3 Warga Negara Indonesia Terluka Parah Setelah Bom Atom Meledak di Jepang

**3 Warga Negara Indonesia Terluka Parah Setelah Bom Atom Meledak di Jepang** **Momen Penentu di Menit Akhir** Pagi ini, 81 tahun yang lalu, ledakan bom atom di Hiroshima menghancurkan kota dan nyawa 120 ribu orang. Tiga warga negara Indonesia, Sjarif Adil Sagala, Arifin Bey, dan Hasan Rahaya, juga menjadi korban dari kejadian tersebut. Mereka adalah mahasiswa penerima beasiswa pemerintah Jepang, Nanpo Tokubetsu Ryogakusei (Nantoku), yang memiliki tujuan untuk menarik perhatian pemuda Indonesia agar menimba ilmu dan membangun Tanah Air. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Tiga mahasiswa Indonesia ini menjalani aktivitas seperti biasa pada pagi itu. Arifin Bey sedang mengikuti kuliah fisika ketika tiba-tiba melihat cahaya menyambar dari arah jendela. “Tiba-tiba dari arah jendela kelas kelihatan cahaya menyambar ibarat kilat. Tapi, tak membawa bunyi apa pun,” kenang Arifin Bey dalam memoar Bom Atom di Atas Hiroshima: Suatu Pengalaman Nyata (1986). Beberapa detik kemudian, gelombang panas menghantam ruang kelas, dan Arifin kehilangan kesadaran. Di lokasi lain, Sagala juga mendengar suara pesawat yang diikuti cahaya menyilaukan. Belakangan diketahui pesawat tersebut adalah Enola Gay B-29 yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Penderitaan tiga korban tidak berakhir di Hiroshima. Setelah dievakuasi ke Tokyo, dokter menyatakan mereka terpapar radiasi dalam kadar sangat tinggi. Akibatnya, jumlah sel darah putih mereka turun hingga di bawah 4.000 per mikroliter darah, jauh di bawah kisaran normal 4.000-11.000. Kondisi mereka pun dinyatakan kritis. Dokter akhirnya mengaku tak sanggup lagi memberikan pengobatan. Para penyintas diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut dokter apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Beruntung, mereka berhasil melewati masa kritis setelah sekitar satu pekan. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Ketiga mahasiswa Indonesia ini kemudian dipantau kesehatannya selama lima tahun berikutnya sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Sagala bahkan mendirikan perusahaan mi instan pertama di Indonesia dengan merek Supermie pada 1969. Kejadian ini mengingatkan kita akan pentingnya menghindari konflik dan peperangan yang dapat menyebabkan kerusakan besar-besaran dan korban jiwa. Namun, kejadian ini juga menunjukkan bahwa ada harapan dan kesempatan untuk memulai kembali dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260806090819-25-756991/saat-3-wni-jadi-korban-bom-atom-di-jepang-kulit-terbakar-nyaris-tewas, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *