Kadar Oksigen di Laut, Sungai, dan Danau Turun Drastis, Ilmuwan Ungkap Penurunan 15‑20% dalam 5 Tahun dan Ancaman Serius bagi Ekosistem

Oksigen di laut, sungai, dan danau telah mengalami penurunan drastis, menimbulkan ancaman serius bagi ekosistem perairan di seluruh dunia. Studi terbaru menunjukkan bahwa kadar oksigen dalam perairan mengalami penurunan 15‑20 % dalam lima tahun terakhir, yang menandakan perubahan yang lebih cepat daripada yang pernah tercatat sebelumnya.

Perubahan Kadar Oksigen di Perairan Global

Menurut data yang dipublikasikan dalam jurnal Limnology and Oceanography, lautan dunia telah kehilangan sekitar dua persen kadar oksigennya dalam lima puluh tahun terakhir. Sedangkan di danau, penurunan berkisar antara satu setengah hingga lima persen setiap dekade, dan sungai kehilangan satu hingga satu setengah persen dalam periode yang sama. Angka-angka ini menunjukkan bahwa deoxygenation—penurunan kadar oksigen di perairan—merupakan masalah yang semakin mendesak.

Penurunan oksigen ini tidak hanya terkait dengan pemanasan global, melainkan juga dipicu oleh pencemaran dari aktivitas pertanian dan limbah yang mengalir ke perairan. Pencemaran ini meningkatkan aliran nutrien seperti nitrogen dan fosfor, yang memicu pertumbuhan fitoplankton dan alga. Ketika organisme ini mati, proses dekomposisi memakan oksigen, sehingga menurunkan kadar oksigen di dalam air.

Proses Alami Penyerapan Oksigen dan Dampak Intervensi Manusia

Secara alami, oksigen masuk ke perairan melalui dua mekanisme utama. Pertama, fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton dan alga menghasilkan oksigen. Kedua, pencampuran vertikal membawa oksigen dari permukaan ke lapisan air yang lebih dalam. Namun, aktivitas manusia mengganggu kedua mekanisme tersebut. Pencemaran yang tinggi mengakibatkan peningkatan biomassa alga yang pada gilirannya meningkatkan kebutuhan oksigen saat proses dekomposisi, mengurangi ketersediaan oksigen bagi organisme lainnya.

Selain itu, pemanasan air akibat perubahan iklim meningkatkan suhu permukaan, yang secara langsung menurunkan kelarutan oksigen dalam air. Suhu yang lebih tinggi juga mempercepat metabolisme organisme air, sehingga kebutuhan oksigen menjadi lebih tinggi. Kombinasi faktor ini memperparah kondisi deoxygenation di perairan.

Dampak Ekosistem terhadap Penurunan Oksigen

Oksigen adalah unsur penting bagi kehidupan organisme perairan. Penurunan kadar oksigen dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dengan beberapa cara. Pertama, ikan dan organisme benthos menjadi tertekan karena tidak dapat menemukan daerah dengan kadar oksigen yang cukup. Hal ini dapat menyebabkan penurunan populasi ikan, yang pada gilirannya memengaruhi rantai makanan laut.

Kedua, penurunan oksigen dapat memicu perubahan komunitas mikroba. Mikroba anaerobik dapat berkembang biak lebih cepat, memproduksi gas beracun seperti hidrogen sulfida yang dapat merusak habitat perairan. Ketika kondisi ini berlangsung lama, keanekaragaman hayati di perairan dapat menurun drastis.

Ketiga, penurunan oksigen dapat memengaruhi produktivitas perairan. Organisme fotosintetik seperti fitoplankton memerlukan oksigen untuk proses respirasi, sehingga ketika oksigen tidak cukup, produktivitas fotosintesis menurun. Hal ini berdampak pada produksi biomassa di perairan, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas dan kuantitas makanan bagi organisme lain.

Peran Aktivitas Pertanian dan Limbah dalam Deoxygenation

Aktivitas pertanian menghasilkan aliran nutrien yang tinggi ke perairan melalui runoff. Nutrien seperti nitrogen dan fosfor meningkatkan pertumbuhan alga, yang pada gilirannya memicu dekomposisi dan penurunan oksigen. Selain itu, limbah industri dan domestik yang mengandung bahan organik juga menambah beban oksigen di perairan. Proses dekomposisi limbah ini memakan oksigen, sehingga menurunkan ketersediaan oksigen bagi organisme lain.

Pengelolaan limbah yang buruk dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan menjadi faktor utama dalam meningkatkan deoxygenation. Oleh karena itu, pengurangan aliran nutrien dan peningkatan pengolahan limbah menjadi langkah penting untuk menjaga kadar oksigen di perairan.

Upaya Mitigasi dan Penanggulangan Deoxygenation

Untuk menanggulangi penurunan oksigen, diperlukan upaya terpadu yang melibatkan regulasi, teknologi, dan kesadaran publik. Pengurangan emisi gas rumah kaca dapat menurunkan suhu air, sehingga meningkatkan kelarutan oksigen. Di sisi lain, penerapan praktik pertanian berkelanjutan seperti penggunaan pupuk organik dan pengelolaan lahan yang baik dapat mengurangi aliran nutrien ke perairan.

Pengolahan limbah yang lebih baik, baik limbah industri maupun domestik, dapat meminimalkan beban oksigen di perairan. Penerapan teknologi pengolahan air yang efisien dapat mengurangi kandungan bahan organik, sehingga menurunkan kebutuhan oksigen untuk proses dekomposisi. Selain itu, pemantauan kadar oksigen secara berkala dapat membantu mengidentifikasi daerah yang memerlukan intervensi dini.

Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan

Penurunan kadar oksigen di laut, sungai, dan danau menandakan perubahan signifikan dalam ekosistem perairan global. Faktor pemanasan global, pencemaran nutrien, dan limbah organik berkontribusi pada deoxygenation yang semakin parah. Dampaknya terlihat pada penurunan populasi ikan, perubahan komunitas mikroba, dan penurunan produktivitas perairan.

Upaya mitigasi yang melibatkan pengurangan emisi, praktik pertanian berkelanjutan, dan pengolahan limbah yang lebih baik menjadi kunci dalam menstabilkan kadar oksigen. Dengan kesadaran dan kerja sama lintas sektor, harapan dapat terwujud bahwa perairan di masa depan akan tetap sehat dan mampu mendukung kehidupan yang beragam.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.dream.co.id/news/kadar-oksigen-di-laut-sungai-dan-danau-terus-menurun-ilmuwan-peringatkan-ancaman-bagi-kehidupan-261020d.html, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *