Pendapatan UMKM dan ojol Merosot Tajam di Tengah Kabut Asap Kalimantan‑Sumatra, Pekerja Derita Sesak Napas dan Sakit Kepala
Karhutla, singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, telah menambah beban ekonomi bagi masyarakat kecil di Sumatra dan Kalimantan. Di tengah kabut asap yang menutupi langit, pendapatan UMKM dan pengemudi ojek online (ojol) merosot tajam, sementara kesehatan mereka terancam oleh polusi udara. Fenomena ini menyoroti dampak ekonomi dan sosial yang meluas, bukan hanya terbatas pada area terbakar.
Pengaruh Kabut Asap pada UMKM di Sumatra dan Kalimantan
Di Palangka Raya, pedagang soto yang biasanya menarik pelanggan dari pejalan kaki dan pekerja kantoran kini menghadapi penurunan kunjungan. Asap pekat membuat orang lebih memilih berbelanja di tempat yang lebih terjaga kebersihannya, sehingga omset harian soto turun lebih dari setengah dibandingkan musim sebelum karhutla. Begitu pula di Pekanbaru dan Banjarmasin, pengemudi ojol melaporkan penurunan pendapatan harian yang signifikan. Mereka tidak hanya kehilangan pelanggan karena penurunan aktivitas harian, tetapi juga harus menanggung biaya penggantian bahan bakar yang meningkat akibat kebutuhan perjalanan yang lebih panjang untuk mencapai pelanggan.
Penurunan pendapatan ini tidak hanya berdampak pada penghasilan harian, tetapi juga mempengaruhi kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pokok. Banyak keluarga kini kesulitan membayar tagihan rumah tangga, biaya pendidikan anak, dan kebutuhan pokok yang harganya melonjak. Peningkatan harga makanan pokok dan kebutuhan harian menambah beban ekonomi bagi keluarga yang pendapatannya sudah berkurang.
Kerugian Ekonomi yang Diukur oleh CELIOS
Center of Economic and Law Studies (CELIOS) melakukan penelitian yang menilai kerugian ekonomi akibat karhutla. Dalam periode Januari hingga Agustus 2026, kerugian ini mencapai Rp29,54 triliun. Kerugian tersebut meliputi dampak langsung pada aktivitas perdagangan, pertanian, serta sektor makanan dan minuman. Namun, CELIOS juga menunjukkan bahwa kerugian ini jauh melampaui lahan yang terbakar, karena karhutla menghantam perdagangan, jasa, produktivitas kerja, dan menambah biaya kesehatan masyarakat.
Kerugian ini mencakup hilangnya pendapatan dari penjualan produk lokal, penurunan produktivitas di sektor pertanian karena tanaman terpapar asap, serta biaya tambahan yang dikeluarkan oleh pelaku usaha untuk melindungi diri dan karyawan mereka dari polusi. Selain itu, penurunan aktivitas ekonomi juga berdampak pada sektor jasa, termasuk transportasi, pariwisata, dan layanan kesehatan.
Dampak Karhutla pada Pekerja Harian dan Produktivitas
Analisis senior dari Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menilai karhutla berpotensi menjadi salah satu faktor yang menahan aktivitas ekonomi di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran hutan dan lahan mengganggu perdagangan, pertanian, transportasi, pariwisata, serta produktivitas pekerja. Pekerja harian, khususnya pengemudi ojol, merasakan dampak paling berat karena aktivitas mereka sangat tergantung pada kondisi cuaca dan aksesibilitas jalan.
Selain menurunkan pendapatan, kabut asap juga mengganggu kesehatan pekerja. Pekerja sering mengalami sesak napas, sakit kepala, dan gejala alergi akibat paparan partikel berbahaya. Kondisi ini tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga meningkatkan biaya kesehatan, baik bagi individu maupun bagi sistem kesehatan publik. Pekerja yang harus mengunjungi fasilitas kesehatan menambah beban finansial, sementara waktu yang dihabiskan untuk perawatan kesehatan mengurangi waktu produktif yang dapat dihabiskan untuk pekerjaan.
Perubahan Pola Konsumsi dan Dampak Sosial
Karhutla memaksa perubahan pola konsumsi di masyarakat. Banyak konsumen mengalihkan belanja mereka ke produk yang dianggap lebih aman atau lebih murah, sehingga berdampak pada penurunan penjualan produk lokal. UMKM yang mengandalkan penjualan harian di pasar tradisional mengalami kesulitan karena pelanggan berkurang. Hal ini memaksa UMKM untuk mencari alternatif pemasaran, seperti penjualan online, yang memerlukan biaya tambahan dan keterampilan digital.
Perubahan pola konsumsi juga memengaruhi kesejahteraan sosial. Keluarga yang mengalami penurunan pendapatan harus membuat keputusan sulit tentang alokasi dana, seringkali memilih pengeluaran kebutuhan pokok di atas pendidikan atau kesehatan. Kondisi ini dapat memperlebar kesenjangan ekonomi dan menurunkan kualitas hidup jangka panjang.
Upaya Mitigasi dan Kebutuhan Kebijakan
Upaya mitigasi karhutla memerlukan pendekatan terpadu antara sektor publik dan swasta. Pemerintah daerah perlu menyediakan fasilitas kesehatan dan perawatan bagi pekerja yang terpapar asap. Selain itu, pelaku UMKM dan ojol membutuhkan dukungan modal dan pelatihan untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi baru. Penyedia layanan transportasi online dapat menawarkan paket kompensasi bagi pengemudi yang pendapatannya turun drastis.
Polisi lingkungan juga harus menegakkan peraturan kebakaran hutan dan lahan serta meningkatkan penegakan hukum terhadap pelanggaran. Dengan menurunkan frekuensi dan intensitas kebakaran, kabut asap dapat dikurangi, sehingga memulihkan kondisi ekonomi dan kesehatan masyarakat.
Kesimpulan: Tantangan dan Peluang di Tengah Karhutla
Karhutla di Sumatra dan Kalimantan tidak hanya menimbulkan krisis kesehatan, tetapi juga merusak fondasi ekonomi masyarakat kecil. Pendapatan UMKM dan ojol merosot tajam, sementara biaya hidup meningkat. Kerugian ekonomi mencapai Rp29,54 triliun dalam periode satu tahun, mencerminkan dampak luas yang melampaui lahan terbakar. Pekerja harian merasakan dampak paling berat, baik dari segi pendapatan maupun kesehatan.
Untuk mengatasi tantangan ini, dibutuhkan kebijakan terpadu yang melibatkan penegakan hukum kebakaran, dukungan kesehatan, dan program pelatihan ekonomi bagi UMKM dan ojol. Hanya melalui upaya bersama, Sumatra dan Kalimantan dapat mengurangi dampak karhutla dan memulihkan kesejahteraan masyarakat.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cm5yn28x5vz4o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.