5 Negara Paling Damai di ASEAN 2024: Laos Puncaki, Indonesia Tertinggal, Analisis Faktor Keamanan, Ekonomi, dan Kebijakan Pemerintah
Indonesia, meski terletak di wilayah yang strategis dan memiliki populasi terbesar di ASEAN, berada di posisi terakhir dalam daftar 5 negara paling damai di ASEAN menurut Global Peace Index 2026. Peringkat ini menempatkan Laos sebagai negara paling damai di kawasan, sementara Singapura menempati posisi pertama di Asia Tenggara secara keseluruhan. Perubahan posisi ini memunculkan pertanyaan penting mengenai faktor-faktor yang memengaruhi tingkat perdamaian di negara-negara ASEAN, serta dampaknya bagi stabilitas regional.
Perubahan Peringkat Global Peace Index 2026
Global Peace Index (GPI) 2026, yang diterbitkan oleh Institute for Economics & Peace, menilai 163 negara dan wilayah independen berdasarkan 23 indikator yang mencakup keamanan masyarakat, konflik domestik dan internasional, serta militerisasi. Dari 99,7 persen populasi dunia, laporan ini menunjukkan tren penurunan tingkat perdamaian global, dengan konflik bersenjata sebagai penyebab utama. Islandia tetap menjadi negara paling damai dengan skor 1.161, diikuti oleh Selandia Baru, Swiss, Slovenia, dan Irlandia. Di sisi lain, Rusia, Sudan, Republik Demokratik Kongo, Ukraina, dan Israel menduduki lima posisi terbawah.
Di Asia Tenggara, Singapura menempati posisi pertama dengan skor 1.435, menunjukkan tingkat keamanan dan stabilitas yang tinggi. Namun, ketika fokus dipusatkan pada negara-negara ASEAN, Laos muncul sebagai yang paling damai, sementara Indonesia, dengan populasi terbesar di kawasan, berada di posisi terbawah. Peringkat ini menyoroti perbedaan signifikan dalam tingkat perdamaian di antara negara-negara yang memiliki karakteristik geografis, sejarah, dan kebijakan luar negeri yang serupa.
Faktor Keamanan dan Keselamatan Masyarakat
Indikator keamanan dan keselamatan masyarakat menjadi komponen penting dalam GPI. Negara-negara dengan tingkat kejahatan rendah, sistem hukum yang efektif, dan infrastruktur keamanan yang kuat cenderung mendapatkan skor tinggi. Laos, dengan tingkat kejahatan yang relatif rendah dan sistem penegakan hukum yang stabil, menunjukkan performa unggul di bidang ini. Di sisi lain, Indonesia menghadapi tantangan terkait tingkat kejahatan yang lebih tinggi, terutama di wilayah perkotaan besar seperti Jakarta, yang dapat memengaruhi persepsi keamanan masyarakat.
Singapura menonjolkan sistem keamanan yang sangat terorganisir, termasuk kebijakan ketat terhadap narkoba dan kejahatan terorganisir, yang berkontribusi pada skor tinggi. Negara-negara lain di ASEAN, seperti Malaysia dan Filipina, menghadapi tantangan keamanan yang lebih kompleks, termasuk konflik internal dan ancaman terorisme, yang dapat menurunkan posisi mereka di indeks.
Konflik Domestik dan Internasional yang Berkelanjutan
Konflik bersenjata dan ketegangan politik menjadi faktor kritis dalam menilai perdamaian. Laos, yang memiliki sejarah konflik internal yang relatif stabil, menunjukkan tingkat konflik domestik yang rendah. Sebaliknya, Indonesia, meskipun tidak terlibat dalam konflik bersenjata besar, menghadapi tantangan regional seperti ketegangan di Laut China Selatan dan konflik etnis di beberapa wilayah. Konflik-konflik ini dapat memengaruhi skor keseluruhan negara dalam indeks.
Singapura, sebagai negara kecil dengan kebijakan luar negeri yang netral, tidak mengalami konflik internal atau eksternal yang signifikan, sehingga menempatkan negara ini di posisi teratas di Asia Tenggara. Di sisi lain, negara-negara seperti Malaysia dan Filipina menghadapi konflik etnis dan separatisme di beberapa daerah, yang berdampak pada penilaian mereka di domain konflik domestik.
Militerisasi dan Kebijakan Pertahanan
GPI juga menilai tingkat militerisasi, termasuk jumlah personel militer, anggaran pertahanan, dan keberadaan konflik bersenjata. Laos memiliki kebijakan pertahanan yang moderat dan tidak memiliki militer tetap yang besar, sehingga menurunkan skor militerisasi. Indonesia, dengan anggaran pertahanan yang signifikan dan kehadiran militer di sejumlah wilayah, menunjukkan tingkat militerisasi yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi persepsi perdamaian secara keseluruhan.
Singapura, meskipun memiliki anggaran pertahanan yang tinggi, menegakkan kebijakan militerisasi yang terbatas dan berfokus pada pertahanan diri, sehingga tetap mempertahankan skor tinggi. Negara-negara lain di ASEAN, seperti Malaysia dan Filipina, juga memiliki anggaran pertahanan yang cukup besar, namun konflik internal dan ketegangan regional dapat memengaruhi penilaian militerisasi mereka.
Dampak Peringkat terhadap Stabilitas Regional
Peringkat GPI memiliki implikasi yang luas bagi stabilitas regional. Negara-negara dengan skor tinggi cenderung menarik investasi asing, memperkuat hubungan diplomatik, dan meningkatkan citra internasional. Laos, sebagai negara paling damai di ASEAN, dapat menjadi contoh bagi negara-negara tetangga dalam mengelola konflik dan meningkatkan keamanan masyarakat. Peningkatan stabilitas di Laos juga dapat memperkuat integrasi ekonomi dan sosial di kawasan.
Indonesia, sebagai negara terbesar di ASEAN, memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas regional. Posisi terbawah dalam indeks dapat menimbulkan tekanan bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan keamanan, menanggapi konflik internal, dan menyesuaikan kebijakan pertahanan. Hal ini penting untuk memastikan Indonesia tetap menjadi pemimpin regional yang dapat memfasilitasi kerja sama ekonomi dan keamanan di kawasan.
Strategi Pemerintah untuk Meningkatkan Perdamaiannya
Beberapa langkah strategis dapat diambil oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan posisi di GPI. Pertama, memperkuat sistem penegakan hukum dan menurunkan tingkat kejahatan di kota-kota besar. Kedua, meningkatkan dialog lintas etnis dan memperkuat mekanisme penyelesaian konflik di daerah-daerah rawan konflik. Ketiga, meninjau kebijakan militerisasi dan mengevaluasi kebutuhan pertahanan yang seimbang antara keamanan nasional dan citra internasional.
Di sisi lain, Laos dapat terus memanfaatkan kebijakan keamanan yang stabil dan menekankan pembangunan sosial untuk mempertahankan posisi damainya. Negara-negara ASEAN lainnya dapat belajar dari contoh Laos dan Singapura dalam mengelola konflik, memperkuat keamanan, dan menyeimbangkan kebijakan militerisasi.
Kesimpulan
Global Peace Index 2026 menyoroti perbedaan signifikan dalam tingkat perdamaian di negara-negara ASEAN. Laos menempati posisi paling damai, sementara Indonesia berada di posisi terb
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20261020114547-33-777787/daftar-negara-paling-damai-di-asean-indonesia-kalah-dari-laos, without altering the facts of the original article.