Pakar Unair Ungkap Pola Lama Tak Lagi Prediksi Musim Hujan, Risiko Bencana Meningkat dan Perlu Tindakan Baru dari Pemerintah
Pakar Unair Ungkap Pola Lama Tak Lagi Prediksi Musim Hujan, Risiko Bencana Meningkat dan Perlu Tindakan Baru dari Pemerintah menyoroti perubahan drastis dalam pola cuaca Indonesia, yang menuntut kesiapsiagaan masyarakat dan kebijakan publik yang lebih responsif.
Perubahan Pola Cuaca dan Prediksi Hujan
Menurut laporan Wartawan TribunJatim.com, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi hujan dengan intensitas menengah hingga tinggi dari Desember 2026 hingga Maret 2027. Masyarakat diingatkan untuk tidak mengabaikan peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan BMKG. Meskipun periode tersebut diprediksi berlangsung selama empat bulan, intensitas hujan tinggi berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga puting beliung.
Pakar Unair Ungkap Pola Lama Tak Lagi Prediksi Musim Hujan, Risiko Bencana Meningkat dan Perlu Tindakan Baru dari Pemerintah menekankan bahwa perubahan iklim membuat pola cuaca tidak selalu berjalan sesuai dengan perkiraan waktu yang selama ini menjadi acuan. Koordinator Program Studi Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Aditya Prana Iswara, S.T., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan cuaca.
Faktor Risiko dan Tantangan Kesiapsiagaan
Aditya menjelaskan bahwa tantangan iklim dalam beberapa waktu terakhir menunjukkannya bahwa pemahaman terhadap risiko bencana, kondisi lingkungan, serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat juga menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak bencana. “Sebagai manusia kita harus mempersiapkan sejak awal. Kalau dari sisi mitigasi bencana saya selalu menekankan ada tiga faktor makro dan mikro,” ujar beliau pada Rabu (4/11/2026).
Faktor makro meliputi kondisi geografis, sistem sirkulasi atmosfer, dan variabilitas iklim global. Sementara faktor mikro berhubungan dengan kondisi lokal, seperti topografi, vegetasi, dan infrastruktur. Ketika kedua faktor ini bersatu dengan intensitas hujan tinggi, risiko bencana meningkat secara signifikan.
Potensi Dampak Bencana Hidrometeorologi
Potensi hujan menengah hingga tinggi yang diperkirakan berlangsung Desember 2026 hingga Maret 2027 dapat memicu banjir di daerah pegunungan dan dataran rendah. Tanah longsor juga menjadi risiko tinggi, terutama di wilayah dengan lereng curam dan vegetasi yang menipis. Angin kencang dan puting beliung menambah beban pada struktur bangunan, mengancam keselamatan jiwa dan harta benda.
Perubahan pola cuaca yang tidak terduga juga dapat memperburuk kondisi tanah, membuatnya lebih mudah mengendap air. Hal ini meningkatkan potensi longsor, terutama di daerah yang sudah mengalami deforestasi atau erosi. Selain itu, intensitas hujan tinggi dapat merusak sistem drainase yang sudah usang, menyebabkan banjir flash yang sulit diprediksi.
Peran Pemerintah dalam Mitigasi dan Adaptasi
Pakar Unair Ungkap Pola Lama Tak Lagi Prediksi Musim Hujan, Risiko Bencana Meningkat dan Perlu Tindakan Baru dari Pemerintah menekankan perlunya tindakan baru dari pemerintah. Kebijakan publik harus mencakup peningkatan kapasitas pemantauan cuaca, penyediaan sistem peringatan dini yang lebih cepat, serta pembangunan infrastruktur tahan bencana.
Selain itu, pemerintah perlu mengembangkan program edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana, termasuk pelatihan tanggap darurat dan pemahaman risiko. Partisipasi aktif masyarakat dapat memperkuat jaringan respon darurat, mengurangi waktu reaksi saat bencana terjadi.
Kesadaran Masyarakat dan Kesiapsiagaan Individu
Dalam menghadapi risiko bencana, kesadaran masyarakat menjadi kunci. Masyarakat diharapkan untuk memperhatikan peringatan BMKG, menyiapkan rencana evakuasi, serta melengkapi perlengkapan darurat. Membangun jaringan informasi lokal, seperti kelompok tetangga atau komunitas, dapat mempercepat penyebaran informasi penting.
Perlunya kesiapsiagaan juga mencakup penataan ruang. Masyarakat harus menghindari pembangunan di area rawan longsor atau banjir, serta memperkuat struktur bangunan dengan standar tahan gempa dan hujan. Investasi dalam sistem drainase dan vegetasi dapat menurunkan risiko banjir dan longsor.
Kesimpulan dan Harapan ke Depan
Pakar Unair Ungkap Pola Lama Tak Lagi Prediksi Musim Hujan, Risiko Bencana Meningkat dan Perlu Tindakan Baru dari Pemerintah menegaskan bahwa perubahan pola cuaca menuntut adaptasi yang lebih cepat. Kesiapsiagaan tidak hanya bergantung pada prediksi cuaca, melainkan juga pada pemahaman risiko, kondisi lingkungan, dan kemampuan masyarakat.
Dengan koordinasi antara pemerintah, lembaga meteorologi, dan masyarakat, risiko bencana dapat dikurangi. Upaya kolektif dalam meningkatkan sistem peringatan dini, infrastruktur, dan edukasi akan memperkuat ketahanan Indonesia terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin intens.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jatim.tribunnews.com/jatim/565570/musim-hujan-tak-bisa-diprediksi-dengan-pola-lama-pakar-unair-ungkap-risiko-bencana, without altering the facts of the original article.