Korban Bom Atom di Jepang: 3 WNI Terluka, Kulit Terbakar-Nyaris Tewas

Ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima pada 6 Agustus 1945 atau tepat hari ini 81 tahun lalu membuat 120 ribu orang tewas dan jutaan lainnya sakit parah. Di antara para korban, tiga mahasiswa asal Indonesia, yakni Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, yang kemudian sempat kritis akibat paparan radiasi.

Momen Penentu di Menit Akhir

Mereka merupakan mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Jepang, Nanpo Tokubetsu Ryogakusei (Nantoku), yang dibuat untuk menarik perhatian pemuda Indonesia agar menimba ilmu dan kelak membangun Tanah Air. Namun, pada 6 Agustus 1945, semuanya berubah. Pagi itu, ketiganya menjalani aktivitas seperti biasa. Arifin Bey yang sedang mengikuti kuliah fisika ketika tiba-tiba melihat cahaya menyambar dari arah jendela. “Tiba-tiba dari arah jendela kelas kelihatan cahaya menyambar ibarat kilat. Tapi, tak membawa bunyi apa pun,” kenang Arifin Bey dalam memoar Bom Atom di Atas Hiroshima: Suatu Pengalaman Nyata (1986).

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Beberapa detik kemudian, gelombang panas menghantam ruang kelas. Dinding runtuh dan Arifin kehilangan kesadaran. Di lokasi lain, Sagala juga mendengar suara pesawat yang diikuti cahaya menyilaukan. Belakangan diketahui pesawat tersebut adalah Enola Gay B-29 yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima. “Tiba-tiba terdengar suara aneh dan…. sraatt, sinar berkilau, dengan dahsyat dan mengejutkan!” tutur Sagala dalam memoar Suka Duka Pelajar Indonesia di Jepang, Sekitar Perang Pasifik 1942-1945 (1990). Saat sadar, Sagala mendapati tubuhnya hangus akibat panas ledakan, sementara tubuhnya masih terjepit reruntuhan bangunan.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut dokter apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. “Pernyataan itu ditandatangani dan pasrah,” kenang Arifin Bey dalam Bom Atom di Atas Hiroshima (1989). Beruntung, mereka berhasil melewati masa kritis setelah sekitar satu pekan. Selama lima tahun berikutnya, kondisi kesehatan mereka terus dipantau sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Sepulang dari Jepang, Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada 1969. Kehidupan mereka setelah peristiwa tersebut tidak pernah sama lagi. Mereka telah melewati masa kritis dan telah pulih dari luka bakar yang sangat parah. Namun, peristiwa tersebut telah meninggalkan bekas yang tidak dapat dilupakan.

Mengapa & Dampak

Sejarawan Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia (2023) mengungkap, beasiswa Nantoku dibuat pemerintah Jepang untuk menarik perhatian pemuda Indonesia agar menimba ilmu dan kelak membangun Tanah Air. Namun, pada 6 Agustus 1945, semuanya berubah. Ledakan bom atom yang menghancurkan Hiroshima membuat 120 ribu orang tewas dan jutaan lainnya sakit parah. Tiga mahasiswa asal Indonesia, yakni Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, yang kemudian sempat kritis akibat paparan radiasi.

Peristiwa tersebut telah meninggalkan dampak yang sangat besar bagi mereka dan bagi keluarga mereka. Mereka telah melewati masa kritis dan telah pulih dari luka bakar yang sangat parah. Namun, peristiwa tersebut telah meninggalkan bekas yang tidak dapat dilupakan. Sepulang dari Jepang, Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada 1969. Kehidupan mereka setelah peristiwa tersebut tidak pernah sama lagi.

Kesimpulan

Peristiwa 6 Agustus 1945 telah meninggalkan bekas yang tidak dapat dilupakan bagi tiga mahasiswa asal Indonesia, yakni Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya. Mereka telah melewati masa kritis dan telah pulih dari luka bakar yang sangat parah. Namun, peristiwa tersebut telah meninggalkan dampak yang sangat besar bagi mereka dan bagi keluarga mereka. Sepulang dari Jepang, Sagala mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada 1969. Kehidupan mereka setelah peristiwa tersebut tidak pernah sama lagi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260806090819-25-756991/saat-3-wni-jadi-korban-bom-atom-di-jepang-kulit-terbakar-nyaris-tewas, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *