Paparan Asap Karhutla Terbukti Tingkatkan Risiko Kanker Paru, Dokter Ungkap Mekanisme Bahaya yang Selama Ini Tak Diketahui Publik

Paparan asap karhutla terbukti meningkatkan risiko kanker paru, dokter ungkap mekanisme bahaya yang selama ini tak diketahui publik.

Kerusakan Paru‑Paru Mulai dari Paparan Asap Hutan

Dr. Linda Masniari, SpP(K), spesialis paru dan subspesialis onkologi toraks di MRCCC Siloam Semanggi, menegaskan bahwa asap dengan konsentrasi tinggi dapat memicu berbagai masalah kesehatan di paru‑paru. “Kebakaran asap itu bisa menyebakan bronkitis, kemudian misalnya PPOK, terakhir bisa akut cedera paru,” jelasnya saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).

Jika paparan berlangsung lama, risiko berkembang menjadi kanker paru. Menurut dr. Linda, “salah satu faktor risiko adalah kebakaran hutan dan lahan.” Ia menambahkan bahwa paparan asap dari sumber lain—seperti bakar sampah di perumahan, asap rokok, atau kendaraan bermotor—juga dapat memicu kanker paru. Semua faktor lingkungan ini menambah beban polusi udara yang sudah tinggi.

Contoh nyata, pada Senin (31/8) wilayah di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah mencatat nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 848, dengan PM10 menjadi pencemar dominan. Kabupaten Kotawaringin Timur melaporkan ISPU 773, dan Pontianak Tenggara, Kalimantan Barat, menunjukkan ISPU 732. Di Kotawaringin Timur, PM10 tetap menjadi pencemar utama, sedangkan di Pontianak Tenggara, PM2.5 menonjol.

Bagaimana Asap Karhutla Membentuk Risiko Kanker Paru?

Asap karhutla mengandung partikel halus, gas beracun, dan bahan kimia organik volatil. Ketika terhirup, partikel‑partikel ini menempel pada dinding bronkus dan alveoli, memicu peradangan kronis. Peradangan berkelanjutan dapat merusak jaringan paru, menciptakan kondisi yang memudahkan pertumbuhan sel kanker. Selain itu, asap mengandung zat karsinogenik seperti benzopiren, yang secara langsung dapat merusak DNA sel paru.

Proses ini tidak terlihat secara langsung, namun bila terus berlanjut, sel-sel paru yang rusak dapat berubah menjadi sel kanker. Dr. Linda menjelaskan bahwa paparan jangka panjang, terutama di daerah dengan ISPU tinggi, meningkatkan kemungkinan sel-sel paru mengalami mutasi. Sel mutasi kemudian berkembang menjadi tumor, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kanker paru stadium lanjut.

Pengaruh Faktor Eksternal Lainnya pada Risiko Kanker Paru

Selain karhutla, faktor lain seperti asap kendaraan bermotor, bakar sampah di rumah, dan asap rokok juga berperan. Semua faktor ini meningkatkan konsentrasi PM2.5 dan PM10 di udara. PM2.5, yang lebih kecil, dapat menembus lebih dalam ke dalam paru, menjadikan risiko kanker paru lebih tinggi. Sementara PM10, meski lebih besar, tetap menimbulkan peradangan kronis di saluran napas atas.

Dr. Linda menekankan pentingnya pengurangan paparan asap di lingkungan. Di daerah yang sering terkena karhutla, penggunaan masker filter, ventilasi yang baik, dan kebijakan pengendalian kebakaran lahan menjadi langkah penting. Untuk perumahan, menghindari bakar sampah di dalam rumah dan memilih metode pembuangan sampah yang lebih bersih dapat mengurangi paparan.

Studi Kasus dan Data yang Mendukung

Data ISPU yang tinggi di Murung Raya, Kotawaringin Timur, dan Pontianak Tenggara menunjukkan bahwa partikel PM10 dan PM2.5 mencapai level yang sangat berbahaya. Nilai ISPU di atas 600 umumnya menandakan kondisi “sangat buruk” bagi kesehatan. Kondisi ini menempatkan masyarakat di wilayah tersebut pada risiko tinggi terkena masalah pernapasan, termasuk bronkitis, PPOK, dan kanker paru.

Selain data ISPU, laporan tentang meningkatnya kasus penyakit paru di daerah tersebut memberikan indikasi korelasi antara polusi udara dan masalah kesehatan. Meskipun data spesifik mengenai kanker paru tidak disediakan, tren kesehatan menunjukkan peningkatan penyakit kronis di area dengan polusi tinggi.

Langkah Preventif bagi Masyarakat dan Pemerintah

Untuk mengurangi dampak karhutla, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan bahaya asap. Penggunaan masker filter, menutup ventilasi rumah, dan menunda aktivitas luar ruangan saat ISPU tinggi dapat menurunkan paparan. Pemerintah daerah harus memperkuat regulasi kebakaran lahan, meningkatkan patroli, dan menyediakan fasilitas medis bagi korban kerusakan paru.

Di tingkat kebijakan, penegakan hukum terhadap pelanggaran kebakaran lahan, penyediaan sistem peringatan dini, dan edukasi tentang dampak kesehatan asap hutan menjadi kunci. Selain itu, pengembangan program pemantauan kualitas udara secara real‑time dapat membantu masyarakat menyesuaikan aktivitas harian mereka.

Kesimpulan: Paparan Asap Karhutla sebagai Ancaman Kanker Paru

Paparan asap karhutla terbukti meningkatkan risiko kanker paru melalui mekanisme peradangan kronis dan kerusakan DNA. Faktor tambahan seperti asap kendaraan, bakar sampah, dan rokok memperparah kondisi. Data ISPU tinggi di wilayah Kalimantan Tengah menegaskan urgensi tindakan preventif. Melalui edukasi, regulasi, dan upaya pengurangan polusi, masyarakat dapat mengurangi paparan dan menurunkan risiko kanker paru.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on the original news source, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *