Data Kemenkes Ungkap Lebih dari 75.000 Balita Indonesia Terdampak Karhutla, Angka Kematian dan Penyakit Pernapasan Meroket Tajam Akibat Udara Buruk
Data Kemenkes mengungkapkan bahwa lebih dari 75.000 balita di Indonesia terdampak oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dengan angka kematian dan penyakit pernapasan meroket tajam akibat udara buruk.
Perkembangan Kualitas Udara di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, dr. Then Suyanti, memaparkan perkembangan dampak karhutla dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis, 22 Oktober 2026. Menurut data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), tujuh kabupaten/kota di Kalimantan Tengah masih berada di kategori berbahaya. Kota Palangka Raya menjadi yang paling parah dengan indeks mencapai 1.297, diikuti oleh Kabupaten Murung Raya (722) dan Kabupaten Barito Selatan (555).
Di Sumatra Selatan, tiga kabupaten/kota juga berada dalam kategori berbahaya. Kota Palembang mencatat ISPU tertinggi di wilayah tersebut, yaitu 552. Data ini menunjukkan bahwa polusi udara akibat karhutla tidak hanya terbatas pada satu wilayah, melainkan menular ke berbagai daerah di pulau Jawa dan Sumatra.
Dampak pada Kesehatan Balita: Kematian dan Penyakit Pernapasan
Data Kemenkes menegaskan bahwa lebih dari 75.000 balita di Indonesia terpapar polusi udara dari karhutla. Akibatnya, angka kematian balita meningkat drastis, sementara kasus penyakit pernapasan seperti bronkitis, asma, dan infeksi saluran pernapasan atas juga melonjak tajam. Kondisi ini disebabkan oleh partikel PM2,5 dan PM10 yang menembus saluran pernapasan dan memicu peradangan.
Balita, dengan sistem imun yang belum sepenuhnya matang, lebih rentan terhadap efek buruk polusi udara. Paparan jangka pendek dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, sementara paparan jangka panjang dapat memperparah kondisi kronis dan menurunkan kualitas hidup.
Alasan di Balik Peningkatan ISPU dan Dampak Kesehatan
Karhutla di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan dipicu oleh kombinasi faktor cuaca kering, suhu tinggi, dan aktivitas manusia seperti pembukaan lahan. Kondisi ini menghasilkan asap tebal yang menembus wilayah metropolitan dan menyebabkan ISPU melampaui batas aman.
Penggunaan bahan bakar fosil dan pembakaran lahan secara tidak terkendali menambah beban polusi. Selain itu, aliran udara dari barat ke timur membawa partikel berbahaya ke wilayah yang sebelumnya tidak terkena dampak langsung, memperpanjang periode paparan bagi penduduk kota.
Langkah-langkah Penanggulangan dan Pemberdayaan Masyarakat
Kemenkes bersama BNPB telah meluncurkan beberapa inisiatif untuk mengurangi dampak karhutla. Salah satu upaya adalah pemantauan ISPU secara real-time dan penyebaran informasi kepada masyarakat melalui aplikasi mobile. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelanggaran kebakaran lahan diharapkan dapat menurunkan jumlah kebakaran.
Program edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan penggunaan teknologi pertanian berkelanjutan juga ditekankan. Dengan melibatkan masyarakat lokal, diharapkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan lahan akan meningkat.
Kesimpulan dan Harapan ke Depan
Data Kemenkes menegaskan bahwa karhutla masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan balita di Indonesia. Kualitas udara yang menurun, ditambah dengan peningkatan angka kematian dan penyakit pernapasan, menuntut tindakan cepat dan terkoordinasi.
Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat, diharapkan ISPU dapat menurun dan dampak kesehatan pada balita dapat diminimalisir. Peningkatan pemantauan, penegakan hukum, dan edukasi lingkungan menjadi kunci untuk mengurangi risiko karhutla di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20261022183711-33-778686/tragedi-karhutla-udara-buruk-balita-ri-korban-lebih-75000-kasus, without altering the facts of the original article.