Ilmu Pengetahuan Dipertanyakan, Kenapa Rasa Asing Menghantui Mahasiswa di Era Digital yang Semakin Mengglobal
Ilmu pengetahuan dipertanyakan, kenapa rasa asing menghantui mahasiswa di era digital yang semakin mengglobal? Pertanyaan ini muncul ketika banyak mahasiswa merasa sulit menempelkan konsep ilmiah pada kehidupan sehari-hari, meski dunia digital menyediakan akses tak terbatas ke informasi. Sains, yang berperan penting dalam perkembangan teknologi dan kemajuan suatu negara, kini tampak terpisah dari opini publik, termasuk mahasiswa yang berada di jantung perguruan tinggi.
Eksperimen Tata Surya Di Kelas
Dalam podcast Endgame episode 280, Gita Wirjawan berdiskusi dengan Guru Besar Astrofisika dan Kosmologi ITB, Premana Wardayanti Premadi, mengenai bagaimana sains bisa lebih dekat dengan publik. Gita menyebutkan bahwa sains semakin terpisah dari opini publik dan masyarakat. Ia mengamati bahwa pengetahuan ilmiah yang dikembangkan di lingkungan akademik belum tentu sampai kepada masyarakat luas. “Sains semakin bercerai dari opini publik dan masyarakat. Administrasi publik juga semakin cerai dari opini publik,” ujarnya. Gita merasa bingung karena ia memiliki banyak kenalan guru besar dan profesor di universitas di banyak negara, namun mereka puas ketika bukunya hanya terjual 50–200 kopi, sementara ada 8 miliar manusia di bumi.
Premana, yang akrab disapa Nana, menjelaskan bahwa kecintaannya pada kosmologi tumbuh berkat buku sains populer karya fisikawan Stephen Weinberg, The First Three Minutes. Buku tersebut membahas tiga menit pertama evolusi alam semesta. Meski mengangkat topik yang kompleks, sains populer berusaha menjelaskan gagasan ilmiah agar dapat dipahami oleh orang awam. Premana menekankan pentingnya membuat sains lebih mudah diakses dan dipahami masyarakat, termasuk mahasiswa yang kini hidup dalam era digital global.
Peran Sains dalam Era Digital Global
Di era digital, akses ke data dan publikasi ilmiah semakin mudah. Namun, kesenjangan antara pengetahuan akademik dan pemahaman publik tetap ada. Sains yang seharusnya menjadi jembatan antara teori dan praktik seringkali tersimpan di balik jargon teknis. Mahasiswa, yang berada di garis depan penerimaan informasi, sering kali merasa bahwa pengetahuan ilmiah terasa “asing” karena tidak terhubung dengan konteks kehidupan nyata mereka.
Gita menyoroti bahwa administrasi publik, yang seharusnya menjadi penghubung antara peneliti dan masyarakat, juga mengalami kesenjangan. Tanpa mekanisme yang efektif, hasil riset tidak terserap ke dalam kebijakan atau program pendidikan yang dapat meningkatkan pemahaman publik. Hal ini membuat mahasiswa, yang mengharapkan contoh nyata penerapan sains, merasa terasing dari dunia ilmiah.
Strategi Membuat Sains Lebih Dekat dengan Mahasiswa
Premana menyarankan beberapa strategi untuk mengatasi perasaan asing ini. Pertama, memanfaatkan buku sains populer sebagai titik awal. Buku seperti The First Three Minutes dapat memecah topik kompleks menjadi cerita yang mudah dicerna. Kedua, integrasi proyek eksperimental di kelas, seperti eksperimen tata surya, dapat memberikan pengalaman langsung. Ketiga, kolaborasi antara peneliti, pendidik, dan media dapat memperluas jangkauan pengetahuan ilmiah ke publik.
Dengan mengadopsi pendekatan ini, mahasiswa dapat melihat sains sebagai alat yang relevan dan aplikatif. Eksperimen sederhana di kelas tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif. Di era globalisasi digital, mahasiswa dapat memanfaatkan platform online untuk berbagi hasil eksperimen, berdiskusi dengan rekan global, dan mengakses sumber belajar terbaru.
Dampak Positif bagi Pendidikan dan Kebijakan Publik
Jika pengetahuan ilmiah dapat lebih mudah diakses, dampaknya akan terasa luas. Mahasiswa yang memahami sains secara mendalam akan menjadi agen perubahan dalam masyarakat, membawa inovasi dan solusi berbasis data. Di sisi lain, kebijakan publik yang didasarkan pada bukti ilmiah dapat menjadi lebih responsif terhadap tantangan global seperti perubahan iklim, kesehatan, dan teknologi. Dengan demikian, pergeseran hubungan antara sains dan publik tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga memperkuat fondasi demokrasi ilmiah.
Gita dan Premana berharap bahwa upaya ini akan memecahkan rasa asing yang mengintai mahasiswa di era digital. Melalui buku populer, eksperimen kelas, dan kolaborasi lintas disiplin, sains dapat kembali menjadi jembatan yang menghubungkan teori dengan kehidupan nyata. Dengan demikian, mahasiswa tidak lagi merasa terasing, melainkan menjadi bagian aktif dalam proses penciptaan pengetahuan dan inovasi.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.dream.co.id/nalar/kalau-sains-penting-kenapa-terasa-asing-261020w.html, without altering the facts of the original article.