Doomscrolling Dijelaskan: Mengapa Kebiasaan Menggulung Berita Negatif Merusak Kesehatan Mental dan Prediksi Dampaknya di Era Digital
Doomscrolling, kebiasaan menggulir berita negatif tanpa henti, telah menjadi topik hangat sejak pandemi COVIDâ19 melanda dunia. Fenomena ini muncul ketika masyarakat terpapar arus informasi yang terus-menerus mengenai kasus, kematian, kebijakan, dan risiko kesehatan. Meskipun awalnya bertujuan untuk memahami situasi, perilaku ini sering kali berakhir menurunkan kesehatan mental. Artikel ini menguraikan kronologi munculnya doomscrolling, alasan mengapa orang terus terjerat, serta dampak jangka panjangnya.
Asal Usul Doomscrolling di Masa Pandemi
Ketika COVIDâ19 mulai menyebar, pemerintah dan lembaga kesehatan di seluruh dunia secara rutin mengupdate data kasus dan kebijakan. Media sosial menjadi platform utama bagi publik untuk menanggapi informasi ini. Pada awalnya, menggulir berita tampak seperti upaya bertanggung jawab: mengetahui kapan harus memakai masker, kapan harus menghindari kerumunan, atau kapan vaksin tersedia. Namun, seiring waktu, pola ini berubah. Setiap update, baik itu statistik kematian maupun kebijakan lockdown, memicu rasa takut yang lebih mendalam. Akibatnya, orang terus menggulir, mencari âkabar terbaruâ yang belum mereka ketahui, meski sudah cukup informasi.
Perangkat digital memudahkan akses tak terbatas ke berita. Algoritma media sosial menayangkan konten yang paling menarik dan emosional, seringkali berupa berita negatif. Ini memperkuat siklus: semakin banyak berita negatif yang dilihat, semakin banyak yang diinginkan. Akibatnya, perilaku doomscrolling tidak lagi bersifat informatif, melainkan kebiasaan yang sulit dihentikan.
Motif di Balik Kebiasaan Menggulung Berita Negatif
Alasan utama mengapa seseorang terus mencari dan membaca berita negatif dapat dibagi menjadi beberapa kategori. Pertama, keinginan untuk mengetahui perkembangan terbaru. Ketika terjadi peristiwa yang dianggap mengancam atau tidak pasti, manusia secara alami terdorong untuk mencari informasi guna memahami situasi. Mencari informasi membantu mengambil keputusan, namun bila dilakukan tanpa batas, perilaku ini dapat berubah menjadi berlebihan. Kedua, rasa takut akan kehilangan kontrol. Ketika data menunjukkan situasi yang berubah-ubah, orang merasa perlu selalu up-to-date agar tidak tertinggal. Ketiga, pengaruh sosial. Teman, keluarga, atau rekan kerja seringkali berbagi berita, menciptakan tekanan untuk ikut mengikuti. Keempat, faktor psikologis: rasa penasaran dan kebutuhan untuk mengatasi ketidakpastian melalui pengetahuan. Kelima, faktor ekonomi: banyak platform berita menggunakan model iklan yang bergantung pada klik, sehingga konten negatif cenderung lebih menarik.
Dampak Kesehatan Mental yang Dihadapi Penderita Doomscrolling
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling memiliki dampak negatif pada kesehatan mental. Pertama, tingkat kecemasan meningkat. Membaca berita tentang kematian, wabah, atau krisis ekonomi secara terus-menerus memicu rasa takut yang berlebihan. Kedua, depresi menjadi risiko nyata. Terus terpapar berita negatif dapat menurunkan mood, membuat seseorang merasa putus asa atau tidak berdaya. Ketiga, gangguan tidur. Paparan layar dan stres emosional mengganggu pola tidur, menyebabkan insomnia atau tidur tidak nyenyak. Keempat, penurunan kinerja. Fokus yang terpecah akibat terus-menerus memeriksa berita mengurangi produktivitas dan kualitas pekerjaan. Kelima, isolasi sosial. Ketika seseorang terlalu terfokus pada berita, interaksi tatap muka berkurang, memperparah rasa kesepian.
Prediksi Dampak Doomscrolling di Era Digital
Seiring teknologi berkembang, doomscrolling diprediksi akan semakin merajalela. Algoritma media sosial yang semakin pintar akan menyesuaikan konten berdasarkan preferensi emosional pengguna, sehingga lebih mudah menstimulasi kebiasaan ini. Selain itu, perkembangan realâtime news feed dan notifikasi push membuat pengguna sulit melepaskan diri. Peningkatan penggunaan smartphone di kalangan remaja dan dewasa muda meningkatkan risiko. Menurut beberapa ahli, jika tidak ditangani, doomscrolling dapat menyebabkan âpandemic of anxietyââpenyakit kecemasan yang meluas di masyarakat. Kebijakan publik dan edukasi digital perlu ditingkatkan untuk meminimalkan efek negatif ini.
Strategi Menghentikan Doomscrolling
Berikut beberapa langkah praktis untuk mengurangi kebiasaan doomscrolling: pertama, batasi waktu yang dihabiskan di media sosial. Gunakan fitur âtime limitâ atau aplikasi yang memantau penggunaan. Kedua, pilih sumber berita yang kredibel dan hindari headline sensasional. Ketiga, tetapkan jadwal membaca berita, misalnya satu kali sehari setelah jam makan malam. Keempat, lakukan aktivitas offline seperti olahraga, meditasi, atau hobi yang menenangkan. Kelima, gunakan teknik âdigital detoxâ dengan menonaktifkan notifikasi selama waktu tertentu. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, individu dapat mengendalikan eksposur terhadap berita negatif dan melindungi kesehatan mental.
Kesimpulan
Doomscrolling telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital modern, terutama sejak pandemi COVIDâ19 menambah beban informasi. Meskipun awalnya bertujuan untuk memahami situasi, kebiasaan ini dapat berujung pada kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Faktor-faktor seperti kebutuhan akan perkembangan terbaru, rasa takut kehilangan kontrol, serta algoritma media sosial memicu perilaku ini. Prediksi menunjukkan bahwa doomscrolling akan terus merajalela tanpa intervensi yang tepat. Melalui edukasi digital, kebijakan publik, dan langkah pribadi seperti membatasi waktu layar, masyarakat dapat mengurangi dampak negatif dan menjaga kesejahteraan mental di era digital.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.antaranews.com/berita/5700812/apa-itu-doomscrolling-dan-mengapa-banyak-orang-mengalaminya, without altering the facts of the original article.