Pejabat yang Dikucilkan di RI, Tapi Malah Dihormati di Negara Lain sebagai Pahlawan

Sejarah mencatat ada pejabat Indonesia yang sempat dikucilkan dan ditahan di dalam negeri. Namun, di luar negeri, sosok ini justru mendapat penghormatan dan dipercaya menduduki posisi penting di sejumlah organisasi internasional. Sosok tersebut adalah Mohammad Natsir yang pernah menjadi menteri dan Perdana Menteri Indonesia pada 1950.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada 1960, pemerintah kemudian menangkap Natsir karena terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Ia menjalani masa tahanan politik hingga akhirnya dibebaskan pada 1966. Ketika era Soeharto, Natsir tetap dicap sebagai pembangkang dan hidup terlunta-lunta di negeri sendiri. Namun, ketika pemerintah Indonesia menjauhinya, Natsir justru mendapat tempat terhormat di dunia internasional.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Salah satu pandangan Natsir yang dikenal adalah ajaran bahwa Islam mengutamakan akal sehat dalam menjalankan ajarannya. Atas dasar pandangan tersebut, ia mendorong Islam untuk turut berperan dalam membangun bangsa melalui pemerintahan. Pemikiran dan kiprah Natsir membuat pengaruhnya tetap terasa di dunia internasional. Bahkan, pada 1957, ia dianugerahi gelar Grand Gordon of Nikhan Istihar sebagai bentuk penghargaan atas dukungannya terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat Afrika Utara.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pengakuan internasional tersebut tidak hanya terhenti di situ. Setelah dibebaskan dari tahanan, kiprah Natsir di dunia internasional semakin terlihat. Ia tidak hanya dikenal sebagai politikus dan pemikir Islam dari Indonesia, tetapi juga dipercaya memegang posisi penting dalam berbagai organisasi Muslim dunia. Salah satunya adalah Kongres Muslim Dunia (World Muslim Congress) di Karachi, Pakistan. Natsir dipercaya menjadi wakil presiden organisasi tersebut sejak 1967 hingga akhir hayatnya pada 1993.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pengaruhnya bahkan meluas hingga ke negara-negara Barat dan Asia. Pada 1980-an, Natsir aktif dalam organisasi internasional di Kuwait, Inggris, dan Pakistan. Natsir juga memperoleh penghargaan dari dunia internasional. Dia dianugerahi penghargaan tertinggi dari Raja Arab Saudi Faisal, yakni Jaizatul Malik Faisal al-Alamiya. Lalu, pernah juga mendapat gelar doktor Honoris Causa dari berbagai kampus dunia. Rangkaian posisi dan penghargaan tersebut menunjukkan bahwa Natsir bukan sekadar memiliki pengaruh dalam politik Indonesia. Di tengah posisinya yang tersisih dari panggung politik dalam negeri, ia justru dipercaya dan dihormati di lingkungan internasional, khususnya dunia Muslim.

Kesimpulan

Natsir diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 2008 setelah pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Pengakuan internasional dan penghargaan yang diterima Natsir menunjukkan bahwa dia bukan sekadar pejabat yang dikucilkan di Indonesia, tetapi juga seorang pemikir dan politikus yang dihormati di dunia internasional.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260810091806-25-757829/pejabat-ini-dikucilkan-di-ri-tapi-malah-dihormati-negara-lain, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *