Hashim Ungkap Prabowo Belajar Strategi Swasembada dari Soeharto, Cerita di Balik Kebijakan Ekonomi Nasional
Hashim Djojohadikusumo, utusan khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, menyoroti obsesi Prabowo Subianto dalam mengejar swasembada pangan, dengan mengacu pada pengaruh Presiden ke-2 RI, Soeharto. Pernyataan ini muncul di Hotel Raffles, Jakarta, pada Rabu (7/10/2026), saat Hashim menjelaskan bahwa ketahanan pangan telah menjadi fokus utama bagi Prabowo sejak lama.
Prabowo dan Warisan Strategi Pangan Soeharto
Hashim menegaskan bahwa Prabowo belajar banyak dari prinsip Soeharto, khususnya dalam menempatkan pangan sebagai kebutuhan mendasar bagi rakyat. Ia menyatakan, “Selain dari ketahanan energi, Pak Prabowo begitu terobsesi dari dulu, ya fixated, obsessed dengan ketahanan pangan.” Dalam konteks ini, Hashim menekankan bahwa ketika kebutuhan perut masyarakat terpenuhi, potensi kegaduhan politik maupun sosial dapat ditekan. “Karena mungkin beliau belajar dari Pak Harto bahwa ketahanan pangan itu, asal ada pangan yang cukup, rakyat bisa tenang dan nyaman, tidak ada gaduh dan sebagainya,” ungkapnya.
Prabowo, yang dikenal memiliki latar belakang militer dan kepemimpinan, tampaknya mengambil pelajaran penting dari era Soeharto: kestabilan sosial dan politik sangat terkait dengan ketersediaan pangan. Menurut Hashim, “Itu pelajaran yang Pak Prabowo dapat dari Pak Harto dari zaman dulu, dan saya menghayati serta mendukung hal tersebut.” Dengan kata lain, strategi swasembada pangan tidak sekadar soal produksi, melainkan juga soal menciptakan ketenangan sosial melalui kebijakan yang berfokus pada kebutuhan pokok.
Peran Menteri Koordinator Bidang Pangan dalam Menegaskan Kemandirian Pangan
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan pentingnya kemandirian pangan sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. Menurutnya, kedaulatan pangan berhubungan langsung dengan tingkat kesejahteraan para petani dan produsen. “Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada,” ujarnya. Pernyataan ini menyoroti hubungan erat antara kebijakan pangan nasional dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan menekankan peran petani dan produsen, Zulhas menunjukkan bahwa kebijakan swasembada tidak hanya menargetkan produksi, tetapi juga memperhatikan distribusi dan kesejahteraan masyarakat agraria. Hal ini sejalan dengan pandangan Hashim bahwa kedaulatan pangan dapat menurunkan ketegangan sosial, karena rakyat yang terjamin kebutuhan dasarnya cenderung lebih stabil.
Strategi Swasembada Pangan: Dari Ide ke Implementasi
Prabowo, melalui kebijakan yang berfokus pada swasembada pangan, berusaha mengadaptasi prinsip Soeharto dengan menyesuaikan konteks zaman modern. Ia menempatkan produksi pangan domestik sebagai prioritas, sekaligus memperkuat rantai pasok lokal. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor, memperkuat harga pangan di pasar domestik, dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri.
Strategi ini juga mencakup upaya diversifikasi tanaman, peningkatan teknologi pertanian, dan dukungan finansial bagi petani. Dengan demikian, kebijakan swasembada tidak hanya menjadi simbol kedaulatan, tetapi juga alat konkret untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Keterkaitan antara kebijakan ini dengan stabilitas sosial menjadi kunci, karena ketahanan pangan yang kuat dapat menurunkan risiko konflik dan ketidakpuasan publik.
Dampak Sosial dan Ekonomi dari Kebijakan Swasembada Pangan
Dari perspektif sosial, kebijakan swasembada pangan dapat mengurangi ketidakpastian harga dan memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, masyarakat cenderung lebih tenang, yang pada gilirannya dapat menurunkan potensi konflik sosial. Kebijakan ini juga dapat memperkuat rasa kebanggaan nasional, karena rakyat merasa terjamin oleh kebijakan yang berfokus pada kepentingan dalam negeri.
Dari sisi ekonomi, swasembada pangan dapat memperkuat sektor agribisnis. Peningkatan produksi domestik dapat membuka peluang pasar baru bagi produsen lokal, memperkuat rantai nilai, dan meningkatkan pendapatan petani. Selain itu, pengurangan impor pangan dapat mengurangi defisit neraca perdagangan, memperkuat mata uang, dan meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Kebijakan ini juga dapat menstimulasi investasi di sektor pertanian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Reaksi dan Dukungan Terhadap Kebijakan Swasembada
Reaksi terhadap kebijakan ini cukup positif di kalangan petani dan produsen, yang melihat potensi peningkatan pendapatan dan akses pasar. Dukungan juga datang dari sektor swasta, yang mengakui pentingnya stabilitas harga pangan untuk memprediksi biaya produksi. Selain itu, kebijakan ini mendapat dukungan politik karena menonjolkan nilai kedaulatan dan ketahanan nasional.
Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah kebutuhan akan inovasi teknologi dan pelatihan bagi petani agar dapat meningkatkan produktivitas. Selain itu, koordinasi antar kementerian dan lembaga terkait perlu terus ditingkatkan untuk memastikan kebijakan swasembada dapat berjalan secara sinergis.
Kesimpulan dan Prospek ke Depan
Hashim Djojohadikusumo menegaskan bahwa Prabowo Subianto mempelajari strategi swasembada pangan dari Soeharto, dengan fokus pada ketahanan sosial melalui ketersediaan pangan. Pernyataan ini menyoroti pentingnya kebijakan pangan dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah fondasi kemajuan bangsa, yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan petani dan produsen.
Strategi swasembada pangan yang diusung Prabowo menyesuaikan prinsip klasik dengan konteks modern, mengutamakan diversifikasi tanaman, teknologi pertanian, dan dukungan finansial bagi petani. Dampak sosialnya mencakup ketenangan masyarakat dan pengurangan konflik, sementara dampak ekonominya melibatkan peningkatan pendapatan petani, peningkatan daya saing produk dalam negeri, dan pengurangan defisit neraca perdagangan.
Dengan dukungan luas dari berbagai pihak, kebijakan swasembada pangan memiliki prospek kuat untuk memperkuat
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/bisnis/read/8308288/hashim-prabowo-belajar-swasembada-dari-soeharto, without altering the facts of the original article.