PBNU Umumkan 1 Muharram 1448 H Jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026: Ini Dampaknya

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mengumumkan bahwa 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Penetapan ini berbeda dengan pemerintah dan Muhammadiyah yang menetapkan 1 Muharram jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Perbedaan ini disebabkan oleh hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PBNU pada Senin, 15 Juni 2026.

Momen Penentu di Menit Akhir

Lembaga Falakiyah PBNU telah melakukan rukyatul hilal pada Senin, 15 Juni 2026, dan seluruh titik pemantauan melaporkan tidak melihat hilal. Berdasarkan hasil tersebut, PBNU menetapkan 1 Muharram 1448 H jatuh pada Rabu, 17 Juni 2026. Sementara itu, pemerintah dan Muhammadiyah telah menetapkan 1 Muharram jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Penetapan 1 Muharram 1448 H yang berbeda ini dapat berdampak pada pelaksanaan ibadah dan perayaan Tahun Baru Hijriah. PBNU mengajak umat muslim untuk berdoa agar diberi kebaikan pada tahun yang baru. Selain itu, perbedaan penetapan ini juga dapat mempengaruhi pelaksanaan libur nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Libur nasional memperingati Tahun Baru Hijriah atau 1 Muharram masih jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Perbedaan penetapan 1 Muharram 1448 H ini menunjukkan bahwa masih ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk mencapai kesepakatan dalam menentukan awal bulan hijriah. Namun, dengan adanya komunikasi dan koordinasi antara organisasi Islam, diharapkan dapat tercapai kesepakatan yang lebih baik di masa depan. PBNU juga mengajak para pengurus NU di seluruh wilayah untuk aktif menyebarkan informasi tentang penetapan 1 Muharram 1448 H.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20260616130536-29-743139/pbnu-tetapkan-1-muharram-1448-h-jatuh-rabu-17-juni-2026, without altering the facts of the original article.

Indonesia Masuk 5 Besar Negara dengan Penduduk Terbanyak di Dunia

Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Berdasarkan estimasi pertengahan 2025 yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia menempati peringkat keempat dengan jumlah penduduk mencapai 285,7 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia yang besar ini menempatkannya di antara negara-negara dengan populasi terbanyak di dunia.

Posisi Indonesia dalam Daftar Negara Berpenduduk Terbanyak

India masih mempertahankan posisinya sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia dengan 1,4639 miliar jiwa, disusul China sebanyak 1,4161 miliar jiwa. Amerika Serikat berada di posisi ketiga dengan 347,3 juta jiwa. Indonesia, dengan 285,7 juta jiwa, berada di posisi keempat. Di bawah Indonesia, Pakistan menempati posisi kelima dengan jumlah penduduk 255,2 juta jiwa, diikuti Nigeria 237,5 juta jiwa, Brasil 212,8 juta jiwa, Bangladesh 175,7 juta jiwa, Rusia 144 juta jiwa, dan Ethiopia 135,5 juta jiwa.

Apa yang Terjadi dengan Populasi Dunia?

Melansir data terbaru PBB, ketiga negara teratas, yaitu India, China, dan Amerika Serikat, menyumbang sekitar 39,2% dari total populasi dunia yang pada pertengahan 2025 diperkirakan mencapai 8,23 miliar jiwa. Estimasi terbaru PBB juga menyoroti perubahan tren demografi global. Sejumlah negara mulai mengalami penurunan tingkat kelahiran, meningkatnya harapan hidup, serta bertambahnya jumlah penduduk lanjut usia.

Mengapa dan Dampaknya

Perubahan tren demografi global ini memiliki dampak signifikan pada kebijakan sosial, ekonomi, dan kesehatan. Negara-negara dengan populasi besar seperti Indonesia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dalam menyediakan layanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Selain itu, perubahan struktur demografi juga mempengaruhi pasar tenaga kerja dan sistem pensiun. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan yang tepat untuk menghadapi perubahan ini.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kedepannya, Indonesia dan negara-negara lain dengan populasi besar harus terus memantau dan menyesuaikan diri dengan perubahan tren demografi. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju, tetapi juga harus diimbangi dengan kebijakan yang tepat untuk menghadapi tantangan yang muncul. Pemerintah harus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan bahwa pertumbuhan penduduk dapat diimbangi dengan peningkatan kualitas hidup dan pembangunan yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260716120029-33-751280/20-negara-dengan-penduduk-terbanyak-di-dunia-indonesia-posisi-ke-4, without altering the facts of the original article.

Tragedi Kota Tambang: 2.000 Warga Tewas Terpapar Racun, Hilang dari Peta

Tragedi Kota Tambang: 2.000 Warga Tewas Terpapar Racun

Wittenoom, sebuah kota pertambangan terpencil di Australia, menjadi wilayah yang paling terkontaminasi di dunia akibat paparan asbes biru (crocidolite) yang ditambang tanpa standar keselamatan memadai. Kota ini akhirnya dihilangkan namanya dari peta untuk mencegah orang lain mengunjungi tempat tersebut. Tragedi ini menyebabkan kematian 2.000 orang pekerja tambang dan memicu bencana kesehatan paling tragis dalam sejarah Australia.

Apa yang Terjadi di Wittenoom?

Wittenoom dilanda bencana kesehatan akibat paparan asbes biru yang ditambang tanpa standar keselamatan memadai. Pemerintah Australia Barat telah menutup kota itu dan merobohkan bangunan-bangunan yang tersisa karena tingginya risiko kesehatan. Akses ke lokasi dilarang dan pelanggar bisa dikenakan denda hingga 500 dolar Australia. Tambang asbes di sana memang ditutup pada 1966, tetapi kota tersebut tetap beroperasi selama beberapa dekade setelahnya. Sekolah baru ditutup pada 1985 dan balapan kuda masih digelar hingga 1991.

Mengapa dan Dampaknya

Paparan asbes tidak bisa ditarik kembali dan masih ada remaja yang menderita mesothelioma, kanker langka yang berkaitan langsung dengan paparan asbes. Kepala eksekutif Asbestos Disease Society of Australia, Melita Markey, menyatakan bahwa kontaminasi asbes di Wittenoom bersifat permanen dan risikonya terhadap kesehatan sangat signifikan. Pemerintah Australia Barat tidak berencana menambah patroli atau pengamanan, tetapi menegaskan bahwa akses tetap dilarang dan masyarakat diminta mematuhi rambu peringatan demi keselamatan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Wittenoom bukanlah destinasi wisata dan risiko kesehatannya signifikan serta bersifat permanen. Melakukan kunjungan ke Wittenoom akan membuat individu terpapar risiko kesehatan serius yang terkait dengan kontaminasi asbes. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak mengunjungi kota tersebut dan mematuhi peraturan yang berlaku. Dengan demikian, kita dapat mencegah terjadinya tragedi serupa di masa depan dan menjaga keselamatan masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260716160734-33-751381/kota-tambang-hilang-dari-peta-2000-warganya-mati-terpapar-racun, without altering the facts of the original article.

2 Pengusaha RI Bertransformasi jadi Konglomerat usai Bolak-Balik ke Gunung Kawi

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu tempat ziarah yang dipercaya dapat membawa keberuntungan, termasuk dalam urusan usaha. Dua pengusaha besar Indonesia, Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong, diketahui rutin mendatangi Gunung Kawi dan mengalami transformasi menjadi konglomerat setelah memperoleh petunjuk dari tempat tersebut.

Momen Penentu di Gunung Kawi

Ong Hok Liong, pendiri Bentoel, merupakan salah satu pengusaha yang rajin berziarah ke Gunung Kawi. Pada tahun 1954, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam. Mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokoknya yang saat itu belum berkembang. Atas tafsir mimpi tersebut, Ong kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel, sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas yang muncul dalam mimpinya.

Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan bisnisnya. Setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokok terus meningkat. Perusahaan berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Ketika meninggal dunia pada 1967, Ong adalah seorang multi-jutawan.

Kepercayaan Terhadap Gunung Kawi

Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group, juga memiliki kepercayaan terhadap Gunung Kawi. Salim rutin bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi hingga tiga sampai lima kali setiap tahun. Setiap kali hendak memulai bisnis besar, dia berdiam diri di kuil China di kawasan Gunung Kawi untuk meminta petunjuk kepada peramal dan menjalankan sejumlah ritual. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA). Menurut Richard dan Nancy, keputusan tersebut juga dipengaruhi keyakinan yang diperoleh Salim setelah menemui peramal di Gunung Kawi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keberhasilan Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat membawa keberuntungan dalam urusan usaha. Namun, keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras dan strategi bisnis yang tepat. Bagi pengusaha yang ingin meningkatkan bisnisnya, kepercayaan dan petunjuk dari tempat-tempat yang dipercaya dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Saat ini, Gunung Kawi masih menjadi salah satu tempat ziarah yang populer di Indonesia. Banyak pengusaha yang masih percaya bahwa tempat tersebut dapat membawa keberuntungan dalam urusan usaha. Namun, keberhasilan di bidang usaha tidak hanya bergantung pada kepercayaan, tetapi juga pada kerja keras, strategi bisnis yang tepat, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar. Oleh karena itu, pengusaha harus terus meningkatkan kemampuan dan strategi bisnisnya untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710144741-25-749854/2-pengusaha-ri-sering-bolak-balik-ke-gunung-kawi-jadi-konglomerat, without altering the facts of the original article.

Pejabat RI Meninggal Mendadak saat Ungkap Kasus Korupsi Besar, Polisi Turun Tangan

Jaksa Agung RI, Baharuddin Lopa, meninggal mendadak pada 3 Juli 2001, setelah menjalani karier panjang sebagai penegak hukum yang dikenal keras terhadap koruptor dan penyelundup. Kematian Lopa menimbulkan spekulasi, namun tim dokter menyatakan bahwa ia meninggal akibat serangan jantung yang dipicu kelelahan kerja. Sebagai Jaksa Agung, Lopa dikenal tak gentar mengusut perkara yang melibatkan pengusaha maupun pejabat tinggi negara.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada 2 Juli 2001, Lopa jatuh sakit saat menghadiri serah terima jabatan Duta Besar RI sekaligus menunaikan umrah di Arab Saudi. Ia mengalami mual, muntah, lalu tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, tepat pada 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa meninggal dunia. Sebelumnya, pada Juni 2001, Presiden Abdurrahman Wahid menunjuk Lopa sebagai Jaksa Agung, dengan harapan dapat membersihkan Indonesia dari praktik korupsi yang mengakar sejak era Orde Baru.

Apa yang Terjadi Sebelumnya?

Sejak awal menjabat sebagai Jaksa Agung, meja kerja Lopa langsung dipenuhi berkas penyelidikan kasus korupsi besar yang melibatkan pengusaha dan pejabat tinggi negara. Menurut Suara Pembaruan (4 Juli 2001), Lopa sadar bahwa langkahnya akan mengusik banyak kepentingan. “Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung,” ungkapnya dalam buku Kejahatan Korupsi dan Penegakan Hukum (2001).

Mengapa dan Dampak

Kematian Lopa tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi. MENGAPA kematian Lopa begitu mengejutkan? Karena Lopa memiliki rekam jejak sebagai penegak hukum yang tidak takut mengusut kasus korupsi besar. DAMPAK dari kematian Lopa adalah keberanian Lopa melawan korupsi yang tidak akan terlupakan. Presiden Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh yang menangisi kepergiannya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Keberanian Lopa melawan korupsi bukan muncul ketika menjadi Jaksa Agung. Jabatan tersebut justru menjadi puncak karier panjangnya sebagai penegak hukum. Baharuddin Lopa memulai karier sebagai jaksa pada 1958 di Kejaksaan Negeri Kelas I Makassar. Ia memiliki prinsip untuk tetap bekerja demi menyelamatkan uang negara dan menegakkan keadilan, di mana pun ditugaskan. Oleh karena itu, perjalanan panjang dalam memberantas korupsi masih harus ditempuh, dan semangat Lopa harus terus dikenang sebagai inspirasi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260709103244-25-749381/pejabat-ri-meninggal-mendadak-saat-bongkar-kasus-korupsi-besar, without altering the facts of the original article.

Menteri RI Bongkar Kasus Pejabat Nakal: 2.116 Orang Terlibat, Didukung Tentara

Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) J.B. Sumarlin pernah meluncurkan operasi besar-besaran untuk memberantas praktik pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta berbagai bentuk penyelewengan di lingkungan aparatur negara pada 1977. Operasi yang diberi nama Operasi Tertib (Opstib) ini berhasil menjaring 2.116 pejabat hanya dalam delapan bulan. Kasus besar yang dibongkar bahkan didukung oleh aparat militer, khususnya Laksamana TNI Sudomo yang saat itu menjabat Kepala Staf Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada Juni 1977, Presiden Soeharto menunjuk Sumarlin sebagai Koordinator Operasi Tertib (Opstib) Pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1977. Tugas utama Sumarlin adalah memberantas penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Untuk memperkuat pelaksanaan operasi, Soeharto menempatkan Opstib di bawah Kopkamtib, dengan Laksamana TNI Sudomo sebagai pemimpinnya.

Operasi ini langsung bergerak cepat. Kasus pertama yang dibongkar terkait mafia pengadilan. Tim Opstib sukses menangkap belasan hakim dari tingkat pengadilan negeri hingga pengadilan tinggi di sejumlah provinsi. Setelah itu, operasi diperluas ke berbagai sektor, seperti perbankan, pelabuhan, kepegawaian, dan pertanahan.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Dalam operasi tersebut, beberapa fakta menarik terungkap. Pertama, dalam delapan bulan pertama pelaksanaan Opstib, rata-rata 15 pejabat terjaring setiap hari. Kedua, total 2.116 pejabat yang digaji negara, mulai dari hakim, jaksa, kepala dinas hingga staf ASN, terseret dalam 1.290 kasus. Ketiga, keberhasilan Opstib meninggalkan kesan mendalam bagi Sumarlin, yang tak pernah melupakan dukungan Sudomo selama menjalankan tugasnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keberhasilan Opstib pada 1977-1983 menunjukkan bahwa dengan dukungan penuh dari aparat militer dan pemerintah, penindakan terhadap penyelewengan di lingkungan aparatur negara dapat dilakukan dengan efektif. Kasus ini juga menggarisbawahi pentingnya pengawasan dan penindakan terhadap penyalahgunaan wewenang untuk menjaga integritas aparatur negara. J.B. Sumarlin dan Laksamana Sudomo menjadi contoh penting dari kerja sama antara pemerintah dan aparat militer dalam upaya pemberantasan korupsi dan penyelewengan.

Dalam konteks saat ini, operasi seperti Opstib dapat menjadi pelajaran berharga dalam upaya pemberantasan korupsi dan penyelewengan di Indonesia. Dengan komitmen kuat dari pemerintah dan dukungan dari aparat keamanan, diharapkan kasus-kasus serupa dapat diminimalisir dan integritas aparatur negara dapat terus ditingkatkan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski keberhasilan Opstib pada masa lalu patut diapresiasi, namun upaya pemberantasan korupsi dan penyelewengan masih merupakan pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Tantangan saat ini adalah bagaimana mempertahankan komitmen dan konsistensi dalam penindakan terhadap penyelewengan, serta meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan aparatur negara. Dengan demikian, Indonesia dapat terus bergerak menuju tata kelola pemerintahan yang lebih baik dan bebas dari korupsi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260708131126-25-749126/kisah-menteri-ri-jaring-2116-pejabat-nakal-pakai-bantuan-tentara, without altering the facts of the original article.

Bos Pajak Dapat Ancaman Santet, Benda Mistik Ditemukan di Kantor DJP

Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak) Mar’ie Muhammad pernah mengalami ancaman santet saat menjalankan tugasnya pada 1988. Ancaman tersebut muncul dalam bentuk benda-benda mistik yang ditemukan di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Mar’ie yang baru saja ditunjuk sebagai Dirjen Pajak oleh Menteri Keuangan J.B. Sumarlin memiliki misi untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak dan membersihkan praktik-praktik kotor di lingkungan DJP.

Momen Penentu di Awal Jabatan

Pada awal jabatannya, Mar’ie langsung melakukan reformasi besar-besaran di tubuh DJP. Salah satu langkah terpentingnya ialah mengubah sistem pemungutan pajak dari pola pemerintah aktif mengejar wajib pajak menjadi sistem self-assessment, di mana masyarakat menghitung, melaporkan, dan membayar pajaknya secara mandiri. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membayar pajak dan mengurangi praktik-praktik kotor di lingkungan DJP.

Ancaman Santet dan Benda Mistik

Namun, upaya Mar’ie tidak berjalan mulus. Ancaman santet dan benda mistik mulai muncul. Pada masa Dirjen Pajak sebelumnya, Salamun Alfian Tjakradiwirja, kantor DJP pernah ditemukan benda-benda berbau mistik seperti bunga-bunga tanpa diketahui siapa pengirimnya. Pengalaman tersebut membuat sejumlah pejabat khawatir ancaman serupa akan kembali terjadi saat Mar’ie mulai melakukan pembenahan di DJP. Bahkan, sempat ada keinginan meminta bantuan salah satu keluarga Mar’ie yang berasal dari daerah yang dikenal kental dengan ilmu hitam untuk menangkal kemungkinan serangan santet terhadap Mar’ie.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Namun, Mar’ie menolak usulan tersebut dan memilih mengandalkan doa dan keyakinan pribadinya. Dia percaya langkah yang ditempuhnya akan berjalan lancar tanpa harus meminta bantuan supranatural. Keberanian Mar’ie untuk tidak meminta bantuan supranatural dan tetap fokus pada tugasnya menunjukkan komitmennya untuk membersihkan DJP dari praktik-praktik kotor dan meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak.

Pada akhirnya, reformasi yang dilakukan Mar’ie mulai membuahkan hasil. Kesadaran masyarakat untuk membayar pajak meningkat, terlebih setelah pemerintah memberikan penghargaan kepada wajib pajak terbesar dan berbagai insentif bagi masyarakat yang taat membayar pajak. Kiprah Mar’ie sebagai Dirjen Pajak berakhir pada 1993, namun keberhasilannya meningkatkan penerimaan negara sekaligus membenahi sistem perpajakan membawanya ke jabatan Menteri Keuangan pada periode 1993-1998.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kasus ancaman santet yang dialami Mar’ie menunjukkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh pejabat publik dalam menjalankan tugasnya. Namun, dengan komitmen dan keberanian untuk melakukan perubahan, pejabat publik dapat mencapai kesuksesan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi pejabat publik untuk terus meningkatkan integritas dan komitmennya dalam menjalankan tugasnya demi kepentingan masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091448-25-750600/bos-pajak-dapat-ancaman-santet-benda-mistik-ditemukan-di-kantor-djp, without altering the facts of the original article.

Kapolri Hoegeng Dicopot Presiden saat Bongkar Kasus Besar, Ini Alasannya

Kapolri Hoegeng Imam Santoso dicopot dari jabatannya oleh Presiden Soeharto pada 2 Oktober 1971. Pencopotan ini terjadi saat Hoegeng tengah menangani kasus penyelundupan besar, yaitu penyelundupan mobil mewah yang merugikan negara hingga ratusan juta rupiah. Hoegeng dianggap sudah tua dan diminta menempati posisi baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belgia. Namun, alasan ini memunculkan tanda tanya karena usia Hoegeng saat itu baru menginjak 50 tahun.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada saat itu, Hoegeng sedang membongkar salah satu kasus penyelundupan terbesar pada awal Orde Baru. Penyelundupan mobil mewah ini melibatkan ribuan mobil yang berhasil masuk ke Indonesia tanpa membayar bea masuk. Menurut Hoegeng, praktik ini tidak mungkin berlangsung tanpa bantuan orang-orang di dalam birokrasi. Salah satu tokoh yang menjadi target penyelidikannya adalah Robby Tjahjadi, seorang penyelundup mobil mewah yang memiliki jaringan luas.

Robby Tjahjadi merupakan lulusan SMA Xaverius Surakarta yang merantau ke Jakarta pada 1964. Lima tahun kemudian, dia telah menjadi penyalur mobil-mobil mewah hasil penyelundupan. Berbagai merek, mulai dari Alfa Romeo, Fiat, BMW, Mercedes-Benz, Ford, Continental hingga Rolls-Royce, berhasil masuk ke Indonesia melalui jalur ilegal. Menurut Hoegeng, Robby memanfaatkan paspor diplomatik untuk menekan bea impor, lalu bekerja sama dengan oknum Bea Cukai agar mobil-mobil tersebut bisa lolos ke Indonesia.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Di tengah penyelidikan itu, Hoegeng mendapat panggilan untuk menghadap Presiden Soeharto di kediamannya di Jalan Cendana Nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat. Dia berniat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melaporkan perkembangan kasus penyelundupan mobil mewah yang sedang ditanganinya. Namun, rencana itu buyar sesaat setelah tiba di Cendana. Orang yang akan dia laporkan, yaitu Robby Tjahjadi, ternyata sudah lebih dulu berada di Jalan Cendana untuk menghadap Presiden Soeharto.

Hoegeng bahkan berpapasan dengan penyelundup mobil mewah tersebut yang baru keluar dari kediaman presiden. Momen itu membuat Hoegeng sadar bahwa orang yang sedang diusutnya memiliki hubungan dengan kalangan elite kekuasaan. Dia pun mengurungkan niat melaporkan kasus tersebut dan kembali ke Markas Besar Polri.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri memiliki dampak besar pada kariernya. Meski banyak pihak menghubungkan pencopotannya dengan penyelidikan terhadap Robby Tjahjadi, Hoegeng sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan hal tersebut. Dia hanya diberitahu alasan pemberhentian karena sudah tua. Sementara itu, penyelidikan terhadap Robby terus berlanjut dan akhirnya dia ditangkap pada 21 Oktober 1972.

Robby didakwa melakukan penyelundupan yang menyebabkan kerugian negara sekitar Rp700 juta. Namun, dia hanya divonis ringan, yakni 7,5 tahun, kurang dari tuntutan 10 tahun. Kasus ini menunjukkan bahwa penyelundupan masih menjadi masalah besar di Indonesia dan perlu penanganan yang lebih serius.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Setelah pensiun, Hoegeng memilih menjalani kehidupan yang sederhana dan lebih banyak berkecimpung di dunia seni hingga wafat pada 14 Juli 2004. Kasus penyelundupan mobil mewah yang ditanganinya masih menjadi contoh bahwa penegakan hukum di Indonesia masih memiliki banyak tantangan. Oleh karena itu, penegak hukum harus terus meningkatkan kinerja dan integritasnya untuk menangani kasus-kasus besar seperti ini.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091414-25-750598/kapolri-hoegeng-tiba-tiba-dicopot-presiden-saat-bongkar-kasus-besar, without altering the facts of the original article.

Mantan Menteri RI Terciduk Jualan Beras di Glodok, Begini Reaksi Publik

Momen Penentu di Menit Akhir

Saifuddin Zuhri diketahui berjualan beras di Pasar Glodok hampir setiap hari. Setiap pagi sekitar pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, dia menyetir mobilnya sendiri sambil mengangkut barang dagangan menuju pasar. Aktivitas itu dijalaninya tanpa diketahui keluarganya. Mereka hanya mengetahui Saifuddin selalu pulang membawa uang, tetapi tidak pernah tahu dari mana penghasilan itu berasal. Hingga suatu hari, salah seorang putranya secara tidak sengaja memergoki sang ayah sedang berdagang di Pasar Glodok.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Saifuddin Zuhri memiliki latar belakang yang sederhana dan komitmen untuk menjalani hidup sederhana. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), dia menceritakan bahwa pada 1942, ketika anak pertamanya lahir, dia pernah mencari nafkah sebagai pedagang. Saat itu, dia menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai dari pakaian bekas, peralatan rumah tangga bekas, hingga rokok. Kesederhanaan Saifuddin ternyata sudah terlihat sejak masih menjabat sebagai Menteri Agama. Baginya, jabatan merupakan amanah yang tidak boleh dimanfaatkan untuk memperoleh keistimewaan pribadi. Saifuddin juga dikenal sebagai sosok yang menolak fasilitas rumah dinas ketika menjabat sebagai Menteri Agama. Dia memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di Jalan Dharmawangsa Raya No. 4, Kebayoran Baru. Bahkan ketika didesak agar menerima fasilitas tersebut, dia tetap menolak karena tidak ingin bersikap serakah. “Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang,” tegasnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok dapat menjadi contoh bagi pejabat negara lainnya bahwa kesederhanaan dan komitmen untuk menjalani hidup sederhana sangat penting. Saifuddin menunjukkan bahwa tidak ada salahnya untuk bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara yang halal, bahkan setelah pensiun dari jabatan negara. Jejak hidup Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Namun, pengabdiannya seolah berlanjut ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, dipercaya menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kisah Saifuddin Zuhri juga dapat menjadi refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya kesederhanaan dan komitmen untuk menjalani hidup sederhana. Dalam era yang serba mewah ini, kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok dapat menjadi pengingat bahwa tidak ada salahnya untuk bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara yang halal. Dengan demikian, kita dapat meneladani kesederhanaan dan komitmen Saifuddin Zuhri untuk menjalani hidup sederhana dan bermanfaat bagi masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714151404-25-750735/geger-mantan-menteri-ri-terciduk-jualan-beras-di-glodok, without altering the facts of the original article.

2 Pengusaha RI Bertransformasi jadi Konglomerat usai Bolak-Balik ke Gunung Kawi

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu tempat ziarah yang dipercaya dapat membawa keberuntungan, termasuk dalam urusan usaha. Dua pengusaha besar Indonesia, Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong, diketahui rutin mendatangi Gunung Kawi dan mengalami transformasi menjadi konglomerat setelah memperoleh petunjuk dari tempat tersebut.

Momen Penentu di Gunung Kawi

Ong Hok Liong, pendiri Bentoel, merupakan salah satu pengusaha yang rajin berziarah ke Gunung Kawi. Pada tahun 1954, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam. Mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokoknya yang saat itu belum berkembang. Atas tafsir mimpi tersebut, Ong kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel, sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas yang muncul dalam mimpinya.

Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan bisnisnya. Setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokok terus meningkat. Perusahaan berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Ketika meninggal dunia pada 1967, Ong adalah seorang multi-jutawan.

Kepercayaan Terhadap Gunung Kawi

Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group, juga memiliki kepercayaan terhadap Gunung Kawi. Salim rutin bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi hingga tiga sampai lima kali setiap tahun. Setiap kali hendak memulai bisnis besar, dia berdiam diri di kuil China di kawasan Gunung Kawi untuk meminta petunjuk kepada peramal dan menjalankan sejumlah ritual. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA). Menurut Richard dan Nancy, keputusan tersebut juga dipengaruhi keyakinan yang diperoleh Salim setelah menemui peramal di Gunung Kawi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keberhasilan Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat membawa keberuntungan dalam urusan usaha. Namun, keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari kerja keras dan strategi bisnis yang tepat. Bagi pengusaha yang ingin meningkatkan bisnisnya, kepercayaan dan petunjuk dari tempat-tempat yang dipercaya dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Saat ini, Gunung Kawi masih menjadi salah satu tempat ziarah yang populer di Indonesia. Banyak pengusaha yang masih percaya bahwa tempat tersebut dapat membawa keberuntungan dalam urusan usaha. Namun, keberhasilan di bidang usaha tidak hanya bergantung pada kepercayaan, tetapi juga pada kerja keras, strategi bisnis yang tepat, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan pasar. Oleh karena itu, pengusaha harus terus meningkatkan kemampuan dan strategi bisnisnya untuk mencapai keberhasilan yang berkelanjutan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710144741-25-749854/2-pengusaha-ri-sering-bolak-balik-ke-gunung-kawi-jadi-konglomerat, without altering the facts of the original article.