Pasukan Inggris dan Amerika Resmi Tinggalkan Irak, Menandai Akhir Operasi Besar Melawan ISIS dan Pergeseran Strategi Keamanan Regional
Pasukan Inggris dan Amerika Resmi Tinggalkan Irak menandai akhir operasi besar melawan ISIS dan pergeseran strategi keamanan regional. Keputusan ini mengakhiri kehadiran militer kedua negara di Irak selama lebih dari satu dekade, menandai perubahan signifikan dalam dinamika keamanan di kawasan Timur Tengah.
Penarikan Akhir Pasukan Inggris dan Amerika dari Irak
Pasukan terakhir UK dan Amerika Serikat telah meninggalkan Irak, mengakhiri keberadaan militer mereka di negara itu selama lebih dari satu dekade. Penarikan 100 personel militer UK yang tersisa dari Irbil di wilayah Kurdistan, Irak utara, telah dikoordinasikan dengan pasukan AS dalam beberapa pekan terakhir. Pasukan AS juga meninggalkan wilayah tersebut pada Rabu. Penarikan itu menyusul kesepakatan antara AS dan pemerintah Irak yang ditandatangani dua tahun lalu untuk menarik pasukan asing pada akhir bulan ini.
Pasukan UK dan AS telah berada di Irak sejak 2014 sebagai bagian dari koalisi internasional untuk membantu mengalahkan kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam atau ISIS. Kepergian mereka menandai berakhirnya misi yang dikenal sebagai Operation Inherent Resolve. Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, mengatakan berakhirnya misi koalisi menandai “peralihan Irak menuju fase ketika negara itu memikul tanggung jawab penuh atas keamanan dan stabilitasnya”. Irak akan menetapkan empat “Hari Kedaulatan” sebagai hari libur nasional untuk menandai penarikan pasukan tersebut.
Sejarah Intervensi Militer di Irak
Operasi Inherent Resolve dimulai pada 2014 ketika ISIS mulai merebut wilayah penting di Irak dan Suriah. Koalisi internasional, yang dipimpin oleh AS, mengirim pasukan dan tenaga ahli untuk melatih dan mendukung Pasukan Keamanan Irak (ISF) serta pasukan Kurdish Peshmerga. Seiring berjalannya waktu, operasi ini meluas menjadi kampanye udara, pelatihan, dan dukungan logistik yang intensif. Setelah beberapa tahun, tingkat serangan ISIS menurun drastis, dan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kelompok tersebut mulai dikembalikan ke tangan pemerintah Irak.
Penarikan pasukan asing dimulai secara bertahap pada 2019, ketika AS mengumumkan rencana mengurangi kehadiran militernya di Irak. Pada 2021, Inggris mengumumkan rencana menarik semua pasukan mereka, dan pada 2023, penarikan terakhir dilaksanakan. Proses ini melibatkan koordinasi intensif antara pihak ketiga, termasuk pasukan AS, UK, dan pemerintah Irak, serta pengaturan logistik untuk mengembalikan personel dan peralatan.
Alasan di Balik Penarikan Pasukan
Penarikan ini didorong oleh beberapa faktor. Pertama, keberhasilan operasi militer menurunkan tingkat kekerasan ISIS secara signifikan, sehingga menurunkan kebutuhan akan dukungan militer asing. Kedua, tekanan politik di dalam negeri kedua negara menuntut penutupan operasi di luar negeri yang dianggap tidak lagi relevan. Ketiga, kesepakatan dua tahun lalu antara AS dan pemerintah Irak menetapkan jadwal penarikan yang jelas, menandai komitmen kedua belah pihak untuk menghormati kedaulatan Irak.
Keputusan ini juga mencerminkan perubahan paradigma dalam kebijakan luar negeri. Kedua negara menyoroti pentingnya memperkuat kemampuan militer domestik dan regional, serta memfokuskan sumber daya pada ancaman internal. Dalam konteks ini, penarikan di Irak dianggap sebagai langkah strategis untuk mengalihkan perhatian dan sumber daya ke daerah lain yang memerlukan dukungan militer.
Dampak Penarikan bagi Keamanan Irak
Penarikan pasukan asing menandai fase baru bagi Irak. Pemerintah Irak harus mengambil alih tanggung jawab penuh atas keamanan dan stabilitasnya, termasuk pelatihan, peralatan, dan dukungan logistik. Meskipun pasukan AS dan UK telah menurunkan kehadiran mereka, mereka meninggalkan warisan pelatihan dan peningkatan kapasitas yang signifikan bagi ISF dan Peshmerga.
Namun, tantangan tetap ada. Terlebih lagi, ancaman siber dan serangan teroris masih mengintai. Negara harus memperkuat sistem pertahanan siber dan meningkatkan kerjasama antar lembaga keamanan. Selain itu, penurunan dukungan militer asing dapat memicu ketidakseimbangan kekuatan di wilayah Kurdistan, yang memerlukan perhatian khusus dalam menjaga stabilitas internal.
Peran Koalisi Internasional dalam Memperkuat Keamanan Regional
Selama operasi, koalisi internasional berperan penting dalam melatih, menyediakan peralatan, dan melakukan operasi udara. Mereka juga membantu memperkuat hubungan diplomatik antar negara di kawasan. Keberhasilan koalisi menunjukkan pentingnya kerjasama internasional dalam menghadapi ancaman teroris. Dengan penarikan, koalisi menegaskan komitmen mereka terhadap kedaulatan Irak, sekaligus menandai fase baru dalam hubungan strategis antara Irak dan negara-negara Barat.
Kesimpulan: Masa Depan Keamanan Irak dan Regional
Pasukan Inggris dan Amerika Resmi Tinggalkan Irak menandai akhir operasi besar melawan ISIS dan pergeseran strategi keamanan regional. Penarikan ini menandai transisi penting bagi Irak, yang kini harus memikul tanggung jawab penuh atas keamanan dan stabilitasnya. Meskipun tantangan tetap ada, warisan pelatihan dan peningkatan kapasitas yang ditinggalkan oleh pasukan asing menjadi fondasi bagi upaya keamanan yang lebih mandiri.
Dengan menetapkan empat “Hari Kedaulatan” sebagai hari libur nasional, Irak menunjukkan komitmennya untuk merayakan kedaulatan dan mengakui kontribusi internasional yang telah membantu negara tersebut mengatasi ancaman teroris. Masa depan keamanan regional akan bergantung pada kemampuan Irak untuk memanfaatkan warisan ini, memperkuat kerjasama regional, dan melanjutkan upaya pencegahan terorisme.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c6qxvx9gy879o?at_medium=RSS&at_campaign=rss, without altering the facts of the original article.