Nelayan Pangandaran Selamatkan Dua Wisatawan dari Arus Bahaya

**Nelayan Pangandaran Selamatkan Dua Wisatawan dari Arus Bahaya** **Momen Penentu di Menit Akhir** Sabtu, 18 Juli 2026, 14:00 WIB – Seorang nelayan dari Pangandaran, Siswanto, menjadi pahlawan yang tidak terduga setelah menyelamatkan dua wisatawan yang terseret arus laut di kawasan Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat. Momen tersebut terjadi pada Jumat, 17 Juli 2026, petang, ketika empat orang wisatawan, termasuk Muhammad Rizki (20) dari Bojongsoang, Kabupaten Bandung, tertabrak oleh gelombang yang kuat. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Menurut Siswanto, dirinya sedang mendorong perahu ke laut untuk berangkat melaut ketika mendengar teriakan minta tolong dari orang-orang yang berada di pantai. Siswanto langsung mengarahkan perahunya menuju lokasi korban yang berada di tengah laut. Saat tiba di lokasi, dari tiga orang, dirinya hanya melihat dua orang korban yang masih berjuang melawan arus. “Saya sempat mengejar menggunakan perahu. Korban hampir tenggelam dan sempat hilang dari pandangan, tapi alhamdulillah masih bisa saya raih dan dinaikkan ke perahu,” kata Siswanto. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Kejadian ini membuktikan bahwa keamanan di pantai masih menjadi masalah yang serius. Meskipun ada penjaga pantai, namun tidak ada yang melihat kejadian ini terjadi. “Kalau wisatawan yang hilang, saat kejadian saya sudah tidak melihat,” kata Siswanto. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, Balawista, SAR Barakuda, PMI, dan sejumlah relawan terus melakukan pencarian melalui penyisiran darat maupun laut. Muhammad Rizki (20) masih dinyatakan hilang setelah terseret arus laut. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Kejadian ini juga membuktikan bahwa keamanan di pantai masih menjadi masalah yang serius. Pemerintah harus segera mengambil tindakan untuk meningkatkan keamanan di pantai, termasuk meningkatkan jumlah penjaga pantai dan fasilitas-fasilitas lainnya. Selain itu, pemerintah juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keamanan di pantai. Dengan demikian, kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178811/detik-detik-nelayan-selamatkan-dua-wisatawan-yang-terseret-arus-di-pangandaran-masih-bisa-saya-raih, without altering the facts of the original article.

Sopir dan Kernet Truk Air Mineral Diamankan, Polisi Tetapkan Penyebab Kecelakaan Beruntun di Sibolangit

**Sopir dan Kernet Truk Air Mineral Diamankan, Polisi Tetapkan Penyebab Kecelakaan Beruntun di Sibolangit** **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 10.30 WIB, sebuah truk pengangkut air mineral kehilangan kendali di Jalan Jamin Ginting kilometer 44, Kelurahan Sikeben, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara. Truk tersebut melaju dari arah Berastagi menuju Medan dan menabrak mobil truk bermuatan brondolan sawit, lalu menghantam total 7 unit mobil dan 1 sepeda motor. **APA YANG TERJADI** Kronologi kejadian tersebut menunjukkan bahwa truk pengangkut air mineral kehilangan kendali dan menabrak beberapa kendaraan lainnya, menyebabkan 12 orang menjadi korban dengan rincian 4 meninggal dan 8 korban luka-luka. Sopir dan kernet truk telah diamankan oleh polisi untuk diperiksa. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Sebanyak 12 orang menjadi korban kecelakaan truk pengangkut air mineral di Jalan Jamin Ginting kilometer 44, Kelurahan Sikeben, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara. Korban yang meninggal dunia ada dari pengendara sepeda motor dan tiga orang merupakan penumpang mobil. Total ada 7 unit mobil dan 1 sepeda motor yang hancur akibat tabrakan dengan truk. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Kecelakaan truk pengangkut air mineral di Jalan Jamin Ginting kilometer 44, Kelurahan Sikeben, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara menunjukkan bahwa keamanan jalan masih menjadi permasalahan yang serius. Kondisi jalan yang tidak aman dan kecelakaan yang terjadi dapat menyebabkan korban jiwa dan kerusakan harta benda. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran dan keamanan jalan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kecelakaan truk pengangkut air mineral di Jalan Jamin Ginting kilometer 44, Kelurahan Sikeben, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang, Sumatra Utara. Sopir dan kernet truk telah diamankan untuk diperiksa, namun pemerintah dan masyarakat masih harus bekerja sama untuk meningkatkan kesadaran dan keamanan jalan. Kecelakaan ini menunjukkan bahwa masih banyak hal yang harus diperbaiki untuk meningkatkan keamanan jalan dan mencegah kecelakaan serupa di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.tribunnews.com/regional/7855816/hasil-olah-tkp-kecelakaan-beruntun-di-sibolangit-sopir-dan-kernet-truk-air-mineral-diamankan, without altering the facts of the original article.

ASEAN: Indonesia Jauh Ketinggalan dalam Akses Air Minum Aman

ASEAN: Indonesia Jauh Ketinggalan dalam Akses Air Minum Aman Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara dalam hal akses terhadap layanan air minum yang aman. Data dari WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% penduduk Indonesia yang telah menikmati layanan air minum yang memenuhi standar keamanan internasional pada 2024. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada tahun 2024, data WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa Indonesia berada di kelompok terbawah di Asia Tenggara dalam hal akses terhadap layanan air minum yang aman. Persentase tersebut sama dengan Kamboja (30%), namun masih jauh di bawah Laos (35%), Filipina (48%), Vietnam (59%), Myanmar (60%), Malaysia (95%), serta Thailand dan Singapura yang telah mencapai 100%. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Fakta-fakta berikut menunjukkan betapa pentingnya akses terhadap layanan air minum yang aman: – Hanya sekitar 30% penduduk Indonesia yang telah menikmati layanan air minum yang memenuhi standar keamanan internasional pada 2024. – Indonesia berada di kelompok terbawah di Asia Tenggara dalam hal akses terhadap layanan air minum yang aman. – Tidak hanya akses, tetapi juga kualitas layanan yang penting, karena layanan air minum yang aman harus berasal dari sumber yang layak, tersedia di rumah atau pekarangan, tersedia saat dibutuhkan, serta bebas dari kontaminasi mikrobiologi maupun bahan kimia berbahaya. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Ketimpangan akses terhadap layanan air minum yang aman masih menjadi tantangan utama, terutama di negara berpendapatan rendah dan wilayah pedesaan. WHO dan UNICEF menilai bahwa percepatan investasi pada infrastruktur air bersih, peningkatan kualitas layanan, serta pengurangan kesenjangan menjadi kunci untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030 terkait akses universal terhadap air minum yang aman. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Untuk mencapai target akses universal terhadap air minum yang aman, pemerintah Indonesia harus meningkatkan investasi pada infrastruktur air bersih, meningkatkan kualitas layanan, serta mengurangi kesenjangan antara kota dan pedesaan. Dengan demikian, Indonesia dapat menutup kesenjangan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara dan mencapai target SDGs 2030.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260717131235-33-751617/duh-baru-30-warga-punya-akses-air-minum-aman-urutan-ke-8-di-asean, without altering the facts of the original article.

2 Pengusaha RI yang Sukses Berkat Gunung Kawi: Kisah Konglomerat dari Tanah Air

Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai salah satu tempat ziarah yang dipercaya dapat membawa keberuntungan, termasuk dalam urusan usaha. Dua pengusaha besar Indonesia, Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong, diketahui rutin mendatangi Gunung Kawi untuk memohon petunjuk sebelum mengambil keputusan penting. Kisah mereka menjadi contoh bagaimana kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat berdampak pada kesuksesan bisnis.

Momen Penentu di Gunung Kawi

Ong Hok Liong, pendiri Bentoel, merupakan salah satu pengusaha yang rajin berziarah ke Gunung Kawi. Pada 1954, Ong tertidur di dekat makam dan bermimpi melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, dia menanyakan arti mimpinya kepada juru kunci makam. Mimpi tersebut merupakan petunjuk dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabrik sekaligus merek rokoknya yang saat itu belum berkembang. Atas tafsir mimpi tersebut, Ong kemudian mengganti nama perusahaan dan merek rokoknya menjadi Bentoel, sebutan masyarakat Malang untuk ubi talas.

Keputusan itu menjadi titik balik perjalanan bisnis Ong. Setelah menggunakan nama Bentoel, penjualan rokok terus meningkat. Perusahaan berkembang pesat hingga mempekerjakan sekitar 3.000 karyawan sebelum 1960 dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Ketika meninggal dunia pada 1967, Ong adalah seorang multi-jutawan.

Kepercayaan yang Membentuk Keputusan

Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group, juga memiliki kepercayaan terhadap Gunung Kawi. Salim rutin bolak-balik Surabaya-Gunung Kawi hingga tiga sampai lima kali setiap tahun. Setiap kali hendak memulai bisnis besar, dia berdiam diri di kuil China di kawasan Gunung Kawi untuk meminta petunjuk kepada peramal dan menjalankan sejumlah ritual. Salah satu kisah yang paling dikenal berkaitan dengan penunjukan Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA).

Menurut Richard dan Nancy, keputusan tersebut juga dipengaruhi keyakinan yang diperoleh Salim setelah menemui peramal di Gunung Kawi. “Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau ‘aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mohctar’,” tulis keduanya. Di tangan Mochtar Riady, BCA kemudian berkembang menjadi bank swasta terbesar di Indonesia.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kisah Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menunjukkan bagaimana kepercayaan terhadap Gunung Kawi dapat berdampak pada kesuksesan bisnis. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari strategi bisnis mereka, yang membantu mereka membuat keputusan penting. Bagi pengusaha, kepercayaan dan keyakinan dapat menjadi faktor penting dalam mencapai kesuksesan.

Namun, kesuksesan bisnis tidak hanya bergantung pada kepercayaan dan keyakinan. Strategi bisnis yang tepat, manajemen yang efektif, dan kemampuan adaptasi juga menjadi faktor penting. Oleh karena itu, pengusaha harus mempertimbangkan berbagai faktor untuk mencapai kesuksesan bisnis.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kisah Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong menjadi inspirasi bagi pengusaha yang ingin mencapai kesuksesan bisnis. Namun, perjalanan bisnis tidak pernah berhenti. Pengusaha harus terus berinovasi, beradaptasi, dan meningkatkan kemampuan untuk tetap kompetitif. Dengan demikian, mereka dapat mempertahankan kesuksesan bisnis dan terus berkembang di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260710144741-25-749854/2-pengusaha-ri-sering-bolak-balik-ke-gunung-kawi-jadi-konglomerat, without altering the facts of the original article.

Pejabat RI Meninggal Saat Menginvestigasi Kasus Korupsi Besar, Polisi Ungkap Fakta Baru

Jaksa Agung Baharuddin Lopa meninggal dunia pada 3 Juli 2001, setelah jatuh sakit saat menghadiri serah terima jabatan Duta Besar RI di Arab Saudi. Lopa dikenal sebagai pejabat yang tak gentar mengusut kasus korupsi besar yang melibatkan pengusaha maupun pejabat tinggi negara. Kini, polisi mengungkap fakta baru terkait kasus tersebut.

Momen Penentu di Menit Akhir

Baharuddin Lopa diangkat sebagai Jaksa Agung pada Juni 2001 oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Sejak awal, dia langsung dihadapkan pada tuntutan besar untuk membersihkan Indonesia dari praktik korupsi yang mengakar sejak era Orde Baru. Meja kerjanya dipenuhi berkas penyelidikan kasus korupsi besar yang melibatkan pengusaha dan pejabat tinggi negara.

Menurut pengakuannya sendiri, Lopa sadar bahwa langkahnya akan mengusik banyak kepentingan. “Terlalu banyak orang yang ketakutan jika saya diangkat menjadi Jaksa Agung, sehingga logis jika orang ramai-ramai memotongi saya agar tidak menjadi Jaksa Agung,” ungkapnya.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Berikut adalah tiga fakta yang terkait dengan kematian Baharuddin Lopa:

1. Lopa jatuh sakit pada 2 Juli 2001 saat menghadiri serah terima jabatan Duta Besar RI di Arab Saudi. Dia mengalami mual, muntah, lalu tidak sadarkan diri.

2. Keesokan harinya, tepat pada 3 Juli 2001, Baharuddin Lopa meninggal dunia. Tim dokter menyatakan Lopa meninggal akibat serangan jantung yang dipicu kelelahan kerja.

3. Sebelum menjadi Jaksa Agung, Lopa memiliki karier panjang sebagai penegak hukum yang dikenal keras terhadap koruptor dan penyelundup. Dia memulai karier sebagai jaksa pada 1958 di Kejaksaan Negeri Kelas I Makassar.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kematian Baharuddin Lopa mengundang duka mendalam. Presiden Abdurrahman Wahid termasuk salah satu tokoh yang menangisi kepergiannya. Lopa dikenal sebagai pejabat yang berani melawan korupsi, dan keberaniannya itu menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Kasus korupsi masih menjadi masalah besar di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk terus melanjutkan perjuangan Lopa dalam membersihkan Indonesia dari korupsi. Polisi dan penegak hukum lainnya harus terus bekerja keras untuk mengungkap kasus korupsi dan membawa pelakunya ke pengadilan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Perjuangan melawan korupsi masih panjang dan tidak mudah. Namun, dengan keberanian dan komitmen seperti yang dimiliki Baharuddin Lopa, Indonesia dapat menjadi negara yang lebih bersih dan adil. Polisi dan penegak hukum lainnya harus terus bekerja keras untuk mewujudkan hal tersebut.

Kematian Baharuddin Lopa tidak dapat menghilangkan semangat untuk terus melawan korupsi. Semangat itu harus terus dipertahankan dan dikembangkan untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260709103244-25-749381/pejabat-ri-meninggal-mendadak-saat-bongkar-kasus-korupsi-besar, without altering the facts of the original article.

Menteri RI Bongkar Kasus Pejabat Nakal: 2.116 Nama Masuk Daftar Prioritas

Menteri Negara Penertiban dan Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) pada tahun 1970-an, J.B. Sumarlin, mengungkap kasus besar yang melibatkan 2.116 pejabat nakal dalam operasi penertiban yang digelar selama delapan bulan. Kasus-kasus tersebut terkait dengan penyalahgunaan wewenang, pungutan liar, dan penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Operasi yang digelar pada 1977 itu mendapat dukungan penuh dari aparat militer, termasuk Laksamana TNI Sudomo. Kasus besar ini menjadi sorotan karena menunjukkan betapa luasnya praktik korupsi di Indonesia pada masa itu.

Operasi Penertiban yang Besar

Pada Juni 1977, Presiden Soeharto menunjuk J.B. Sumarlin sebagai Koordinator Operasi Tertib (Opstib) Pusat melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1977. Tugas utama Sumarlin adalah memberantas praktik pungutan liar, penyalahgunaan wewenang, serta berbagai bentuk penyelewengan di lingkungan aparatur negara. Untuk memperkuat pelaksanaan operasi ini, Soeharto menempatkan Opstib di bawah Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), yang dipimpin oleh Laksamana TNI Sudomo.

Operasi ini mulai bergerak cepat dengan membongkar kasus mafia pengadilan. Tim Opstib sukses menangkap belasan hakim dari tingkat pengadilan negeri hingga pengadilan tinggi di sejumlah provinsi. Setelah itu, operasi diperluas ke berbagai sektor, termasuk perbankan, pelabuhan, kepegawaian, dan pertanahan. Di sektor pertanahan, Opstib berhasil membongkar praktik pungutan liar dalam pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB), yang melibatkan sejumlah oknum seperti kepala dinas hingga staf ASN.

Tingkat Keberhasilan yang Signifikan

Selama delapan bulan pertama pelaksanaan Opstib, rata-rata 15 pejabat terjaring setiap hari. Secara total, sebanyak 2.116 pejabat yang digaji negara, mulai dari hakim, jaksa, kepala dinas hingga staf ASN, terseret dalam 1.290 kasus. Mereka kemudian dijatuhi sanksi administratif maupun diproses secara hukum. Keberhasilan Opstib ini meninggalkan kesan mendalam bagi Sumarlin, yang tak pernah melupakan dukungan Sudomo selama menjalankan tugasnya.

Mengapa Operasi Ini Penting?

Operasi penertiban yang dipimpin oleh J.B. Sumarlin dan didukung oleh Laksamana Sudomo ini penting karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi dan penyalahgunaan wewenang di lingkungan aparatur negara. Kasus-kasus yang dibongkar menunjukkan betapa sistemiknya praktik korupsi di Indonesia pada masa itu, sehingga diperlukan tindakan tegas dan terkoordinasi untuk memberantasnya.

Dampak dari operasi ini juga sangat signifikan. Selain memberikan efek jera kepada pejabat yang nakal, operasi ini juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dengan demikian, operasi penertiban ini menjadi contoh penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kasus besar yang melibatkan 2.116 pejabat nakal ini menjadi pengingat bahwa pemberantasan korupsi masih merupakan pekerjaan rumah yang belum selesai di Indonesia. Meskipun telah ada berbagai upaya untuk memberantas korupsi, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan kerja sama dari semua pihak untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260708131126-25-749126/kisah-menteri-ri-jaring-2116-pejabat-nakal-pakai-bantuan-tentara, without altering the facts of the original article.

Kapolri Hoegeng Dicopot Presiden saat Kasus Besar Terbongkar, Ini Alasannya

Kapolri Hoegeng Imam Santoso dicopot dari jabatannya oleh Presiden Soeharto pada 2 Oktober 1971. Pencopotan ini terjadi saat Hoegeng tengah menangani kasus penyelundupan mobil mewah yang merugikan negara hingga ratusan juta rupiah. Hoegeng dianggap sudah tua dan diminta menempati posisi baru sebagai Duta Besar Indonesia untuk Belgia. Namun, alasan ini memunculkan tanda tanya karena usia Hoegeng saat itu baru menginjak 50 tahun.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada saat pencopotan, Hoegeng sedang menyelidiki kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan Robby Tjahjadi, seorang penyelundup yang memanfaatkan paspor diplomatik untuk menekan bea impor dan bekerja sama dengan oknum Bea Cukai. Penyelidikan ini hampir mencapai titik temu, namun Hoegeng mendapat panggilan untuk menghadap Presiden Soeharto di kediamannya. Di sana, dia berpapasan dengan Robby Tjahjadi yang baru keluar dari kediaman presiden. Momen ini membuat Hoegeng sadar bahwa orang yang sedang diusutnya memiliki hubungan dengan kalangan elite kekuasaan.

Beberapa saat setelah pertemuan itu, Hoegeng diberhentikan sebagai Kapolri. Meski banyak pihak menghubungkan pencopotannya dengan penyelidikan terhadap Robby Tjahjadi, Hoegeng sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan hal tersebut. Dia hanya diberitahu alasan pemberhentian karena sudah tua.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri menunjukkan bahwa kekuasaan dan pengaruh dapat mempengaruhi proses hukum dan penyelidikan. Kasus penyelundupan mobil mewah yang melibatkan Robby Tjahjadi dan pejabat lainnya merupakan contoh nyata bagaimana korupsi dan kolusi dapat terjadi di tingkat tinggi. Dampak dari pencopotan Hoegeng adalah penyelidikan terhadap Robby Tjahjadi terus berlanjut, namun vonis yang diberikan relatif ringan.

Kejadian ini juga menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia masih memiliki banyak tantangan, terutama ketika melibatkan pejabat tinggi dan elite kekuasaan. Oleh karena itu, penegakan hukum yang independen dan transparan sangat penting untuk menciptakan keadilan dan kepercayaan masyarakat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kapolri Hoegeng Imam Santoso wafat pada 14 Juli 2004, namun kisahnya tetap menjadi pelajaran berharga bagi penegakan hukum di Indonesia. Penyelidikan terhadap kasus penyelundupan mobil mewah pada masa itu merupakan salah satu contoh nyata bagaimana korupsi dan kolusi dapat terjadi di tingkat tinggi. Oleh karena itu, penegakan hukum yang independen dan transparan sangat penting untuk menciptakan keadilan dan kepercayaan masyarakat.

Kita masih memiliki jalan panjang untuk mencapai penegakan hukum yang ideal, namun dengan mempelajari kasus-kasus seperti ini, kita dapat memahami pentingnya integritas dan independensi dalam penegakan hukum. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih adil dan transparan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714091414-25-750598/kapolri-hoegeng-tiba-tiba-dicopot-presiden-saat-bongkar-kasus-besar, without altering the facts of the original article.

Mantan Menteri RI Terciduk Jualan Beras di Glodok, Begini Reaksi Publik

Mantan Menteri Agama RI, Saifuddin Zuhri, menjadi sorotan publik setelah terciduk berjualan beras di Pasar Glodok, Jakarta, pada era 1980-an. Kehidupan pejabat negara setelah pensiun kerap menjadi tanda tanya publik, dan kasus Saifuddin Zuhri menjadi contoh bagaimana mantan menteri RI memilih untuk menjalani hidup sederhana. Saifuddin Zuhri merupakan Menteri Agama RI ke-10 yang dilantik pada 2 Maret 1962 dan mengakhiri masa jabatannya pada 1967.

Momen Penentu di Masa Pensiun

Setelah tak lagi menjadi menteri, Saifuddin Zuhri masih aktif di dunia politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) dan kemudian menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971. Namun, setelah benar-benar pensiun dari jabatan negara, kehidupannya berubah jauh dari kemewahan. Pada era 1980-an, Saifuddin Zuhri diketahui berjualan beras di Pasar Glodok. Setiap pagi sekitar pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, dia menyetir mobilnya sendiri sambil mengangkut barang dagangan menuju pasar.

Yang menarik, kegiatan berdagang tersebut berlangsung cukup lama tanpa diketahui keluarganya. Mereka hanya mengetahui Saifuddin Zuhri selalu pulang membawa uang, tetapi tidak pernah tahu dari mana penghasilan itu berasal. Hingga suatu hari, salah seorang putranya secara tidak sengaja memergoki sang ayah sedang berdagang di Pasar Glodok.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Saifuddin Zuhri memiliki komitmen untuk menjalani hidup sederhana dan mandiri. Sebagai menteri, dia menolak fasilitas rumah dinas dan memilih tetap tinggal di rumah pribadinya. Bahkan ketika didesak agar menerima fasilitas tersebut, dia tetap menolak karena tidak ingin bersikap serakah. “Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang,” tegasnya.

Saifuddin Zuhri juga memiliki pengalaman sebagai pedagang sejak 1942, ketika anak pertamanya lahir. Dia menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai dari pakaian bekas, peralatan rumah tangga bekas, hingga rokok. Kesederhanaan Saifuddin Zuhri sudah terlihat sejak masih menjabat sebagai Menteri Agama.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok menjadi contoh bagaimana mantan pejabat negara memilih untuk menjalani hidup sederhana dan mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa kesederhanaan dan komitmen untuk menjalani hidup mandiri dapat menjadi contoh bagi pejabat negara lainnya. Selain itu, kejadian ini juga menunjukkan bahwa mantan pejabat negara dapat memiliki kehidupan yang normal dan tidak bergantung pada jabatan mereka.

Pengabdian Saifuddin Zuhri seolah berlanjut ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, dipercaya menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo. Jejak hidup Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok menjadi refleksi bagi pejabat negara lainnya untuk menjalani hidup sederhana dan mandiri. Dalam menjalankan pemerintahan, pejabat negara harus memiliki komitmen untuk menjalani hidup sederhana dan tidak bergantung pada jabatan mereka. Dengan demikian, mereka dapat menjadi contoh bagi masyarakat dan menjalankan pemerintahan dengan integritas dan transparansi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714151404-25-750735/geger-mantan-menteri-ri-terciduk-jualan-beras-di-glodok, without altering the facts of the original article.

BPK Ungkap Utang Pajak Macet Rp 5,83 Triliun yang Belum Ditagih DJP hingga 2025

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat terdapat piutang pajak pada 2025 senilai Rp 83,61 triliun yang belum ditagih oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terhadap para wajib pajak (WP). Dari total utang yang belum tertagih secara tertib oleh DJP itu, BPK menemukan terdapat sebanyak 4.740 ketetapan piutang kualitas macet sebesar Rp5,83 triliun. Piutang pajak macet ini belum ditagih oleh DJP hingga 2025.

Piutang Pajak Macet yang Belum Ditagih

BPK mengungkapkan bahwa piutang pajak kualitas macet yang belum diterbitkan surat teguran mencapai Rp 52,44 miliar. Lalu, yang belum diterbitkan surat paksa Rp 1,49 triliun. Untuk piutang macet yang belum diberikan pemberitahuan atas surat paksa belum dilaksanakan mencapai Rp 341,29 miliar, belum diterbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP) Rp 2,82 triliun, dan belum dilaksanakan sita atas SPMP yang telah terbit Rp 1,12 triliun.

Dari hasil analisis lebih lanjut atas WP yang termasuk dalam Daftar Sasaran Prioritas Pencairan (DSPC) Tahun 2025, diketahui bahwa terdapat sebanyak 14 WP belum diterbitkan surat teguran dan sebanyak 43 WP belum diterbitkan surat paksa.

Proses Penagihan yang Dilakukan DJP

Subdirektorat Penagihan DJP menjelaskan bahwa pelaksanaan penagihan sepanjang tahun 2025 dilaksanakan dengan memprioritaskan pada WP yang masuk dalam DSPC Tahun 2025. Namun, pelaksanaan penagihan aktif tidak dapat dilaksanakan atas SKP/SPPT PBB yang belum diterbitkan STP.

Mengapa Penagihan Piutang Pajak Macet Belum Optimal?

BPK juga mencatat sejumlah kendala yang dialami DJP dalam melakukan penagihan piutang pajak macet ini. Misalnya, Juru Sita Pajak Negara atau JSPN dari KPP Pratama Badung Selatan dan KPP Pratama Tabanan yang telah memberikan penjelasan adanya surat paksa yang belum diberitahukan kepada WP disebabkan WP terkait tidak ditemukan.

Selain itu, pelaksanaan sita belum dapat dilaksanakan dikarenakan tidak adanya aset WP yang dapat disita baik aset fisik maupun rekening bank, sehingga JSPN masih berproses mencari objek sita lainnya yang dapat dikenakan atas WP terkait.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan adanya piutang pajak macet yang belum ditagih oleh DJP, maka pemerintah perlu meningkatkan upaya penagihan piutang pajak macet ini. Hal ini penting agar penerimaan pajak dapat optimal dan tidak ada lagi piutang pajak yang belum tertagih.

Pemerintah juga perlu meningkatkan koordinasi antara DJP dan instansi lainnya untuk mempercepat proses penagihan piutang pajak macet. Dengan demikian, diharapkan penerimaan pajak dapat meningkat dan piutang pajak macet dapat diminimalkan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan penerimaan pajak. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal penagihan piutang pajak macet.

Dengan komitmen dan kerja sama yang baik antara DJP dan instansi lainnya, diharapkan pemerintah dapat meningkatkan penerimaan pajak dan mengurangi piutang pajak macet. Hal ini penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260717085320-4-751515/temuan-bpk-utang-pajak-macet-rp-583-t-belum-ditagih-djp-pada-2025, without altering the facts of the original article.

Proyek Gas Raksasa Rp 390 Triliun di Indonesia, Lokasinya Terungkap

Momen Penentu di Menit Akhir

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek tersebut akan memiliki dampak signifikan pada ketahanan energi nasional. “Dan ini menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun atau setara 120 MMSCFD dan 35.000 barel kondensat per hari,” ujar Bahlil dalam sambutannya pada Groundbreaking Proyek Strategis Nasional LNG Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Adapun, dengan produksi sebesar itu, pemerintah memutuskan minimal 60% produksi gas dari Lapangan Abadi akan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, sedangkan 40% sisanya diekspor.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kebijakan tersebut diambil untuk mendukung program hilirisasi industri sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Gas dari Blok Masela akan dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai industri strategis, termasuk industri pupuk. “Sebagian akan diserahkan ke PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” katanya. Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia yang terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 lalu dan telah diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton per tahun (MMTPA) LNG dan 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari. Dengan demikian, proyek ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan pada perekonomian Indonesia dan meningkatkan ketahanan energi nasional.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Proyek Strategis Nasional LNG Lapangan Abadi Blok Masela ini masih memiliki tantangan yang harus dihadapi, termasuk masalah teknis dan lingkungan. Namun, dengan komitmen pemerintah dan investor, proyek ini diharapkan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah akan terus memantau perkembangan proyek ini dan memastikan bahwa proyek ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian dan masyarakat Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260717080938-4-751489/ri-punya-proyek-gas-raksasa-rp-390-triliun-di-sini-lokasinya, without altering the facts of the original article.