Jeroan sapi menjadi salah satu bahan makanan yang banyak diolah saat Idul Adha. Mulai dari paru, babat, usus hingga limpa kerap dijadikan soto, gulai, sate sampai sambal goreng favorit keluarga. Namun, banyak orang masih mengeluhkan aroma amis atau prengus yang tetap muncul meski sudah memakai banyak rempah. Padahal, rahasia mengolah jeroan bukan hanya soal jahe atau serai, tetapi juga terletak pada teknik penanganannya sejak awal.
Langsung merebus jeroan setelah dicuci adalah kesalahan yang sering terjadi. Teknik perebusan bertahap sering digunakan saat mengolah jeroan untuk membantu mengurangi aroma menyengat. Salah satu cara yang banyak dilakukan adalah memasukkan jeroan saat air masih dingin atau hangat, lalu memanaskannya perlahan hingga mendidih. Setelah direbus sekitar 10-15 menit, air rebusan pertama biasanya dibuang karena cenderung mengandung lemak dan aroma yang cukup kuat.
Momen Penentu di Menit Awal
Sebab, uap rebusan bisa membuat aroma menyengat bertahan lebih lama. Sebagian orang memilih tidak menutup panci terlalu rapat ketika perebusan pertama berlangsung agar aroma tajam dapat keluar bersama uap panas. Cara ini memang bukan aturan wajib, tetapi cukup sering dipakai saat mengolah jeroan agar bau prengus tidak terlalu kuat.
Menambahkan garam sejak awal sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Namun, sebagian orang memilih menambahkan garam setelah perebusan pertama selesai agar rasa dan tekstur jeroan tetap terjaga. Penggunaan garam berlebihan di tahap awal juga dapat membuat rasa jeroan menjadi terlalu tajam sebelum bumbu lain meresap sempurna.
Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda
Jeruk nipis atau cuka cukup populer digunakan untuk membantu mengurangi aroma amis pada jeroan. Kandungan asamnya dapat membantu menetralisir bau yang kuat. Meski begitu, penggunaan berlebihan juga kurang disarankan karena bisa memengaruhi tekstur dan rasa alami jeroan. Biasanya, jeroan cukup dilumuri jeruk nipis selama beberapa menit sebelum dibilas kembali menggunakan air bersih.
Sejumlah penjual soto memilih merebus jeroan secara terpisah sebelum dicampurkan ke kuah utama. Setelah direbus, jeroan biasanya didiamkan sejenak agar aroma tajam berkurang terlebih dahulu. Cara ini dinilai membantu rasa kuah tetap lebih bersih dan tidak terlalu prengus.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Setelah direbus, jeroan sebaiknya tidak langsung ditutup rapat saat masih sangat panas. Membiarkannya sedikit mendingin sebelum disimpan dapat membantu mengurangi kelembapan berlebih di dalam wadah. Panduan keamanan pangan juga menyarankan makanan matang disimpan pada suhu yang aman agar kualitasnya tetap terjaga. Jika tidak langsung dimasak, simpan jeroan dalam wadah tertutup di kulkas atau freezer.
Penggunaan banyak rempah belum tentu membuat jeroan otomatis bebas bau amis. Teknik pembersihan, perebusan bertahap dan pengolahan yang tepat justru menjadi faktor yang lebih penting. Dengan cara yang benar, jeroan sapi bisa terasa lebih gurih, empuk dan tetap nikmat disantap tanpa aroma menyengat yang berlebihan.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Jeroan sapi memang memerlukan penanganan khusus untuk menghilangkan bau amisnya. Oleh karena itu, memahami teknik pengolahan jeroan yang tepat sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan memperhatikan beberapa hal di atas, Anda dapat menikmati jeroan sapi yang lezat dan bebas dari bau amis yang tidak sedap.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/syariah/20260529143758-29-738782/kesalahan-masak-ini-bisa-bikin-jeroan-sapi-tetap-bau-amis, without altering the facts of the original article.