22 Hektare Lahan di Bone Dijadikan Pusat Proyek Hilirisasi Ayam, Pemerintah Janjikan Peningkatan Produksi dan Lapangan Kerja Nasional
Proyek hilirisasi ayam di Bone, yang melibatkan 22 hektare lahan di Kebun Camming, menjadi sorotan utama kebijakan pertanian Presiden Prabowo. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan produksi protein hewani dan menciptakan lapangan kerja di tingkat nasional.
Kerja Sama Strategis Antara PTPN I, PT Berdikari, dan PT UHI
Proyek HAT (Hilirasi Ayam) dikembangkan melalui kolaborasi antara PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I (Persero), PT Berdikari (Persero), dan PT Ugiagri Harapan Indonesia (PT UHI). Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa proyek ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo, dan bahwa HAT akan mulai beroperasi pada 1 Juli tahun depan. Ia menekankan bahwa tidak ada lagi hambatan birokrasi maupun teknis yang menghalangi pelaksanaan proyek ini.
PTPN I memanfaatkan aset lahan di Regional 8 Kebun Camming untuk membangun ekosistem peternakan ayam yang mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari hulu hingga hilir. Melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) dengan PT Berdikari, PTPN I menyiapkan lahan seluas 22 hektare dengan jangka waktu kerja sama 30 tahun. Pada tahap awal, lahan yang diusulkan mencapai 15 hektare. Lahan tersebut akan digunakan untuk membangun Farm Parent Stock (PS) Broiler, Farm PS Layer, hatchery, hingga pabrik pakan terpadu.
Sementara itu, PTPN I bersama PT UHI menyiapkan sekitar 8,9 hektare lahan dengan jangka waktu kerja sama 10 tahun. Lahan tersebut akan digunakan untuk pembangunan kandang komersial, farm pullet, fasilitas komersial petelur, Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU), dan cold storage. Direktur Utama PTPN I (Persero) Abdul Rivai Ras menegaskan bahwa pemanfaatan aset Kebun Camming diarahkan untuk menciptakan sumber nilai tambah baru sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan, khususnya protein hewani.
Struktur Ekosistem Peternakan dan Produksi Pakan
Farm Parent Stock Broiler dan Layer bertujuan menghasilkan induk unggul yang akan menjadi dasar populasi ayam komersial. Hatchery di lokasi akan memproduksi telur embrio berkualitas tinggi, memastikan suplai bibit yang konsisten untuk farm broiler dan layer. Pabrik pakan terpadu di area tersebut akan mengolah bahan baku lokal menjadi pakan lengkap, mengurangi ketergantungan pada impor bahan pakan.
Kandang komersial yang direncanakan akan memelihara ayam petelur dalam skala besar, sehingga meningkatkan produksi telur nasional. Farm pullet akan memproduksi ayam muda siap dipindahkan ke farm petelur, menutup siklus produksi dari induk hingga telur. Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) akan menambah nilai tambah dengan menyediakan daging ayam berkualitas bagi pasar domestik. Cold storage akan memastikan produk tetap segar, mengurangi kerugian pascapanen.
Dampak Ekonomi dan Pembangunan Pangan
Dengan skala proyek ini, diperkirakan akan tercipta ribuan lapangan kerja langsung di bidang peternakan, produksi pakan, dan logistik. Pekerjaan tidak hanya terbatas pada tenaga kerja fisik, tetapi juga melibatkan tenaga ahli di bidang manajemen peternakan, teknik produksi pakan, dan pengelolaan rantai pasok. Peningkatan kapasitas produksi ayam dan telur diharapkan dapat menurunkan harga bahan baku protein hewani bagi konsumen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pengembangan pabrik pakan terpadu juga mengurangi ketergantungan pada impor bahan pakan, sehingga meningkatkan kemandirian industri peternakan. Selain itu, penggunaan lahan di Kebun Camming yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal menjadi contoh pemanfaatan aset publik untuk tujuan ekonomi strategis. Inisiatif ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperkuat sektor agribisnis melalui integrasi vertikal.
Sinergi Antara Sektor Publik dan Swasta
Proyek ini menonjolkan model kerja sama antara pemerintah dan swasta. Melalui KSO, PTPN I dapat mengoptimalkan aset lahan yang dimiliki, sementara PT Berdikari dan PT UHI membawa keahlian teknis dan modal. Sinergi ini memungkinkan alokasi sumber daya yang lebih efisien, mempercepat proses implementasi, dan meminimalkan risiko finansial bagi masing-masing pihak.
Keberhasilan proyek ini juga menandai komitmen pemerintah dalam mengatasi tantangan ketergantungan pada impor protein hewani. Dengan meningkatkan produksi domestik, negara dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan, sekaligus membuka peluang ekspor produk unggak domestik ke pasar regional.
Kesimpulan dan Prospek Masa Depan
Proyek hilirisasi ayam di Bone, yang melibatkan 22 hektare lahan di Kebun Camming, merupakan langkah strategis pemerintah untuk memperkuat rantai nilai peternakan ayam. Melalui kerja sama antara PTPN I, PT Berdikari, dan PT UHI, proyek ini mencakup seluruh fase produksi, dari induk hingga produk akhir. Dengan target operasional pada 1 Juli tahun depan, proyek ini diharapkan dapat menciptakan ribuan lapangan kerja, meningkatkan produksi protein hewani, dan menurunkan ketergantungan pada impor.
Keberhasilan inisiatif ini juga menjadi contoh bagi proyek integrasi vertikal lainnya di sektor agribisnis. Dengan dukungan kebijakan dan sinergi publik-swasta, potensi pertumbuhan ekonomi di sektor peternakan ayam dapat terwujud secara signifikan, mendukung tujuan nasional dalam mencapai ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on the original news source, without altering the facts of the original article.