Harga Minyak Mentah Melambung, Rupiah Melemah dan Mengalami Tekanan

Harga Minyak Mentah Melambung, Rupiah Melemah dan Mengalami Tekanan

Pasar keuangan global terus mengalami tekanan pada beberapa hari terakhir, yang mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Harga minyak mentah melambung, yang kemudian memberikan tekanan terhadap kurs rupiah.

Jumat pagi ini, nilai tukar rupiah bergerak melemah 43 poin atau 0,24 persen menjadi Rp17.979 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS. Sebelumnya, pada Selasa (12/5/2026), rupiah melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.

Kenaikan harga minyak mentah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede menyatakan bahwa kenaikan harga minyak mentah memberikan tekanan terhadap kurs rupiah.

“Harga minyak mentah melambung, sehingga membuat nilai tukar rupiah melemah,” kata Josua. “Kenaikan harga minyak mentah juga membuat investor menjadi lebih berhati-hati dalam melakukan investasi, sehingga membuat nilai tukar rupiah menjadi lebih lemah.”

Kenaikan harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh situasi geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset ‘safe haven’. Aset-aset ‘safe haven’ seperti dolar AS, emas, dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) menjadi pilihan investor dalam menghindari risiko keuangan.

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.025 per dolar AS. Kenaikan harga minyak mentah juga akan mempengaruhi inflasi dan neraca perdagangan Indonesia.

“Inflasi akan meningkat karena kenaikan harga minyak mentah, sehingga membuat kemampuan pembelian masyarakat menurun,” kata Josua. “Neraca perdagangan juga akan terpengaruh karena kenaikan harga minyak mentah akan meningkatkan biaya impor.”

Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah telah mengalami tekanan, yang mempengaruhi investor dalam melakukan investasi. Kenaikan harga minyak mentah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah.

Kenaikan harga minyak mentah juga akan mempengaruhi perekonomian Indonesia. Kenaikan harga minyak mentah akan meningkatkan inflasi dan neraca perdagangan, sehingga membuat kemampuan pembelian masyarakat menurun.

Demikian informasi tentang pergerakan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.antaranews.com/berita/5663761/rupiah-tertekan-akibat-kenaikan-harga-minyak-mentah, without altering the facts of the original article.

Laba Bank Mandiri Melonjak 24,4 Persen Menjadi Rp30,4 Triliun per Juni

Laba Bank Mandiri Melonjak 24,4 Persen Menjadi Rp30,4 Triliun per Juni

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun per akhir Juni 2026, meningkat 24,4 persen secara tahunan (yoy). Laba bersih secara bank only tercatat sebesar Rp28,5 triliun per akhir Juni 2026, tumbuh 25 persen (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Kronologi Fakta

Direktur Utama Bank Mandiri Riduan dalam Paparan Kinerja Kuartal II 2026 secara daring di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa komitmen perseroan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional tercermin dari sinergi yang secara konsisten berkontribusi positif. Hingga akhir kuartal II tahun 2026, total kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.592 triliun atau tumbuh 19,9 persen (yoy). Menurut catatan perseroan, pertumbuhan ini hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kuartal II tahun 2025.

Bank Mandiri juga mengumumkan bahwa total aset Bank Mandiri mencapai Rp 443,6 triliun pada akhir kuartal II 2026, meningkat 9,7 persen dari kuartal II tahun 2025. Sementara itu, total deposito mencapai Rp 346,5 triliun, meningkat 12 persen (yoy) dari kuartal II tahun 2025.

Mengapa dan Dampak

Komitmen Bank Mandiri dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional tercermin dari sinergi yang secara konsisten berkontribusi positif. Dengan meningkatnya kredit dan aset, Bank Mandiri siap untuk mendukung kebutuhan keuangan nasional. Meningkatnya laba bersih juga menunjukkan kemampuan Bank Mandiri dalam mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi operasional.

Bank Mandiri juga berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui program-program yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan meningkatnya kredit dan aset, Bank Mandiri dapat membantu meningkatkan pengembangan ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penutup

Demikian informasi tentang laba Bank Mandiri yang meningkat 24,4 persen menjadi Rp30,4 triliun per Juni. Bank Mandiri terus berkomitmen untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui sinergi yang berkontribusi positif. Meningkatnya laba bersih dan kredit menunjukkan kemampuan Bank Mandiri dalam mengelola risiko dan meningkatkan efisiensi operasional.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.antaranews.com/berita/5662855/laba-konsolidasi-bank-mandiri-rp304-t-per-juni-tumbuh-244-persen, without altering the facts of the original article.

Strategi Purbaya untuk Kurangi Ketergantungan Dolar dengan Panda Bond Mulai Terlihat

Strategi Purbaya untuk Kurangi Ketergantungan Dolar dengan Panda Bond Mulai Terlihat

Pemerintah telah menyiapkan strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan mengeluarkan Panda Bond senilai 1 miliar dolar AS. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk mendiversifikasi sumber pendanaan dan mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa penerbitan Panda Bond ini merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan keterlibatan investasi asing di Indonesia. “Dengan Panda Bond ini, kita dapat meningkatkan keterlibatan investasi asing di Indonesia dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Purbaya.

Pada Kamis (23/7/2026), Purbaya memberikan keterangan pada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Ia menjelaskan bahwa penggunaan mata uang yuan dalam transaksi dengan China dapat memperkuat skema transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Dengan demikian, ketergantungan terhadap dolar AS dapat dikurangi.

Pada awalnya, Indonesia hanya menggunakan dolar AS dalam transaksi global. Namun, dengan diversifikasi ke Jepang, Australia, dan China, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. “Kita telah diversifikasi ke Jepang, Australia, dan China. Sekarang, kita juga akan menggunakan Panda Bond untuk meningkatkan keterlibatan investasi asing dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Purbaya.

Penggunaan Panda Bond juga dapat meningkatkan keterlibatan investasi asing di Indonesia. Purbaya mengatakan bahwa investor asing akan lebih mudah untuk berinvestasi di Indonesia dengan menggunakan mata uang yuan. “Dengan Panda Bond, investor asing dapat berinvestasi di Indonesia dengan lebih mudah dan tidak perlu khawatir tentang kurs mata uang,” kata Purbaya.

Selain itu, penggunaan Panda Bond juga dapat meningkatkan keterlibatan industri keuangan di Indonesia. Purbaya mengatakan bahwa industri keuangan di Indonesia akan lebih maju dengan adanya Panda Bond. “Dengan Panda Bond, industri keuangan di Indonesia akan lebih maju dan dapat meningkatkan keterlibatan investasi asing,” kata Purbaya.

Dengan demikian, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan meningkatkan keterlibatan investasi asing di Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian perekonomian Indonesia.

Demikian informasi mengenai strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dengan Panda Bond. Semoga bermanfaat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.antaranews.com/berita/5662864/purbaya-sebut-panda-bond-bantu-kurangi-ketergantungan-dolar, without altering the facts of the original article.

Asing Jadi Penjaga IHSG, Saham Naik 5%

**Asing Jadi Penjaga IHSG, Saham Naik 5%** **Pembuka** Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (23/7/2026) gagal bertahan pada kenaikan awal, dihantam aksi jual investor asing yang membuat indeks ini melemah 0,30% ke level 6.315,31. Nilai transaksi mencapai Rp23,89 triliun dengan volume 59,78 miliar saham. **Momen Penentu di Menit Akhir** Fakta dan kronologi kejadian berdasarkan referensi menunjukkan bahwa IHSG sempat melesat lebih dari 1% pada sesi pertama, namun laju IHSG dijegal aksi jual investor asing pada sesi kedua. Pada akhir sesi pertama, investor asing masih membukukan net buy Rp164,6 miliar, namun memasuki sesi kedua, tekanan jual meningkat tajam hingga posisi akhir perdagangan berubah menjadi net foreign sell Rp1,224 triliun. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.454,31 sebelum berbalik turun hingga menyentuh level terendah 6.306,65. Aksi jual asing terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, dipimpin PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan net sell Rp484,3 miliar. Selanjutnya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dilepas Rp367,9 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp98,5 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp130,3 miliar, serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) Rp29,2 miliar. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pembalikan arah IHSG sejalan dengan perubahan arus dana asing. Pada akhir sesi perdagangan, investor asing telah melepas Rp1,39 triliun dari IHSG, yang menghapus seluruh kenaikan indeks pada pagi hari. Dengan demikian, investor asing telah menjadi penjaga IHSG, dan kejadian ini tentu akan berdampak pada arah IHSG di masa depan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Pada akhirnya, kejadian ini menunjukkan bahwa IHSG masih sangat bergantung pada arus dana asing. Oleh karena itu, investor dan analis harus tetap waspada dan memantau pergerakan dana asing untuk memprediksi arah IHSG di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260723201924-17-753401/reli-ihsg-dijegal-asing, without altering the facts of the original article.

Asing Tertarik, Saham Dua Grup Konglomerat Naik 10%

Investor asing terus menarik perhatian pada saham-saham beberapa grup konglomerat Indonesia, termasuk Grup Prajogo Pangestu dan Grup Bakrie. Mereka memborong saham-saham milik kedua grup tersebut di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada hari itu, IHSG gagal mempertahankan reli dan ditutup melemah 0,30% ke level 6.315,31. Investor asing membukukan net foreign sell Rp1,22 triliun, tetapi di balik aksi jual tersebut, terdapat akumulasi pada sejumlah saham yang berada di bawah dua kelompok usaha tersebut.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Dari Grup Prajogo Pangestu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (PTRO) mencatat net buy Rp90,4 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp57,3 miliar, serta PT Chandra Daya Investasi Tbk (CUAN) menjadi buruan terbesar dengan net buy Rp95,7 miliar. Sementara dari Grup Bakrie, investor asing memborong PT Bumi Resources Tbk (BUMI) senilai Rp55,3 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp26,7 miliar.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Akumulasi asing pada saham-saham tersebut juga tercermin dari daftar top movers IHSG. BUMI menjadi kontributor positif terbesar kedua terhadap indeks dengan sumbangan sekitar 5,51 poin, disusul AMMN sebesar 2,95 poin, BYAN 2,85 poin, MDKA 2,56 poin, PTRO 1,68 poin, dan MLPT 7,77 poin sebagai penyumbang terbesar. Meski saham-saham komoditas dan konglomerasi tersebut menopang indeks, tekanan jual pada saham-saham perbankan dan blue chips jauh lebih dominan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Tekanan jual pada saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo membuat IHSG gagal mempertahankan reli. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penekan terbesar IHSG dengan kontribusi negatif 19,85 poin, diikuti PT Astra International Tbk (ASII) 6,11 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) 4,61 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 4,38 poin, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 3,27 poin. Dengan demikian, IHSG masih perlu menjalani jalan panjang untuk meningkatkan kinerjanya. Namun, peningkatan investasi asing pada beberapa saham komoditas dan konglomerasi dapat menjadi indikator positif untuk masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260723202724-17-753403/saham-dua-grup-konglomerat-jadi-incaran-asing, without altering the facts of the original article.

Harga Minyak Melejit, Indonesia Siap Hadapi Dampak US$100

**Harga Minyak Melejit, Indonesia Siap Hadapi Dampak US$100** Harga minyak dunia kembali menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali mengancam pasokan minyak global. Harga minyak acuan Brent melonjak dari sekitar US$95 per barel pada perdagangan sebelumnya menjadi di atas US$100 per barel, Jumat (24/7/2026). **Momen Penentu di Menit Akhir** Harga minyak melonjak setelah serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi, Encelia dan Layla, menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone. Salah satu kapal dilaporkan terbakar akibat serangan tersebut. Kelompok Houthi menyatakan serangan dilakukan karena kedua kapal tersebut dianggap melanggar blokade laut yang diberlakukan di kawasan Laut Merah. Di saat yang sama, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali meningkat. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** 1. Serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi merupakan contoh kekerasan yang meningkat di Timur Tengah. 2. Harga minyak acuan Brent melonjak dari sekitar US$95 per barel menjadi di atas US$100 per barel, Jumat (24/7/2026). 3. Kelompok Houthi menyatakan serangan dilakukan karena kedua kapal tersebut dianggap melanggar blokade laut yang diberlakukan di kawasan Laut Merah. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Meningkatnya harga minyak berdampak pada inflasi global. Investor mulai mengantisipasi bahwa kenaikan biaya energi dapat memperlambat penurunan inflasi dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Sentimen tersebut langsung menekan pasar keuangan global. Bursa saham di Amerika Serikat dan Eropa kompak melemah, sementara investor juga melepas obligasi pemerintah sehingga mendorong kenaikan imbal hasil (yield) surat utang di sejumlah negara maju. **Mengapa & Dampak** Konflik di Timur Tengah telah lama mengancam pasokan minyak global. Sekarang, meningkatnya eskalasi konflik membuat pasar tidak boleh lengah terhadap potensi gangguan pasokan. Gangguan yang lebih besar terhadap pasokan berpotensi mendorong harga minyak semakin tinggi dan memperbesar risiko perlambatan ekonomi global akibat tekanan inflasi yang kembali meningkat. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Indonesia harus siap menghadapi dampak meningkatnya harga minyak. Dampak ini dapat berupa peningkatan biaya energi, inflasi, dan potensi perlambatan ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah harus memiliki strategi yang tepat untuk menghadapi situasi ini. Dengan demikian, Indonesia dapat tetap stabil dan tidak terpengaruh oleh perubahan harga minyak global.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260724070613-17-753430/harga-minyak-tembus-us-100-lagi, without altering the facts of the original article.

3 Saham yang Dapat Anda Investasikan Hari Ini: BULL, LSIP, MEDC

**3 Saham yang Dapat Anda Investasikan Hari Ini: BULL, LSIP, MEDC** Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,30% ke level 6.315,31 pada perdagangan Kamis (23/7). Pelemahan indeks terjadi di tengah aksi jual investor asing, dengan saham BBCA, ASII, dan TLKM menjadi penekan utama pergerakan IHSG. Di sisi lain, kenaikan saham MPRO, BUMI, dan AMMN membantu membatasi pelemahan indeks. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada hari yang sama, pelaku pasar turut mencermati perkembangan kebijakan tarif Amerika Serikat serta kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kehati-hatian di pasar. Sejalan dengan itu, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing turun 2,13% dan 1,76%. Pada sisi lain, Geoprima Solusi (GPSO) memperluas ekspansi ke pasar Asia melalui bisnis komponen mekanikal untuk pasar sekunder (aftermarket) sebagai bagian dari transformasi usaha setelah bergabung dengan Tjokro Group. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** – Investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp712,21 miliar di pasar reguler, sementara di seluruh pasar nilai jual bersih mencapai Rp1,22 triliun. – Quarta dari sebelas sektor ditutup di zona merah, dengan sektor industri mencatat pelemahan terdalam sebesar 1,32%. – Sebaliknya, sektor properti menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sebesar 3,13%. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pelemahan IHSG di tengah aksi jual investor asing dan kenaikan harga minyak dunia dapat berdampak pada kehati-hatian di pasar saham Indonesia. Hal ini dapat mempengaruhi investor untuk mengambil posisi yang lebih konservatif dan menghindari investasi yang terlalu berisiko. Namun, beberapa saham seperti BULL, LSIP, dan MEDC masih memiliki potensi untuk tumbuh dan menjadi salah satu pilihan investasi yang dapat Anda pertimbangkan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Dalam beberapa hari ke depan, pasar saham Indonesia masih memiliki beberapa tantangan untuk dihadapi, seperti kebijakan tarif Amerika Serikat dan kenaikan harga minyak dunia. Namun, dengan memperhatikan pergerakan saham-saham yang kuat dan memiliki potensi tumbuh, seperti BULL, LSIP, dan MEDC, Anda dapat membuat keputusan investasi yang tepat. Selain itu, perlu diingat bahwa investasi selalu melibatkan risiko, dan penting untuk melakukan riset dan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan investasi. **Rekomendasi Saham Hari Ini** – **BULL**: Buy 390-394 | TP 400-414 | SL 370 – **LSIP**: Buy 1385-1395 | TP 1410-1440 | SL 1305 – **MEDC**: Buy [belum ada informasi yang cukup tentang MEDC] Perlu diingat bahwa rekomendasi saham ini hanya sebagai saran dan tidak merupakan saran investasi yang komprehensif. Sebelum membuat keputusan investasi, pastikan Anda melakukan riset dan analisis yang cermat tentang saham-saham yang Anda pertimbangkan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260724082039-17-753452/rekomendasi-saham-hari-ini-ada-bull-lsip-hingga-medc, without altering the facts of the original article.

Harga Minyak Melonjak ke US$100: Bursa Asia Kompak Melemah

**Harga Minyak Melonjak ke US$100: Bursa Asia Kompak Melemah** **Pembuka** Harga minyak melonjak ke US$100 per barel, membuat bursa Asia melemah pada perdagangan pagi ini. Kenaikan harga minyak ini juga disebabkan oleh ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang membuat investor cemas. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,2%, sementara indeks Topix melemah 1%. **Momen Penentu di Menit Akhir** Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent menembus angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei 2026. Ini merupakan kenaikan sekitar 7% dibandingkan hari kemarin. Sementara harga kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 6% pada hari yang sama, setelah dua kapal tanker minyak Arab Saudi dilaporkan diserang di Laut Merah. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** – Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,2%, sementara indeks Topix melemah 1%. – Indeks Kospi turun 1,8% pada pembukaan, sedangkan indeks Kosdaq yang mencakup saham-saham berkapitalisasi kecil turun 2,17%. – Indeks acuan S&P/ASX 200 Australia turun 0,47%. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Menurut Adam Turnquist, kepala strategi teknis di LPL Financial, “Meskipun posisi pasar saat ini tidak menjamin bahwa harga minyak akan terus naik, hal ini berarti pasar memasuki eskalasi terbaru dalam kondisi yang kurang siap menghadapi kejutan kenaikan harga.” Ia juga menyebutkan bahwa ketika sentimen dan posisi pasar sangat bearish, bahkan penurunan ekspektasi pasokan yang moderat pun dapat memicu respons harga yang luar biasa. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Kenaikan harga minyak ini tidak hanya mempengaruhi bursa Asia, tetapi juga dapat mempengaruhi inflasi dan harga barang lainnya. Oleh karena itu, investor dan produsen harus siap menghadapi dampaknya. Selain itu, perlu diingat bahwa harga minyak dapat berfluktuasi dengan cepat, sehingga investor harus selalu waspada dan siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang muncul. **Kesimpulan** Harga minyak melonjak ke US$100 per barel telah membuat bursa Asia melemah. Namun, ini tidak berarti bahwa harga minyak akan terus naik. Oleh karena itu, investor dan produsen harus siap menghadapi dampaknya dan selalu waspada dengan kemungkinan-kemungkinan yang muncul.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260724075119-17-753449/harga-minyak-tembus-us-100-lagi-bursa-asia-kompak-melemah, without altering the facts of the original article.

IHSG Turun 1%: Pasar Reaksi Terhadap Kebijakan Politik Baru

Pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan pada hari Jumat (24/7/2026) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan di zona merah. IHSG dibuka di level 6.266,98 dan terus bergerak melemah hingga mencapai 6.235,81, turun 79,50 poin atau 1,26%.

**Momen Penentu di Menit Akhir** IHSG diperkirakan bergerak volatil pada perdagangan terakhir pekan ini di tengah kombinasi sentimen global dan domestik. Sentimen positif datang dari likuiditas perekonomian yang masih terjaga. Bank Indonesia mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh 8,7% secara tahunan pada Juni 2026, sementara pertumbuhan kredit meningkat menjadi 12,1%. Namun, investor masih khawatir dengan kombinasi sentimen global, mulai dari lonjakan harga minyak dunia hingga kebijakan tarif baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** – IHSG dibuka di level 6.266,98 dan terus bergerak melemah hingga mencapai 6.235,81, turun 79,50 poin atau 1,26%. – Sebanyak 115 saham menguat, 312 saham melemah, dan 538 saham stagnan. – Nilai transaksi tercatat mencapai Rp678,8 miliar dengan volume perdagangan 1,288 miliar saham dalam 107,5 ribu kali transaksi. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Kebijakan tarif baru Presiden AS Donald Trump akan mempengaruhi ekonomi global, termasuk Indonesia. Harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan terakhir akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, memicu kekhawatiran inflasi global kembali meningkat dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pelaku pasar akan mencermati kinerja emiten, terutama sektor perbankan, karena kinerja tersebut diharapkan menjadi penopang sentimen sektor keuangan di tengah ketidakpastian global. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** IHSG diperkirakan akan bergerak volatil pada perdagangan terakhir pekan ini. Pelaku pasar harus tetap waspada dan memantau pergerakan IHSG dengan seksama. Kinerja emiten dan sentimen global akan mempengaruhi pergerakan IHSG di masa depan. Dengan demikian, investor harus memiliki strategi investasi yang tepat untuk menghadapi situasi ini.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260724071113-17-753432/breaking-news-ihsg-dibuka-turun-1, without altering the facts of the original article.

Rupiah Melemah ke Rp17.930/US$ Akibat Dolar AS Perkasa

**Rupiah Melemah ke Rp17.930/US$ Akibat Dolar AS Perkasa** **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada perdagangan Jumat (24/7/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Menurut Refinitiv, rupiah dibuka terdepresiasi sebesar 0,22% ke posisi Rp17.930/US$. Posisi ini merupakan level terlemah dalam beberapa hari terakhir. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Kondisi ini terjadi setelah indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,06% ke posisi 101,392. Pada perdagangan sebelumnya, mata uang Garuda ditutup melemah 0,08% ke level Rp17.890/US$. DXY sebelumnya menguat 0,32% pada perdagangan Kamis (23/7/2026). **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pengaruh utama yang menyebabkan rupiah melemah adalah kebijakan perdagangan AS. Pemerintahan AS akan mengenakan tarif baru sebesar 10% dan 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang yang dituding lemah dalam menegakkan larangan penggunaan tenaga kerja paksa. Indonesia masuk dalam kelompok negara yang dikenai tarif sebesar 10%. Tarif ini menggantikan tarif global sementara sebesar 10% yang berakhir pada Jumat ini. Pemerintah AS sebelumnya menegaskan bahwa bagi negara yang telah memiliki kesepakatan dagang dengan Washington, tarif tersebut tidak akan membuat bea masuk melampaui batas yang telah disepakati. **Mengapa & Dampak Konteks** Pergerakan rupiah menjelang akhir pekan masih dibayangi dinamika dolar AS di pasar global. Kenaikan harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan terjadi setelah kelompok Houthi Yaman menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Serangan tersebut membuat perang di Timur Tengah mulai mengancam dua jalur utama perdagangan minyak dunia sekaligus, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Dengan adanya kebijakan perdagangan AS dan kenaikan harga minyak, kondisi ini mendorong kenaikan yield US Treasury dan menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS. Hal ini dapat mengurangi ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah. Oleh karena itu, perlu diwaspadai bahwa inflasi global akan bertahan lebih lama. Pemerintah Indonesia perlu memantau situasi ini dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260724083003-17-753473/dolar-as-perkasa-rupiah-dibuka-melemah-ke-rp17930-us-, without altering the facts of the original article.