Pemerintah Ingin Mengubah Menteng Jadi Kuburan Warga Jakarta
**Pemerintah Ingin Mengubah Menteng Jadi Kuburan Warga Jakarta** **Momen Penentu di Menit Akhir** Siapa sangka, tanah Menteng yang kini menjadi simbol kemewahan Jakarta pernah hampir berubah menjadi kuburan warga Jakarta (dulu Batavia). Namun, rencana itu tidak pernah terwujud. Pemerintah kolonial memilih mengembangkan kawasan tersebut menjadi permukiman elite yang kelak menjadi salah satu kawasan paling bergengsi di Indonesia. **APA YANG TERJADI** Pada 1908, pemerintah kota Batavia bernegosiasi untuk membeli tanah pribadi di Menteng milik keturunan Arab, yakni keluarga Shahab. Rencana pembelian itu mencakup sekitar 295 blok bangunan dengan nilai transaksi yang disepakati mencapai 310.000 gulden. Pembelian dilakukan karena pemerintah kota ingin memiliki tanah sendiri di tengah banyaknya lahan pribadi yang tersebar di Batavia. Dengan menguasai lahan itu, pemerintah dapat mengatur perkembangan kawasan sesuai kepentingan publik. Surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad (20 Juli 1908) menyebut tujuan pembelian tersebut adalah agar pemerintah kota memiliki sebidang tanah di antara berbagai lahan pribadi di Batavia. Salah satu pertimbangannya adalah menyediakan lahan apabila suatu saat diperlukan untuk pembangunan pemakaman baru. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Rencana pembelian tanah di Menteng oleh pemerintah kota Batavia pada 1908 merupakan salah satu contoh kebijakan kolonial yang berbeda dari kebijakan modern. Pemerintah kota pada saat itu ingin memiliki lahan sendiri di tengah kawasan pribadi untuk mengatur perkembangan kawasan sesuai kepentingan publik. Rencana pembelian tersebut juga mencakup kemungkinan pembangunan pemakaman baru, yang ternyata tidak pernah terwujud. Selain itu, pemerintah kota juga khawatir jika lahan Menteng jatuh ke tangan swasta, pembangunan kawasan bisa berjalan tanpa pengawasan pemerintah. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Pada akhirnya, rencana Menteng sebagai lokasi pemakaman tidak pernah terwujud. Kawasan tersebut justru mengalami perubahan besar dan berkembang menjadi salah satu proyek perumahan paling modern pada masanya. Adolf Heuken dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia (2001) menjelaskan, proyek ini terjadi tidak lepas dari keinginan pemerintah kolonial membangun hunian sehat di sekitar ibu kota Hindia Belanda. Nantinya, tanah tersebut diarahkan untuk kawasan permukiman kelas atas. “Kotapraja yang baru didirikan ini bermaksud supaya tanah yang baru diperoleh ini digunakan untuk daerah permukiman bagi masyarakat golongan atas,” tulis Heuken. Pembangunan Menteng kemudian dilakukan secara modern melalui perusahaan real estate NV De Bouwploeg. Sejak 1908, perusahaan tersebut mulai membeli tanah di kawasan itu dengan nilai sekitar 238.870 gulden. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Hingga kini, kawasan Menteng tetap dikenal sebagai salah satu wilayah paling mahal dan bersejarah di Jakarta. Rencana pembelian tanah di Menteng oleh pemerintah kota Batavia pada 1908 merupakan salah satu contoh kebijakan kolonial yang berbeda dari kebijakan modern. Pemerintah kota pada saat itu ingin memiliki lahan sendiri di tengah kawasan pribadi untuk mengatur perkembangan kawasan sesuai kepentingan publik. Rencana pembelian tersebut juga mencakup kemungkinan pembangunan pemakaman baru, yang ternyata tidak pernah terwujud.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260729194737-25-754880/saat-pemerintah-ingin-putuskan-menteng-jadi-kuburan-warga-jakarta, without altering the facts of the original article.