Warga Lebak Mekar Cirebon Patungan Terpaksa Tunggu APBD, Aspal Jalan 490 Meter Belum Dibangun

Warga Lebak Mekar Cirebon Patungan Terpaksa Tunggu APBD, Aspal Jalan 490 Meter Belum Dibangun Minggu pagi, warga RT 25 dan RT 26 di Desa Lebak Mekar, Cirebon Patungan, bergotong-royong mengaspal jalan lingkungan. Mereka memilih patungan untuk membeli aspal dan pasir demi melapisi jalan sepanjang 490 meter agar lebih kuat, awet, dan nyaman dilalui. Suasana kebersamaan terlihat nyata saat pemerintah desa dan perangkat desa turun langsung ke lapangan membantu proses pengerjaan. Momen Penentu di Menit Akhir Warga Desa Lebak Mekar memilih patungan untuk mengaspal jalan lingkungan karena belum ada anggaran dari pemerintah untuk pelapisan hotmix. Pada akhir tahun 2025, jalan yang dikerjakan telah dibangun dengan konstruksi jayamix atau cor beton sepanjang sekitar satu kilometer. Namun, karena keterbatasan anggaran, warga berinisiatif mengumpulkan dana secara swadaya agar kualitas jalan semakin baik dan lebih tahan lama. Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda Puluhan warga bergotong-royong mengaspal jalan lingkungan sepanjang 490 meter. Mereka memanaskan aspal menggunakan drum, menyemprotkan aspal cair ke badan jalan, dan menebarkan pasir serta meratakannya menggunakan papan kayu sederhana. Kuwu Desa Lebak Mekar, Mahmud, dan perangkat desa juga turun langsung ke lapangan membantu proses pengerjaan. Apa Artinya Ini ke Depan? Tokoh masyarakat Blok Tapak Kuda, Alim (60), mengatakan bahwa kegiatan pengaspalan swadaya masyarakat lahir dari kesepakatan warga setelah melihat keterbatasan anggaran pemerintah. “Hari ini kegiatan pengaspalan swadaya masyarakat. Kami berkoordinasi dengan pemerintah desa dan alhamdulillah pemerintah desa juga mampu memberikan dukungan.” “Karena sekarang APBD maupun APBN memang belum ada, akhirnya kami berinisiatif mengajak masyarakat RT 25 dan RT 26 untuk bersatu melakukan pengaspalan,” ujar Alim. Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh Warga Desa Lebak Mekar masih harus menunggu anggaran APBD atau APBN untuk pelapisan hotmix jalan yang telah dibangun pada akhir tahun 2025. Mereka berinisiatif mengumpulkan dana secara swadaya untuk meningkatkan kualitas jalan. Meskipun telah mengalami kemajuan, masih ada jalan yang panjang untuk ditempuh sebelum jalan yang lebih baik dan lebih tahan lama dapat dinikmati oleh masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178919/tak-tunggu-apbd-warga-lebak-mekar-cirebon-patungan-aspal-jalan-sepanjang-490-meter, without altering the facts of the original article.

Status Siaga Bencana di Pangandaran: Seluruh Kecamatan Terancam Kekeringan

Status Siaga Bencana di Pangandaran

Pangandaran, Jawa Barat, kini berada dalam status siaga bencana kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran memprediksi seluruh 10 kecamatan di Pangandaran berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau. Bahkan, sejumlah desa di beberapa kecamatan sudah lebih dulu merasakan dampaknya berupa krisis air bersih.

Kekeringan Melanda Sejumlah Desa

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, mengatakan desa yang kini sudah mengalami kekeringan antara lain Desa Mangunjaya di Kecamatan Mangunjaya, Desa Pamotan di Kecamatan Kalipucang, serta Desa Parakanmanggu di Kecamatan Parigi. Menurutnya, BPBD sudah menyalurkan bantuan air bersih ke tiga desa tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Mengapa Kekeringan Terjadi?

Kekeringan di Pangandaran dipicu oleh musim kemarau dan fenomena El Nino. Berdasarkan peta risiko bencana, wilayah Kabupaten Pangandaran masuk kategori risiko kekeringan sedang hingga tinggi. Pemerintah pusat pun telah mengalokasikan bantuan pembangunan sumur bor di Kabupaten Pangandaran untuk mendukung kebutuhan irigasi dan penyediaan air bersih di sejumlah lokasi.

Dampak Kekeringan

Dampak kekeringan ini dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di desa-desa yang telah mengalami krisis air bersih. BPBD masih terus memantau situasi dan telah menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang membutuhkan. Namun, hingga kini, belum ada laporan mengenai besaran kerugian yang ditimbulkan, baik pada sektor pertanian maupun akibat keterbatasan akses air bersih.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan status siaga bencana, Pemerintah Kabupaten Pangandaran berencana untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekeringan. Pemerintah daerah juga sedang menyusun Peraturan Bupati (Perbup) tentang penetapan status siaga bencana sebagai tindak lanjut kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan siap menghadapi potensi kekeringan yang masih mengancam.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pangandaran masih harus menempuh jalan panjang untuk menghadapi kekeringan. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan dampak kekeringan dapat diminimalisir dan masyarakat dapat terbantu. BPBD akan terus memantau situasi dan memberikan bantuan yang dibutuhkan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178498/pangandaran-tetapkan-status-siaga-bencana-seluruh-kecamatan-berpotensi-dilanda-kekeringan, without altering the facts of the original article.

Dedi Mulyadi Beri Santunan Rp 25 Juta ke Keluarga Korban Kecelakaan Maut Indramayu

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyerahkan santunan sebesar Rp 25 juta kepada masing-masing keluarga korban kecelakaan maut di Jalur Pantura, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kecelakaan yang terjadi pada Minggu (12/7/2026) itu menelan 12 korban jiwa. Dedi Mulyadi didampingi sejumlah pejabat menyerahkan langsung santunan kepada perwakilan keluarga korban di kediamannya yang berada di Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, pada Selasa (14/7/2026) sore.

Kronologi Kecelakaan Maut di Indramayu

Kecelakaan maut terjadi pada Minggu (12/7/2026) di Jalur Pantura, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Peristiwa itu melibatkan dua truk dan mobil pikap, yang mengakibatkan 12 orang kehilangan nyawa. Dedi Mulyadi yang mengetahui kejadian tersebut langsung mengambil tindakan dengan menyerahkan santunan kepada keluarga korban.

Mengapa Santunan Diberikan?

Santunan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat merupakan bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat yang terkena musibah. Kecelakaan maut seperti ini tentu sangat berdampak pada keluarga korban, baik secara emosional maupun secara materiil. Oleh karena itu, Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat merasa perlu untuk hadir dan memberikan bantuan.

Dampak dan Reaksi Keluarga Korban

Keluarga korban sangat berterima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Dedi Mulyadi dan Pemprov Jawa Barat. Warsem (58), perwakilan keluarga korban, menyampaikan bahwa santunan yang diterima oleh keluarga besarnya mencapai Rp 50 juta, karena terdapat dua anggota keluarganya yang menjadi korban dalam kejadian tersebut. Menurutnya, santunan ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah cucu (anak korban).

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kecelakaan maut di Indramayu ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak. Pemerintah dan masyarakat harus terus bekerja sama untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan di jalan raya. Bagi keluarga korban, mereka masih harus menjalani proses pemulihan dan penyesuaian dengan kehilangan yang mereka alami. Dedi Mulyadi berharap bahwa santunan yang diberikan dapat membantu meringankan beban keluarga korban, meskipun tidak dapat menggantikan kehilangan yang mereka alami.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178501/dedi-mulyadi-datangi-keluarga-korban-kecelakaan-maut-di-indramayu-serahkan-santunan-rp-25-juta, without altering the facts of the original article.

Jeje Gandeng Swasta untuk Perbaiki Rutilahu, Berapa Targetnya?

Rutilahu di Bandung Barat: Sebuah Prioritas Pembangunan

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus berupaya meningkatkan kualitas hidup warganya dengan memperbaiki Rumah Tidak Layak Huni (rutilahu). Bupati Jeje Ritchie Ismail berkomitmen untuk menambah jumlah perbaikan rutilahu di Bandung Barat pada tahun 2026 dengan menggandeng pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Jeje menyatakan bahwa perbaikan rutilahu merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan Bandung Barat.

Upaya Perbaikan Rutilahu

Perbaikan 367 rutilahu telah berlangsung sejak bulan Juni 2026 dan ditargetkan tuntas dalam 3 bulan. Jeje secara berkala melakukan pengecekan terhadap pengerjaan perbaikan rutilahu untuk memastikan kualitasnya. Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Bandung Barat, terdapat 15.000 rutilahu yang perlu mendapatkan perbaikan. Jeje optimis bahwa target ini dapat diselesaikan dengan kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta.

Mengapa Rutilahu Menjadi Prioritas?

Rutilahu menjadi prioritas karena berdampak langsung pada kualitas hidup warga. Dengan memperbaiki rutilahu, pemerintah berharap dapat meningkatkan kesejahteraan warga dan mengurangi angka kemiskinan. Selain itu, perbaikan rutilahu juga dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan mengurangi risiko bencana. Jeje menyatakan bahwa perbaikan rutilahu merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup warga dan menjadikan Bandung Barat sebagai kabupaten yang lebih baik.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan kerja sama antara pemerintah dan pihak swasta, diharapkan perbaikan rutilahu dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Jeje menyatakan bahwa pemerintah akan terus berupaya meningkatkan kualitas hidup warga dan menjadikan Bandung Barat sebagai kabupaten yang lebih baik. Perbaikan rutilahu diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi warga dan meningkatkan kualitas lingkungan. Dengan demikian, warga Bandung Barat dapat menikmati hidup yang lebih layak dan nyaman.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meski telah ada upaya perbaikan rutilahu, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Pemerintah dan pihak swasta harus terus bekerja sama untuk meningkatkan kualitas hidup warga dan menjadikan Bandung Barat sebagai kabupaten yang lebih baik. Dengan komitmen dan kerja keras, diharapkan target perbaikan rutilahu dapat tercapai dan warga Bandung Barat dapat menikmati hidup yang lebih layak dan nyaman.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1178503/bupati-jeje-bakal-gandeng-swasta-untuk-tambah-perbaikan-rutilahu-di-bandung-barat, without altering the facts of the original article.

Benteng di Gorontalo Direkatkan dengan Putih Telur, Konon Sebagai Upaya Anti-Gempa

**Benteng di Gorontalo Direkatkan dengan Putih Telur, Konon Sebagai Upaya Anti-Gempa** **Pembuka** Benteng Otanaha, sebuah cagar budaya yang berada di Kelurahan Dembe I, Kota Barat, Kota Gorontalo, telah menjadi salah satu spot wisata sejarah yang populer di daerah tersebut. Bangunan bersejarah ini dibangun pada tahun 1522 oleh Portugis di masa Raja Ilato dan menawarkan pemandangan cantik dari Danau Limboto. **APA YANG TERJADI** Benteng Otanaha dibangun sebagai benteng pertahanan, keamanan, dan pemantauan, menurut Arief Setiawan, juru pelihara Benteng Otanaha dari Kantor Pelestarian Kebudayaan Gorontalo. Terletak di perbukitan, benteng ini memiliki tiga bangunan berbentuk tabung yang menghadap arah angin yang berbeda. Ketiga benteng itu bernama Benteng Otanaha, Benteng Otahiya, dan Benteng Ulupahu. **MENGGAPAI & DAMPAK** Menurut Arief, penamaan benteng ini pun memiliki cerita. Raja Ilato memiliki seorang putra bernama Naha yang dikenal gemar berpetualang dan menemukan kembali benteng ini. Setelah menikah dengan Ohihiya dan memiliki dua putra, Pahu dan Limono, Naha terlibat perang melawan Hemuto untuk memperluas wilayah. Dalam pertempuran tersebut, Naha dan Pahu gugur. Limono kemudian membalas kematian ayah dan saudaranya dengan mengalahkan Hemuto. Untuk mengenang perjuangan keluarganya, tiga benteng di kawasan ini diberi nama: Otanaha, yang berasal dari nama Naha; Otahiya, diambil dari nama ibunya, dan Ulupahu dari nama saudaranya. Namun, narasi sejarah benteng Otanaha yang beredar di media sosial dan masyarakat tentang struktur bangunan benteng direkatkan dengan putih telur burung maleo ternyata tidak benar. Menurut Arief, benteng dibangun dari batuan sedimen, batu gamping terumbu karang, sedimen plastik maupun non-plastik, dan batu andesit sejenis batuan beku vulkanik. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** 1. Benteng Otanaha dibangun pada tahun 1522 oleh Portugis di masa Raja Ilato. 2. Benteng ini memiliki tiga bangunan berbentuk tabung yang menghadap arah angin yang berbeda. 3. Penamaan benteng ini memiliki cerita tentang perjuangan keluarga Raja Ilato. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Benteng Otanaha masih berdiri kokoh dan menjadi salah satu spot menikmati sunset di Gorontalo. Berada di kawasan perbukitan, traveler bisa berwisata sejarah sembari menikmati pemandangan Danau Limboto sepuas hati. Benteng ini juga telah dua kali pemugaran dan saat ini sedang tahap pengajuan kembali sebagai status cagar budaya nasional. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Kawasan Benteng Otanaho buka setiap hari mulai pukul 06.00 – 18.00 Wita. Untuk harga tiketnya Rp 10 ribu untuk wisatawan domestik, Rp 25 ribu untuk wisatawan mancanegara. Bila datang ke sini, traveler jangan memanjat sampai ke bagian atas bangunan benteng ya. Walaupun ketinggian benteng hanya 3 meteran saja, namun faktor keselamatan tetaplah nomor satu. Juga, bangunan benteng adalah cagar budaya yang harus kita jaga keberlanjutannya.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-8578482/konon-katanya-benteng-di-gorontalo-ini-direkatkan-dengan-putih-telur, without altering the facts of the original article.

Nasib PKL Jalan Kesambi Kota Cirebon Tanpa Kepastian, Puluhan Kios Disegel Tanpa Solusi

Momen Penentu di Menit Akhir

Puluhan kios pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Kesambi Kota Cirebon masih menghadapi nasib yang tidak pasti. Mereka yang sudah hampir setahun menunggu kepastian, justru mengaku dipinggirkan karena puluhan kios mereka disegel tanpa pemberitahuan dan tanpa adanya solusi yang jelas. Kondisi itu mendorong para pedagang untuk kembali mendatangi Gedung DPRD Kota Cirebon untuk meminta difasilitasi bertemu dengan Wali Kota Cirebon, Effendi Edo.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Sekitar 20 hingga 25 perwakilan pedagang mendatangi DPRD Kota Cirebon baru-baru ini. Mereka berharap keluhan yang selama ini tak kunjung mendapat tanggapan dapat diteruskan kepada Pemerintah Kota Cirebon maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Koordinator PKL Kesambi, Akbar Muttaqin mengatakan, kedatangannya ke DPRD merupakan bentuk ikhtiar terakhir setelah berbagai upaya komunikasi yang dilakukan sejak tahun lalu tak membuahkan hasil.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Menurut Akbar, para pedagang dibuat terkejut ketika mengetahui kios mereka telah disegel. “Kemarin teman-teman PKL ada yang disegel karena mereka kaget. Seperti seolah-olah bahwa kami ini melanggar yang betul-betul melanggar besar, padahal hanya pedagang, hanya untuk mencari sesuap nasi,” ucapnya. Akbar menyayangkan tindakan penyegelan yang dilakukan tanpa pemberitahuan maupun ruang dialog. Menurutnya, para pedagang tidak pernah diberi kesempatan untuk duduk bersama mencari jalan keluar.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Akbar menegaskan tujuan utama para pedagang datang ke DPRD bukan untuk menolak penataan, melainkan meminta difasilitasi bertemu dengan Wali Kota agar persoalan tersebut bisa diselesaikan melalui dialog. “Tujuan kami ke DPRD kemarin sebetulnya minta dipertemukan dengan bapak kita, Pak Wali Kota. Karena kami kan rakyatnya, pengen bertemu, ini keluhan kami,” katanya. Akbar mengaku para pedagang sudah berulang kali mengirimkan surat permohonan audiensi sejak Oktober 2025, namun hingga kini tidak pernah mendapat tanggapan.

Menemukan Kebenaran

Pulang ke rumah, para pedagang PKL Kesambi tetap optimis bahwa kebenaran akan terungkap dan keadilan akan dibawa kepadanya. Mereka yakin bahwa dengan kerja sama dan komunikasi yang baik, Pemerintah Kota Cirebon dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan menyadari kebenaran dan memberikan solusi yang tepat bagi mereka. Dengan demikian, mereka dapat kembali berjualan dengan aman dan nyaman, serta tidak perlu khawatir akan nasib mereka di masa depan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/cirebon/1178803/nasib-pkl-jalan-kesambi-kota-cirebon-tanpa-kepastian-puluhan-kios-disegel-tanpa-solusi, without altering the facts of the original article.

Sentra Gerabah Sitiwinangun Cirebon Terancam Punah, Apakah Desa Wisata Bisa Menyelamatkannya?

**Sentra Gerabah Sitiwinangun Cirebon Terancam Punah, Apakah Desa Wisata Bisa Menyelamatkannya?** **Momen Penentu di Menit Akhir** Sitiwinangun, Cirebon, merupakan sentra gerabah terkenal di Kabupaten Cirebon. Namun, desa ini terancam punah karena kurangnya upaya pelestarian dan pengembangan. Menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cirebon, Juju Juhariah, Gerabah Sitiwinangun memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata edukasi dan desa wisata berbasis kriya yang unggul. Ia mengatakan bahwa pengembangan kawasan tersebut harus berjalan beriringan dengan upaya pelestarian agar keterampilan membuat gerabah yang diwariskan secara turun-temurun tidak tergerus oleh perkembangan zaman. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Sentra pembuatannya berada di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, yang telah dikenal sebagai kampung pengrajin gerabah sejak masa Kesultanan Cirebon sekitar abad ke-15 hingga ke-16, atau sekitar 600 tahun lalu. Selama berabad-abad, masyarakat setempat memanfaatkan tanah liat berkualitas untuk menghasilkan berbagai peralatan rumah tangga. Gerabah Sitiwinangun sendiri merupakan salah satu kerajinan tradisional paling terkenal di Kabupaten Cirebon. Sebagai bagian dari upaya pelestarian, Disbudpar Kabupaten Cirebon menyelenggarakan Seminar Gerabah Sitiwinangun yang menjadi wadah bertukar pikiran mengenai strategi pelestarian sekaligus pengembangan kerajinan tradisional tersebut. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Menurut Juju, sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media menjadi faktor penting untuk memperkuat pelestarian sekaligus mengembangkan nilai ekonomi Gerabah Sitiwinangun. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu melahirkan berbagai gagasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat posisi Gerabah Sitiwinangun sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Cirebon sekaligus meningkatkan kesejahteraan para perajinnya. Gerabah Sitiwinangun memiliki nilai filosofis yang kuat dan hingga kini masih menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak keluarga pengrajin di Desa Sitiwinangun. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Dampak kehancuran Gerabah Sitiwinangun tidak hanya akan merugikan masyarakat setempat, tetapi juga akan menghilangkan nilai-nilai budaya yang sudah berabad-abad. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata edukasi dan desa wisata berbasis kriya yang unggul. Dengan demikian, Gerabah Sitiwinangun tidak hanya akan terus lestari, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan para perajinnya dan menjadi salah satu icon pariwisata Kabupaten Cirebon.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/cirebon/1178806/menjaga-tradisi-600-tahun-lalu-sentra-gerabah-sitiwinangun-cirebon-diproyeksikan-jadi-desa-wisata, without altering the facts of the original article.

Festival Rontek Pacitan: Pemkab Buka Panggung Berjalan dengan Konsep Baru

**Festival Rontek Pacitan: Pemkab Buka Panggung Berjalan dengan Konsep Baru** **Pembuka** Pemerintah Kabupaten Pacitan menghadirkan konsep panggung berjalan pada Festival Rontek 2026 sebagai inovasi penyelenggaraan sekaligus upaya memperkuat pelestarian budaya daerah dan meningkatkan daya tarik wisata. Festival Rontek Pacitan 2026 di Alun-Alun Pacitan, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026), dibuka oleh Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah. **Mengapa & Dampak** Festival Rontek bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan media pelestarian budaya, ruang edukasi, sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Menurut Gagarin, festival ini tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Pacitan, tetapi juga semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu festival unggulan tingkat nasional. Pemerintah daerah terus melakukan pembenahan penyelenggaraan festival agar semakin berkualitas dan mampu menarik lebih banyak wisatawan. Selain memiliki potensi wisata alam, Pacitan juga memiliki kekayaan budaya yang layak menjadi daya tarik wisata. Dengan konsep panggung berjalan, festival ini dapat dinikmati lebih leluasa oleh masyarakat, sehingga meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap budaya daerah. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** – Festival Rontek Pacitan 2026 diikuti 16 peserta dan satu peserta ekshibisi. – Konsep panggung berjalan dihadirkan berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan tahun sebelumnya serta masukan masyarakat. – Penyelenggaraan festival ini juga dimaksudkan untuk memperkuat kebersamaan masyarakat dan meningkatkan kesadaran terhadap budaya daerah. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Konsep panggung berjalan pada Festival Rontek 2026 diharapkan dapat meningkatkan kualitas pertunjukan dan memperkuat pelestarian budaya daerah. Dengan demikian, festival ini dapat menjadi daya tarik wisata yang lebih menarik dan meningkatkan kesadaran terhadap budaya daerah. Pemerintah daerah juga diharapkan dapat terus melakukan pembenahan penyelenggaraan festival agar semakin berkualitas dan mampu menarik lebih banyak wisatawan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Festival Rontek Pacitan 2026 merupakan langkah awal dalam upaya meningkatkan kualitas pertunjukan dan memperkuat pelestarian budaya daerah. Namun, masih banyak langkah yang harus diambil untuk mencapai tujuan tersebut. Pemerintah daerah harus terus melakukan pembenahan penyelenggaraan festival, meningkatkan kesadaran terhadap budaya daerah, dan meningkatkan daya tarik wisata. Dengan demikian, festival ini dapat menjadi salah satu festival unggulan tingkat nasional dan meningkatkan kesadaran terhadap budaya daerah.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.antaranews.com/berita/5654939/pemkab-pacitan-buka-fetival-rontek-dengan-konsep-panggung-berjalan, without altering the facts of the original article.

Gubernur Jambi: Kalender Terpadu Bikin Wisatawan Meregang

**Gubernur Jambi: Kalender Terpadu Bikin Wisatawan Meregang** **Pembuka** Gubernur Jambi Al Haris menyatakan adanya kalender kegiatan tahunan terpadu, sehingga masyarakat mengetahui jadwal pelaksanaan berbagai agenda wisata hingga budaya, dapat mendongkrak kunjungan wisata ke daerah itu. Kepastian jadwal akan memudahkan promosi sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan ke Provinsi Jambi. **Momen Penentu di Menit Akhir** Gubernur Al Haris menyampaikan pernyataannya saat membuka Pekan Budaya Jambi Elok Nian 2026 di Kota Jambi, Jumat (17/7) malam. Menurutnya, dengan menyusun agenda rutin itu masyarakat dapat mengetahui kapan setiap daerah menampilkan potensi terbaiknya, dan wisatawan dapat merencanakan kunjungannya ke Jambi. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Gubernur Al Haris menilai Pemerintah Kota Sungai Penuh berhasil menampilkan kekayaan budaya, kuliner, dan potensi wisata daerah di acara Jambi elok nian. Menurutnya, Kota Sungai Penuh memiliki peluang besar menjadi destinasi wisata budaya yang maju apabila seluruh potensi tersebut terus dikembangkan secara profesional. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Dengan adanya kalender kegiatan terpadu, pemerintah Provinsi Jambi dapat meningkatkan promosi dan kunjungan wisatawan ke daerah itu. Selain itu, pemerintah kabupaten dan kota dapat terus melestarikan budaya lokal, termasuk mengembangkan batik khas daerah. Gubernur Al Haris juga mengungkapkan bahwa kualitas batik Jambi saat ini telah berkembang sangat baik dan mampu bersaing dengan batik dari berbagai daerah di Indonesia. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Gubernur Al Haris mengajak seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk terus memperkuat sinergi dalam membangun Jambi agar semakin maju, kompetitif, dan berdaya saing. Selain itu, pemerintah Provinsi Jambi juga memiliki iklim investasi yang kondusif sehingga menjadi daerah yang menarik bagi investor maupun wisatawan. Untuk itu, pemerintah harus terus melengkapi pembangunan anjungan daerah di kawasan Taman Mini Melayu Jambi sebagai etalase budaya yang merepresentasikan kekayaan masing-masing daerah. **Kesimpulan** Dengan adanya kalender kegiatan terpadu, pemerintah Provinsi Jambi dapat meningkatkan promosi dan kunjungan wisatawan ke daerah itu. Selain itu, pemerintah harus terus memperkuat sinergi dalam membangun Jambi agar semakin maju, kompetitif, dan berdaya saing. Dengan demikian, Jambi dapat menjadi destinasi wisata yang menarik dan berdaya saing di Indonesia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.antaranews.com/berita/5654951/gubernur-jambi-kalender-kegiatan-terpadu-dongkrak-kunjungan-wisata, without altering the facts of the original article.

Status Siaga Bencana di Pangandaran: Seluruh Kecamatan Terancam Kekeringan

Status Siaga Bencana di Pangandaran

Pangandaran, Jawa Barat, kini berada dalam status siaga bencana kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran memprediksi seluruh 10 kecamatan di Pangandaran berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau. Bahkan, sejumlah desa di beberapa kecamatan sudah lebih dulu merasakan dampaknya berupa krisis air bersih.

Kekeringan Melanda Sejumlah Desa

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pangandaran, Dodo Kusnadi, mengatakan desa yang kini sudah mengalami kekeringan antara lain Desa Mangunjaya di Kecamatan Mangunjaya, Desa Pamotan di Kecamatan Kalipucang, serta Desa Parakanmanggu di Kecamatan Parigi. Menurutnya, BPBD sudah menyalurkan bantuan air bersih ke tiga desa tersebut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak.

Mengapa Kekeringan Terjadi?

Kekeringan di Pangandaran dipicu oleh musim kemarau dan fenomena El Nino. Berdasarkan peta risiko bencana, wilayah Kabupaten Pangandaran masuk kategori risiko kekeringan sedang hingga tinggi. Pemerintah pusat pun telah mengalokasikan bantuan pembangunan sumur bor di Kabupaten Pangandaran untuk mendukung kebutuhan irigasi dan penyediaan air bersih di sejumlah lokasi.

Dampak Kekeringan

Dampak kekeringan ini dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di desa-desa yang telah mengalami krisis air bersih. BPBD masih terus memantau situasi dan telah menyalurkan bantuan air bersih ke desa-desa yang membutuhkan. Namun, hingga kini, belum ada laporan mengenai besaran kerugian yang ditimbulkan, baik pada sektor pertanian maupun akibat keterbatasan akses air bersih.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dengan status siaga bencana, Pemerintah Kabupaten Pangandaran berencana untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekeringan. Pemerintah daerah juga sedang menyusun Peraturan Bupati (Perbup) tentang penetapan status siaga bencana sebagai tindak lanjut kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan siap menghadapi potensi kekeringan yang masih mengancam.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pangandaran masih harus menempuh jalan panjang untuk menghadapi kekeringan. Dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan dampak kekeringan dapat diminimalisir dan masyarakat dapat terbantu. BPBD akan terus memantau situasi dan memberikan bantuan yang dibutuhkan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/jabar-region/1178498/pangandaran-tetapkan-status-siaga-bencana-seluruh-kecamatan-berpotensi-dilanda-kekeringan, without altering the facts of the original article.