PHK Massal Gara-Gara AI, Bos Malah Kaget Kantong Perusahaan Boncos

PHK massal gara-gara AI ternyata tidak serta-merta membuat perusahaan menghemat biaya. Banyak perusahaan yang awalnya antusias mengganti atau mengurangi tenaga kerja manusia dengan kecerdasan buatan (AI), kini malah kaget karena tagihan biaya penggunaan AI justru membengkak dan sering kali melebihi gaji karyawan yang sudah dirumahkan.

Biaya AI yang Membengkak

Sebuah laporan terbaru dari firma akuntan terkemuka KPMG yang dirilis awal Juli 2026, menyebutkan bahwa biaya penggunaan AI dapat meningkat drastis seiring dengan meningkatnya penggunaan. Selama masa uji coba, penyedia layanan AI biasanya menawarkan kontrak harga tetap atau diskon besar agar perusahaan tertarik mencoba. Namun seiring melonjaknya biaya daya komputasi, hampir semua pengembang model bahasa besar kini beralih ke sistem pembayaran berdasarkan pemakaian atau dihitung per unit data yang diproses.

Artinya, makin sering AI dipakai, makin besar tagihannya. Banyak direksi yang awalnya mengira biayanya tetap, kini terkejut menerima rekening yang nilainya terus naik drastis. Survei KPMG yang melibatkan 2.145 eksekutif senior dari 20 negara menemukan fakta mencengangkan. Sebanyak 29% mengaku tidak tahu persis dari mana asal kenaikan biaya AI tersebut, sedangkan 33% menyatakan ketidaktahuan mereka soal hitungan ekonomi AI justru menjadi penghambat.

Mengapa Biaya AI Meningkat?

Banyak organisasi masih membangun kemampuan untuk meramalkan, memantau, dan mengelola pengeluaran AI secara tepat. Logika awal para CEO sederhana yaitu mengganti karyawan dengan AI sehingga biaya gaji, tunjangan, dan cuti akan hilang. Namun, kenyataannya berbeda. AI membutuhkan infrastruktur server dan listrik yang tidak murah, tenaga ahli khusus, dan masih membutuhkan intervensi manusia untuk “memperbaiki” kesalahan AI.

Dampaknya, tagihan penggunaan AI yang diukur menggunakan token, membengkak berkali-kali lipat karena pemakaian tidak dibatasi. Dalam beberapa kasus yang dilaporkan, perusahaan malah mengeluarkan biaya untuk AI yang nilainya dua hingga tiga kali lipat dari anggaran gaji tim yang sebelumnya diberhentikan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian ini memiliki dampak besar bagi perusahaan yang berencana untuk mengadopsi AI. Mereka harus lebih berhati-hati dalam menghitung biaya penggunaan AI dan memastikan bahwa mereka memiliki sistem pengawasan anggaran AI secara jelas dan terukur. Selain itu, perusahaan juga harus mempertimbangkan bahwa mempertahankan tenaga kerja yang terlatih justru lebih terukur biayanya dibandingkan mengandalkan sistem yang tagihannya tak terduga.

Strategi pemangkasan biaya yang mengandalkan AI kini kembali dikaji ulang. Banyak perusahaan mulai sadar bahwa mengganti karyawan dengan AI tidak selalu solusi yang efektif. Mereka harus lebih selektif dalam memilih teknologi yang tepat dan memastikan bahwa teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan harus terus memantau perkembangan teknologi AI dan memastikan bahwa mereka dapat menggunakannya secara efektif. Mereka juga harus terus meningkatkan kemampuan untuk meramalkan, memantau, dan mengelola pengeluaran AI secara tepat. Dengan demikian, perusahaan dapat memperoleh manfaat dari teknologi AI tanpa harus menghadapi biaya yang tidak terduga.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260710113743-37-749757/bos-phk-karyawan-diganti-ai-biar-tak-bayar-gaji-kantong-malah-boncos, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *