melestarikan budaya dan alam, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan budaya. Dengan demikian, Batik Valiri menjadi contoh yang baik dalam menggabungkan pelestarian budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Batik Valiri kini menjadi bagian dari transformasi Kabupaten Sigi menuju kabupaten lestari dengan menghadirkan praktik ekonomi yang berkelanjutan. Usaha ini masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh, tetapi dengan komitmen dan kerja sama dari masyarakat, Batik Valiri dapat menjadi contoh yang baik dalam melestarikan budaya dan alam sambil memberdayakan masyarakat lokal.

Kedepannya, Batik Valiri berencana untuk terus mengembangkan bisnisnya lewat paket ekowisata berbasis pengalaman. Wisatawan diajak menyusuri Hutan Ranjuri, mengenal filosofi motif, hingga mencoba langsung membatik. Dengan demikian, Batik Valiri tidak hanya menjadi usaha yang berkelanjutan tetapi juga menjadi sarana edukasi dan promosi kebudayaan Sigi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8240062/merawat-hutan-ranjuri-sigi-lewat-batik-valiri, without altering the facts of the original article.

5 Strategi Kemenkum Jabar Perkuat Kompetensi Perancang Regulasi Lewat Metode Omnibus

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum) Jawa Barat terus berupaya memperkuat kompetensi perancang regulasi di lingkungan kerjanya. Melalui metode omnibus, Kemenkum Jabar berencana meningkatkan kualitas produk hukum daerah maupun nasional. Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Jawa Barat, Asep Sutandar, menekankan pentingnya penguasaan metode omnibus bagi para perancang untuk menghasilkan regulasi yang lebih sederhana, harmonis, dan adaptif.

Strategi Kemenkum Jabar Perkuat Kompetensi Perancang Regulasi

Pada Jumat (3/7/2026), jajaran Jabatan Fungsional (JF) Perancang Peraturan Perundang-undangan di lingkungan Kanwil Kemenkum Jabar mengikuti kegiatan Pendalaman Materi bertajuk “Penggunaan Metode Omnibus dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan” secara virtual. Kegiatan ini diinisiasi oleh Divisi Peraturan Perundang-undangan dan Pembinaan Hukum yang dipimpin oleh Kepala Divisi Ferry Gunawan Christy, dengan menghadirkan narasumber utama Cahyani Suryandari, S.H., M.H., selaku Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Kerja Sama dan Hubungan Antar Lembaga pada Kementerian Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan sekaligus Ketua Ikatan Perancang Peraturan Perundang-undangan.

Momen Penentu di Menit Akhir

Kegiatan pendalaman materi ini merupakan salah satu upaya Kemenkum Jabar untuk meningkatkan kompetensi perancang regulasi di lingkungan kerjanya. Dalam pemaparannya, Cahyani Suryandari mengupas tuntas metode omnibus sebagai strategi penyusunan yang menggabungkan berbagai materi muatan multisektor ke dalam satu regulasi guna menghindari ego sektoral antar instansi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022, metode ini menjadi solusi efektif yang diakui secara hukum untuk mengubah atau mencabut berbagai aturan yang setingkat secara serentak.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keberhasilan penerapan metode omnibus ini pada akhirnya akan sangat bergantung pada proses pembentukan yang partisipatif, transparan, serta akuntabel dari seluruh pihak yang terlibat. Dengan demikian, produk hukum yang dihasilkan dapat lebih sederhana, harmonis, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, Kemenkum Jabar terus berupaya meningkatkan kompetensi perancang regulasi untuk menghasilkan regulasi yang berkualitas.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Mengingat pentingnya metode omnibus dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, Kemenkum Jabar masih memiliki jalan panjang untuk meningkatkan kompetensi perancang regulasi. Dengan terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan perancang regulasi, Kemenkum Jabar berharap dapat menghasilkan produk hukum yang lebih baik dan lebih efektif dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam konteks ini, metode omnibus menjadi salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/kemenkumham/1177569/kemenkum-jabar-perkuat-kompetensi-perancang-regulasi-lewat-bedah-metode-omnibus, without altering the facts of the original article.

Rencana Tol Cirebon-Kuningan-Ciamis Menggeliatkan Ekonomi Jabar, DPRD: Kunci Kemajuan Daerah

Kunci Kemajuan Daerah

Toto Suharto menilai Kabupaten Kuningan menjadi salah satu daerah yang paling diuntungkan dengan pembangunan jalan tol ini. Selain mempercepat mobilitas masyarakat, akses tol diyakini akan meningkatkan daya tarik investasi dan memperkuat sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan daerah. Adanya bangunan jalan tol tentu berdampak terhadap kualitas hidup masyarakat. Kemudahan akses dan sebuah peluang lebih besar dalam pendidikan dan layanan kesehatan hingga lapangan kerja.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan akses yang semakin mudah, Toto Suharto optimistis IPM Kabupaten Kuningan juga akan meningkat. Pembangunan jalan tol bukan hanya soal konektivitas, tetapi juga membuka peluang peningkatan kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan jalan tol Cirebon-Kuningan-Ciamis didesak masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) selanjutnya. Tercatat 226 PSN dan 24 Program Strategis Nasional yang ditetapkan pemerintah dalam Peraturan Menteri Koordinator (Permenko) Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Jawa Barat tercatat memiliki 34 PSN yang mencakup 32 PSN dan 2 Program Strategis Nasional. Kuningan baru disebutkan dalam PSN pembangunan bendungan. Namun demikian, pada dokumen Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat NOMOR:367/ KPTS/ M / 2023 Tentang Rencana Umum Jaringan Jalan Nasional Tahun 2020-2040, nama Kuningan kembali muncul dalam daftar rencana ruas jalan nasional jalan tol. Rute jalan tol ini menghubungkan Cirebon, Kuningan, hingga Tasikmalaya, dengan panjang 28 KM (Cirebon-Kuningan) dan 58 KM (Kuningan-Tasikmalaya). Rencana pembangunan jalan tol Cirebon-Kuningan-Ciamis diharapkan dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Jawa Barat. Dengan demikian, masyarakat Jawa Barat dapat menikmati peningkatan kualitas hidup dan kemajuan daerah yang lebih merata. Oleh karena itu, semua pihak harus bekerja sama untuk mewujudkan proyek ini menjadi kenyataan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1177570/rencana-tol-cirebonkuninganciamis-menghangat-dprd-jabar-dorong-realisasinya-demi-kemajuan-ekonomi, without altering the facts of the original article.

Depok Rasa Jepang: Jalan Margonda Dihiasi Tabebuya yang Bermekaran Indah

Depok kini memiliki wajah baru yang cantik. Jalan Margonda, Juanda, dan kawasan Grand Depok City (GDC) dihiasi dengan tabebuya yang bermekaran indah. Bunga tabebuya yang ditanam di sepanjang jalan tersebut kini mulai mekar, memberikan kesan yang sangat berbeda dari biasanya. Depok kini memiliki rasa Jepang yang kuat dengan kehadiran bunga-bunga tersebut.

Momen Penentu di Menit Akhir

Bunga tabebuya yang ditanam di sepanjang jalan Margonda, Juanda, dan kawasan Grand Depok City (GDC) kini mulai bermekaran. Hal ini membuat kota Depok memiliki daya tarik yang lebih kuat. Bunga tabebuya merupakan salah satu jenis bunga yang berasal dari Jepang dan memiliki keindahan yang sangat unik.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kehadiran bunga tabebuya di kota Depok diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keindahan dan kenyamanan lingkungan. Dengan adanya bunga-bunga tersebut, kota Depok diharapkan dapat menjadi lebih menarik dan nyaman untuk dikunjungi. Selain itu, kehadiran bunga tabebuya juga diharapkan dapat meningkatkan nilai estetika kota Depok dan membuatnya menjadi lebih bersaing dengan kota-kota lain.

Tabebuya sendiri merupakan salah satu jenis bunga yang mudah tumbuh dan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, perawatan bunga-bunga tersebut diharapkan dapat dilakukan dengan mudah dan efektif. Pemerintah kota Depok diharapkan dapat terus memperhatikan dan memelihara bunga-bunga tersebut agar dapat terus mekar dan memberikan keindahan bagi kota Depok.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Ke depannya, kota Depok diharapkan dapat terus meningkatkan daya tariknya dengan menambahkan fasilitas-fasilitas yang lebih baik. Dengan adanya bunga tabebuya yang bermekaran indah, kota Depok diharapkan dapat menjadi destinasi wisata yang lebih populer. Oleh karena itu, pemerintah kota Depok harus terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan dan fasilitas-fasilitas yang ada di kota Depok.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/fototravel/d-8562144/potret-depok-rasa-jepang-jalan-margonda-dihiasi-tabebuya-bermekaran, without altering the facts of the original article.

Rekayasa Lalu Lintas di Bandara Husein Sutan Palembang Mulai Diterapkan Hari Ini, Ini Rinciannya

Skema Perubahan Arus Lalu Lintas

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi, mengonfirmasi bahwa skema perubahan arus ini merupakan hasil koordinasi intensif dan rapat bersama dengan jajaran aparat kepolisian serta pihak Lanud Husein Sastranegara. Berdasarkan pantauan di lapangan, sejumlah pembatas jalan (water barrier) telah disiagakan di titik-titik krusial sekitar bandara. Jika sebelumnya akses jalan hanya menggunakan satu jalur, mulai hari ini petugas akan menguji coba pembukaan dua jalur alternatif di sisi kanan ruas jalan. Selain perubahan jalur utama, Dishub Kota Bandung juga menyiapkan area self drop off dan titik putar balik (U-turn) baru untuk mengurai potensi kemacetan.

Momen Penentu di Menit Akhir

Alur kendaraan dari arah pintu empat nantinya akan diarahkan masuk menuju Jalan Abdurahman Saleh, sebelum kemudian mengalir ke arah Jalan Pajajaran. Perubahan ini diharapkan dapat mengurangi kemacetan dan meningkatkan kelancaran arus lalu lintas di sekitar bandara. “Kalau tidak ada perubahan besok (hari ini) kita coba rekayasa lalu lintasnya. Keinginannya dari bandara sama Lanud itu nanti arah pintu masuk dari Pajajaran dibuka seperti biasa, jadi jalurnya tetap,” ujar Rasdian saat ditemui di Balai Kota Bandung.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Rekayasa lalu lintas ini tidak hanya berdampak pada kelancaran arus lalu lintas, tetapi juga pada estetika kawasan bandara. Dishub Kota Bandung tengah mengebut pemasangan rambu lalu lintas baru, petunjuk arah, hingga pengecatan pemarkaan jalan agar kawasan bandara terlihat lebih rapi dan estetis saat menyambut penumpang. “Jadi kesan pertama nanti saat bandara dibuka itu sudah siap dan harus bagus,” tegasnya. Dengan demikian, reaktivasi bandara diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan dan kenyamanan bagi penumpang.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Tata kelola lahan parkir tetap berada di bawah kewenangan penuh pihak Lanud Husein Sastranegara. Dishub Kota Bandung bertugas membantu sirkulasi keluar-masuk kendaraan serta mengatur rute transportasi umum, khususnya angkutan kota (angkot). Petugas memastikan angkot tidak akan diperkenankan masuk ke dalam area inti bandara, melainkan disediakan jalur khusus sebelum melewati gerbang dua. Di sisi lain, untuk layanan taksi bandara akan tetap beroperasi menggunakan skema regulasi yang sudah berjalan sebelumnya. Dengan persiapan yang matang, diharapkan reaktivasi bandara dapat berjalan lancar dan meningkatkan kualitas layanan bagi penumpang.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1177772/persiapan-reaktivasi-bandara-husein-uji-coba-rekayasa-lalu-lintas-mulai-berlaku-hari-ini, without altering the facts of the original article.

Reaktivasi Bandara Husein Selesai, PJU 100 Persen, Swasta Kelola Taksi Resmi

Perbaikan Jalan dan PJU

Pemkot Bandung juga sudah memasang Penerangan Jalan Umum (PJU) agar jalan di sepanjang kawasan Bandara Husein Sastranegara tidak gelap gulita. “Saya ingin memastikan bahwa jalan menuju bandara sudah layak, terutama pada malam hari,” ujar Farhan. Selain perbaikan jalan, Pemkot Bandung juga sudah memasang PJU 100 persen.

Pengelolaan Taksi dan Parkir

Terkait masalah parkir dan transportasi, pihaknya akan menyerahkan kepada pihak pengelola bandara karena untuk taksi harus dipikirkan siapa operatornya. “Yang jadi masalahnya operatornya siapa? Taksi yang boleh beroperasi di sana siapa? Nah itu mah saya serahkan sama mereka. Yang paling penting buat saya mah izinnya aman gak, kalau izinnya aman ya silahkan berjalan. Kalau izinnya gaj aman baru diamankan lah izinnya,” ujar Farhan. Dulunya, taksi di Bandara Husein Sastranegara dikelola oleh Primkop AU, tetapi saat ini sudah tidak beroperasi. Kemungkinan besar, pengelolaan taksi akan diserahkan kepada perusahaan swasta. “Selama ini kan kemarin-kemarin Primkop AU, katanya Primkop AU udah nggak beroperasional lagi. Nah, maka akan masuklah perusahaan swasta. Nah perusahaan swastanya siapa, kesepakatannya kayak apa, mangga gitu (sama pengelola),” katanya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan reaktivasi Bandara Husein Sastranegara, diharapkan dapat meningkatkan pelayanan transportasi udara di Jawa Barat. Selain itu, pengelolaan taksi dan parkir yang lebih baik diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan penumpang. “Parkir sama pihak bandara, kita mah akan mengutip 10 persen saja pokoknya, pajak. Kalau retribusi kan sudah kita tentukan,” ujar Farhan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meskipun reaktivasi Bandara Husein Sastranegara hampir rampung, masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Namun, dengan kerja sama antara Pemkot Bandung dan pihak pengelola bandara, diharapkan bandara ini dapat beroperasi dengan lancar dan memberikan pelayanan yang baik kepada penumpang. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, akan terus memantau perkembangan bandara ini untuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1177776/jalan-mulus-jelang-reaktivasi-bandara-husein-pju-rampung-100-persen-swasta-siap-kelola-taksi-resmi, without altering the facts of the original article.

Misteri Batu Bintana di Kampung Dalangan Terungkap, Simak Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah

Legenda asal usul Batu Bintana adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Sulawesi Tengah. Legenda ini berkisah tentang asal usul Batu Bintana yang berbentuk ular dulunya. Kisah ini masih diperbincangkan hingga kini dan menjadi bagian dari warisan budaya Sulawesi Tengah.

Asal Mula Legenda Batu Bintana

Menurut cerita rakyat, pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri yang tinggal di Kampung Dalagan. Suami istri ini bernama Kai Motoba dan Kele Monou. Pasangan suami istri ini sudah menikah sejak lama, namun mereka tidak memiliki keturunan sama sekali. Meskipun demikian, Kai Motoba dan Kele Monou tetap hidup bahagia bersama. Mereka selalu bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangga.

Suatu hari, Kai Motoba pamit kepada istrinya untuk pergi ke laut. Namun begitu tiba di pantai, matanya tertuju pada dua telur besar yang ada di bawah pohon kolopisok. Dirinya kemudian meletakkan semua peralatan pancingnya dan memutuskan untuk membawa kedua telur itu pulang. Sesampainya di rumah, Kai Motoba memberitahu sang istri terkait telur itu. Mereka kemudian memutuskan untuk merawat telur itu.

Momen Penentu: Ular yang Berubah menjadi Batu

Seminggu kemudian, Kai Motoba kembali mengecek telur itu dan menemukan dua ekor ular di sana. Pasangan suami istri ini kemudian merawat kedua ular itu selayaknya anak sendiri. Mereka selalu memberikan makanan terbaik untuk mereka. Saat Kai Motoba pulang dari kebun, kedua ular ini akan langsung menyambutnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua ular itu mulai tumbuh dewasa dan melupakan pesan Kai Motoba untuk tidak bertengkar dan tidak mendekat ke pantai.

Suatu ketika, kedua ular ini menemukan satu ekor rusa di tepi pantai dan berebut untuk memangsa ular itu. Perkelahian pun akhirnya terjadi. Mereka tidak lagi ingat dengan pesan Kai Motoba dulunya. Tidak lama kemudian, kedua ular tersebut kemudian berubah menjadi batu. Mereka mendapatkan hukuman karena tidak menjalankan pesan dari Kai Motoba.

Apa Artinya Ini bagi Masyarakat Sulawesi Tengah?

Legenda asal usul Batu Bintana ini memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Sulawesi Tengah. Kisah ini mengajarkan pentingnya untuk selalu mengingat dan menjalankan pesan yang diberikan oleh orang yang lebih tua atau yang lebih bijak. Selain itu, legenda ini juga menjadi bagian dari identitas budaya Sulawesi Tengah dan terus diperbincangkan hingga kini.

Kini, Batu Bintana menjadi salah satu destinasi wisata yang populer di Sulawesi Tengah. Masyarakat dapat belajar dari legenda ini dan menghargai warisan budaya yang dimiliki oleh daerah mereka.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Legenda asal usul Batu Bintana adalah salah satu contoh dari kekayaan budaya Sulawesi Tengah. Dengan memahami dan melestarikan warisan budaya seperti ini, masyarakat Sulawesi Tengah dapat terus menjaga dan mengembangkan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita harus terus melestarikan dan mempromosikan warisan budaya seperti Legenda Batu Bintana kepada generasi mendatang.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/07/05/legenda-asal-usul-batu-bintana-di-kampung-dalangan-cerita-rakyat-dari-sulawesi-tengah, without altering the facts of the original article.

Tol di Jawa Timur Ini Bukan Cuma Jalan Biasa, Juga Bisa Bernyanyi Seperti Manusia

Jalan Tol Ngawi-Kertosono-Kediri, sebuah ruas tol di Jawa Timur, menjadi perhatian publik karena keunikan yang dimilikinya. Tol ini dapat “bernyanyi” saat dilintasi kendaraan, membuat pengendara auto melek saat mendengarnya. Keunikan ini dihasilkan oleh marka jalan yang digunakan untuk bisa mengeluarkan bunyi.

Apa yang Terjadi?

Jalan Tol Ngawi-Kertosono-Kediri diresmikan pada Desember 2019 dan memiliki panjang 88,57 km. Tol ini menjadi salah satu tol unik di Indonesia, bahkan satu-satunya di Indonesia yang mengeluarkan bunyi saat dilewati kendaraan. Marka jalan berupa rumble strip atau pita penggaduh dipasang dengan tebal sekitar 3 milimeter dan ditata dengan jarak khusus yang sudah ditentukan. Ketika ban kendaraan melindas marka tersebut, timbul getaran taktil dan suara gemuruh yang merambat hingga ke kabin mobil.

Frekuensi nada ditentukan oleh pembagian kecepatan kendaraan dengan jarak antar marka. Terdapat dua titik utama singing road di ruas tol ini, yakni di KM 616 dan KM 644+200 Jalur B arah Madiun-Solo. Di KM 616, suara yang dihasilkan baru terdiri dari dua nada sederhana yang menyapa para pengendara. Sedangkan di KM 644+200, terdapat enam nada lengkap yang membentuk potongan melodi lagu “Happy Birthday To You”.

Mengapa dan Dampak

Tujuan utama pembuatan jalan bernada ini sebenarnya sengaja dirancang untuk mengembalikan fokus pengemudi yang mulai menurun akibat kelelahan di jalan lurus yang monoton. Ada sebuah fenomena bernama highway hypnosis, di mana pengemudi sering jenu sampai hilang kesadaran. Hal ini bisa dicegah dengan efek kejut dari melodi ini. Artinya, secara tidak langsung lagu tersebut bisa membuat pengemudi menjadi terjaga dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Dengan kecepatan stabil antara 80 hingga 100 km/jam, pengendara dapat menikmati melodi yang dihasilkan. Jika kecepatan kendaraan kurang atau lebih dari batas tersebut, maka nada yang dihasilkan akan terdengar sumbang atau tidak jelas. Keunikan ini diharapkan dapat membantu pengemudi agar tidak mengatuk saat berkendara, sehingga bisa tetap membuat mereka terjaga dan fokus selama berkendara di sepanjang ruas tol.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Jalan Tol Ngawi-Kertosono-Kediri merupakan contoh inovasi yang dapat meningkatkan keselamatan berkendara. Dengan keunikan yang dimiliki, tol ini dapat menjadi destinasi yang menarik bagi pengendara. Bagi pengemudi yang ingin melewati tol ini dan mendengar lagu yang “kelar” dari aspal, disarankan melaju dengan kecepatan stabil antara 80 hingga 100 km/jam.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/07/05/bukan-cuma-manusia-yang-bisa-bernyanyi-tol-di-jawa-timur-ini-juga-bisa-bernyanyi, without altering the facts of the original article.

Penemuan Spesies Katak Unik di Lereng Merapi, Ternyata Endemik Pulau Jawa yang Tersembunyi Bertahun-tahun

Penemuan spesies katak unik di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, telah menambah daftar kekayaan hayati Indonesia. Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi spesies baru katak semak endemik Pulau Jawa dari genus Philautus, yang diberi nama Philautus candrageni sp. nov. Spesies ini ditemukan setelah melalui penelitian lapangan dan analisis ilmiah yang berlangsung selama hampir satu dekade. Penemuan tersebut merupakan hasil penelitian tim dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN yang dipimpin Alamsyah Elang Nusa Herlambang.

Penelitian yang Berlangsung Selama Satu Dekade

Penelitian ini telah dilakukan sejak tahun 2017 hingga 2025 di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim peneliti tidak hanya mengumpulkan sampel langsung di alam, tetapi juga mempelajari koleksi spesimen yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Zootaxa Volume 5768 edisi Maret 2026.

Ciri Khas Philautus candrageni

Philautus candrageni memiliki sejumlah karakter yang membedakannya dari spesies katak semak lain yang masih berkerabat. Perbedaan tersebut terlihat dari bentuk tubuh, struktur kepala, hingga pola suara yang digunakan saat musim kawin. ” Philautus candrageni memiliki ciri tubuh berukuran sedang, struktur kepala dengan canthus rostralis yang tegas, tekstur kulit dorsal relatif halus, serta pola panggilan kawin unik yang terdiri dari tiga nada berbeda,” ujar Alamsyah.

Mengapa Penemuan Ini Penting?

Penemuan Philautus candrageni ini merupakan bukti bahwa masih banyak spesies yang belum terdokumentasi secara ilmiah di Indonesia. Dengan ditemukannya spesies baru ini, jumlah katak semak endemik genus Philautus di Pulau Jawa kini bertambah menjadi empat spesies. Temuan tersebut memperkaya data keanekaragaman amfibi Indonesia sekaligus menunjukkan bahwa masih banyak spesies yang belum terdokumentasi secara ilmiah.

Apa Dampaknya bagi Konservasi?

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Philautus candrageni memiliki sebaran yang sangat terbatas. Katak ini hidup di kawasan lereng Gunung Merapi pada habitat perkebunan dan wilayah pegunungan berketinggian menengah. Sebaran yang sempit membuat spesies ini rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan. Oleh karena itu, penemuan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi dan perlindungan habitat alami spesies ini.

Kedekatan spesies ini dengan habitat yang rentan terhadap perubahan lingkungan menjadikan penelitian ini penting untuk upaya pelestarian hayati. Diharapkan, penemuan ini dapat menjadi perhatian bagi pihak terkait untuk terus melakukan upaya konservasi dan menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/07/06/spesies-baru-katak-semak-ditemukan-di-lereng-merapi-endemik-pulau-jawa-yang-sempat-tersembunyi-bertahun-tahun, without altering the facts of the original article.