Monolog Otto Iskandar Dinata Menghidupkan Kembali Sejarah di Asia Afrika Festival 2026
Monolog Otto Iskandar Dinata kembali menghidupkan sejarah di Asia Afrika Festival 2026. Karya yang dipersembahkan oleh Komunitas Teater Siediekdjari ini menjadi salah satu pertunjukan utama dalam helatan Asia Afrika Corner Stage and Soul. Melalui monolog berjudul “Mauk: Diujung Laut Diujung Maut”, penonton diajak melihat sisi lain dari sosok pahlawan nasional asal Bandung yang selama ini nyaris terlupakan.
Momen Penentu di Menit Akhir
Pertunjukan monolog ini digelar di panggung utama De Majestic dengan sorot lampu yang redup menyelimuti. Kursi kayu berwarna putih menjadi satu-satunya yang diterangi. Aktor yang membawa karakter Otto Iskandar Dinata muncul dengan membawa properti sederhana yang menjadi penanda perjalanan hidup sang pahlawan. Dialog mengalir pelan namun lugas, tanpa adegan heroik perang atau pidato perjuangan.
Otto Iskandar Dinata merupakan salah satu tokoh pahlawan nasional yang familiar, namun banyak orang hanya mengenalnya melalui nama jalan yang berada di tengah Kota Bandung. Melalui monolog ini, penonton dapat melihat sisi lain dari sosok yang selama ini nyaris terlupakan.
Apa yang Terjadi
Ide pertunjukan monolog ini berangkat dari kegelisahan sederhana. Banyak warga Bandung yang akrab dengan nama Otto Iskandar Dinata, tetapi hanya sebatas nama jalan. Sutradara Ilyas Noerwansyah atau yang dikenal dengan nama panggung Ilyas Mate, mengatakan bahwa ketika pihaknya membahas tentang Bandung, akhirnya muncul pertanyaan, apa yang sebenarnya mulai hilang dari ingatan masyarakat.
Otto Iskandar Dinata sangat familiar, tetapi orang melihatnya hanya sebagai simbol nama jalan. Padahal ada kisah yang jauh lebih dalam dari itu. Kesempatan untuk menggarap karya tersebut datang ketika pihaknya mendapat undangan untuk menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan dalam Asia Afrika Festival.
Bersama timnya, Ilyas kemudian mulai menyusun naskah berdasarkan biografi Otto Iskandar Dinata. Naskah itu selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa panggung dengan pendekatan monolog. Proses kreatif pertunjukan ini terbilang singkat, yaitu sekitar satu bulan untuk penulisan naskah dan tiga minggu untuk latihan intensif.
Mengapa dan Dampak
Menurut Ilyas, monolog ini mencoba melihat lebih jauh bagaimana sosok pahlawan ini. Ia ingin menjadikan semuanya sebagai bahasa panggung. Proses kreatif yang dilakukan bersama teman-teman Siediekdjari ini diharapkan dapat memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat.
Dengan mengenal lebih dekat sosok Otto Iskandar Dinata, diharapkan masyarakat dapat memahami nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh sang pahlawan. Hal ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan motivasi bagi masyarakat untuk terus melestarikan sejarah dan budaya bangsa.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Monolog Otto Iskandar Dinata ini merupakan salah satu upaya untuk menghidupkan kembali sejarah dan budaya bangsa. Diharapkan, karya-karya seperti ini dapat terus dikembangkan dan dipertontonkan kepada masyarakat, sehingga nilai-nilai luhur bangsa dapat terus dilestarikan.
Kedepan, Komunitas Teater Siediekdjari diharapkan dapat terus berkontribusi dalam melestarikan sejarah dan budaya bangsa melalui karya-karya yang inspiratif dan edukatif. Dengan demikian, nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dapat terus dikenang dan dijadikan teladan bagi masyarakat.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1178301/kisah-otto-iskandar-dinata-dipentaskan-dalam-monolog-di-asia-afrika-festival-2026, without altering the facts of the original article.