Rachmat Gobel Ungkap Filosofi Hidup yang Mengantarkannya jadi Pengusaha Sukses

Perjalanan Awal Gobel Menuju Kesuksesan

Thayeb Mohammad Gobel, ayah Rachmat Gobel, merupakan pendiri PT National Gobel yang kini identik dengan Panasonic. Perjalanan Gobel menuju kesuksesan tidak dimulai dari perusahaan besar. Pria asal Gorontalo itu menghabiskan masa mudanya dengan merantau ke Makassar, lalu ke Pulau Jawa. Dia pernah bekerja di Dasaad Musin Concern, Fasco, hingga NV Behring yang bergerak di bidang perakitan radio. Setelah sempat gagal menjalankan bisnis mebel, Gobel memutuskan membangun usahanya sendiri. Pada pertengahan 1950-an, Gobel bersama sejumlah rekannya mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co. Berbekal pinjaman Rp5 juta dari Bank Industri Nasional (BINA), mereka membangun pabrik di Cawang dan memproduksi radio bermerek Tjawang. Kesempatan mengikuti program Colombo Plan kemudian membawanya ke Jepang. Di sanalah Gobel bertemu Konosuke Matsushita, pendiri Matsushita Electric Industrial Co.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pertemuan tersebut menjadi titik balik perjalanan bisnis Gobel. Keduanya kemudian menjalin kerja sama yang berujung pada berdirinya PT National Gobel pada 1970. Perusahaan patungan tersebut dibangun di atas perpaduan Falsafah Pohon Pisang milik Gobel dan Falsafah Air milik Matsushita. Gobel menganggap Pohon Pisang sebagai simbol yang tepat untuk peranan perusahaannya di masyarakat. Tak ada bagian dari Pohon Pisang yang terbuang, buahnya dapat dimakan untuk memberikan gizi, sedangkan daun dan bagian lainnya dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Filosofi tersebut lahir dari keyakinan Gobel bahwa perusahaan harus memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat. Layaknya pohon pisang yang seluruh bagiannya berguna, perusahaan tidak hanya bertugas menghasilkan keuntungan, tetapi juga menciptakan nilai bagi banyak orang. Pandangan tersebut juga tercermin ketika Gobel bertemu Presiden Sukarno. Saat ditanya mengapa memilih usaha radio transistor, Gobel menjawab, “Supaya pidato Bapak dapat sampai kepada orang-orang di desa, di tempat yang jauh terpencil, di kaki gunung, di pulau-pulau, meskipun di tempat-tempat tersebut belum ada listrik, Pak.” Jalan panjang yang masih harus ditempuh oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia adalah menerapkan filosofi yang sama dengan Gobel. Dengan memahami bahwa perusahaan bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang manfaat bagi masyarakat, maka perusahaan dapat menjadi lebih berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat. Rachmat Gobel dan keluarganya telah menunjukkan bahwa kesuksesan dapat diraih dengan filosofi yang tepat dan komitmen untuk memberi manfaat bagi masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710102750-25-749720/belajar-dari-gobel-pegang-filosofi-hidup-ini-bisa-kaya-dan-sukses, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *