Gaduh Pelari Ikut HM Hanya Tidur Dua Jam, Dokter Jelaskan Risiko dan Cara Aman Menghadapi Tantangan Lari Jarak Jauh
Gaduh Pelari Ikut HM Hanya Tidur Dua Jam menjadi topik hangat di kalangan pelari maraton, di mana beberapa atlet mengklaim mampu menempuh jarak penuh hanya dengan istirahat singkat sebelum lomba. Fenomena ini menimbulkan perdebatan tentang keamanan dan dampak kesehatan bagi para pelari. Artikel ini membahas kronologi, alasan di balik praktik ini, serta risiko dan cara aman menghadapinya.
Perkembangan Praktik “Nabung Tidur” di Kalangan Pelari
Sejak awal pekan ini, akun media sosial yang dikenal dengan nama “cak**” menyoroti kasus seorang pelari yang melaporkan dapat menempuh jarak HM (Half Marathon) dengan tidur hanya dua jam sebelum start. Postingan tersebut menekankan bahwa meski ada risiko, beberapa pelari masih mencoba metode ini. “Warga, kalau ada yang bisa lari HM kencang pas race hanya dengan tidur 2 jam malam sebelumnya, udah biar dia aja. Kalian jangan ikut-ikut ya, nyawa cuma 1,” tulis akun tersebut.
Di sisi lain, seorang pelari lain, yang dikenal dengan sebutan “pak adrenaline h-1 race,” menyatakan kesulitan tidur sebelum lomba. Ia mengaku sering mengurangi tidur hingga 2–3 hari sebelumnya untuk meminimalisir risiko. “Tapi pak adrenaline h-1 race susah dihindari sihh, saya sering bgt kurang tidur sebelum race. Diminimalisir resikonya dengan nabung tidur 2-3 hari sebelumnya. CMIIW,” tulis ia.
Reaksi medis datang dari dr Andhika Raspati, SpKO, seorang spesialis kedokteran olahraga. Ia menjelaskan bahwa kurang tidur dapat menurunkan performa dan memengaruhi fungsi kardiorespirasi. “Secara performa jelas bakal nurun, nggak bilang pasti sih tapi paling nggak most likely bakal nurun,” kata dr Dhika. Ia menambahkan bahwa heart rate (HR) cenderung lebih tinggi ketika tubuh tidak cukup istirahat, yang dapat membatasi kapasitas kerja jantung dan meningkatkan risiko kesehatan.
Alasan di Balik Praktik “Nabung Tidur”
Beberapa pelari menganggap bahwa tidur singkat sebelum lomba dapat memicu pelepasan hormon adrenalin yang membantu meningkatkan energi. Mereka berpendapat bahwa tubuh dalam kondisi “tengah kelelahan” dapat memaksimalkan penggunaan energi yang tersisa. Namun, tidak ada data ilmiah yang mendukung klaim ini secara konsisten.
Di sisi lain, kebiasaan “nabung tidur” juga dapat muncul karena jadwal latihan yang padat. Pelari yang memaksimalkan volume latihan seringkali merasa sulit untuk tidur cukup pada malam sebelum lomba. Untuk mengatasi hal ini, mereka mencoba meminimalkan waktu tidur malam agar tetap berada di zona performa optimal pada pagi hari. Metode ini sering disebut sebagai “sleep debt” atau utang tidur, yang diharapkan dapat dipulihkan dengan tidur lebih lama pada hari-hari berikutnya.
Dampak Kesehatan dan Risiko bagi Pelari
Kurang tidur, terutama pada malam sebelum lomba, dapat memengaruhi sistem saraf pusat, mengurangi konsentrasi, dan menurunkan koordinasi motorik. Hal ini dapat meningkatkan risiko cedera saat berlari, terutama pada jarak panjang di mana kelelahan otot dan mental menjadi faktor penting.
Selain itu, sistem kardiovaskular juga terpengaruh. Ketika tubuh tidak cukup istirahat, heart rate baseline meningkat. Saat lomba dimulai, peningkatan heart rate tambahan dapat menyebabkan overexertion. Dr Dhika menegaskan bahwa “karena semakin tinggi heart rate semakin tinggi risikonya.” Kondisi ini dapat memicu komplikasi serius, seperti aritmia, hipertensi, atau bahkan cedera otot yang lebih parah.
Performa juga dapat menurun. Penurunan daya tahan, kecepatan, dan ketahanan mental dapat terjadi karena tubuh tidak dalam kondisi optimal. Meskipun beberapa pelari mengaku berhasil, hal ini lebih bersifat anekdot dan tidak dapat diandalkan sebagai strategi jangka panjang.
Strategi Aman untuk Menghadapi Tantangan Lari Jarak Jauh
Untuk menghindari risiko, para pelari disarankan mengikuti beberapa langkah sederhana. Pertama, prioritaskan tidur berkualitas selama 7–9 jam setiap malam. Jika jadwal latihan menuntut, cobalah memanfaatkan teknik relaksasi sebelum tidur, seperti meditasi atau pernapasan dalam.
Selanjutnya, atur pola tidur dengan konsisten. Hindari “nabung tidur” yang drastis, karena tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Jika memang diperlukan, tidur singkat di pagi hari dapat membantu, namun tidak menggantikan tidur malam yang cukup.
Selain itu, lakukan pemanasan dan pendinginan yang tepat. Pemanasan membantu menyiapkan otot dan jantung, sedangkan pendinginan membantu mengurangi ketegangan otot. Pastikan juga hidrasi dan asupan nutrisi memadai, karena tubuh yang terhidrasi dan terisi energi akan lebih mampu mengatasi stres fisik.
Jika Anda merasa sulit tidur sebelum lomba, pertimbangkan untuk berbicara dengan pelatih atau ahli medis. Mereka dapat membantu merancang rencana pelatihan dan tidur yang sesuai dengan kebutuhan tubuh Anda. Selalu dengarkan sinyal tubuh, dan jangan memaksakan diri jika merasa tidak siap.
Kesimpulan: Keputusan Tergantung pada Kondisi Individu
Gaduh Pelari Ikut HM Hanya Tidur Dua Jam mencerminkan keberanian beberapa atlet untuk menguji batasan tubuh. Meskipun ada beberapa klaim tentang manfaatnya, risiko kesehatan yang terkait tidak dapat diabaikan. Praktik “nabung tidur” dapat memicu penurunan performa dan meningkatkan risiko cedera, terutama pada sistem kardiovaskular.
Para pelari disarankan untuk menjaga pola tidur yang sehat, menghindari metode ekstrem, dan memprioritaskan kebugaran jangka panjang. Dengan mengikuti strategi sederhana seperti tidur cukup, pemanasan yang tepat, dan komunikasi dengan profesional, pelari dapat menghadapi tantangan lari jarak jauh secara aman dan optimal.
”
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://health.detik.com/kebugaran/d-8696755/gaduh-pelari-ikut-hm-cuma-tidur-dua-jam-emang-aman-ini-penjelasan-dokter, without altering the facts of the original article.