Panasnya Menghancurkan, 1000 Unta di Afrika Mati Akibat Cuaca Ekstrem

Momen Penentu di Menit Akhir

Panas ekstrem di Afrika telah menyebabkan kematian massal pada unta peliharaan. Suhu yang sangat tinggi telah membuat unta menderita, dengan gejala seperti kaki melepuh, mata berair, dan kulit yang terbakar oleh pasir panas.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Pengembala unta Semera di Afar, Ethiopia, Ali Umer melaporkan bahwa 500 unta peliharaannya sangat menderita karena panas ekstrem. Bahkan, delapan anak unta telah mati selama satu bulan terakhir karena fenomena ini. Suhu yang sangat tinggi telah menghilangkan air, vegetasi, dan area untuk berteduh, membuat kehidupan unta menjadi sangat sulit.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Sebuah studi pada 2025 terkait persepsi pengembala unta di Ethiopia Selatan juga menunjukkan bahwa fenomena suhu tinggi dan variabilitas iklim berdampak buruk pada kesehatan kawanan unta. Di Somalia, kematian unta karena kekeringan akibat krisisi yang meluas telah berdampak pada 46% rumah tangga pemilik unta.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Petugas veteriner di Kenya, Hassan Nuya Guyo mengatakan kematian unta di wilayahnya meningkat lebih dari 15% karena fenomena tersebut selama dua tahun terakhir. “Kami melihat peningkatan signifikan pada kasus hipertermia pada unta membuat mereka terkena sejumlah infeksi,” ujarnya.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Cuaca panas ekstrem memang menjadi kejadian umum di Afrika Utara. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat gelombang panas dengan tren kenaikan terjadi sejak 1981. Kawasan Afrika Utara serta Timur Tengah mencatat suhu hingga di atas 50 derajat Celcius pada 2024. WMO juga mengatakan Afrika Utara mengalami pemanasan tercepat di enam subwilayah, dengan 0,43 derajat celcius per dekade selama 1991 hingga 2025. Dengan demikian, Afrika Utara masih harus menghadapi tantangan besar dalam menghadapi perubahan iklim ini. Panas ekstrem di Afrika telah menyebabkan kematian massal pada unta peliharaan. Suhu yang sangat tinggi telah membuat unta menderita, dengan gejala seperti kaki melepuh, mata berair, dan kulit yang terbakar oleh pasir panas. Pengembala unta Semera di Afar, Ethiopia, Ali Umer melaporkan bahwa 500 unta peliharaannya sangat menderita karena panas ekstrem. Bahkan, delapan anak unta telah mati selama satu bulan terakhir karena fenomena ini. Fenomena suhu tinggi dan variabilitas iklim telah berdampak buruk pada kesehatan kawanan unta. Sebuah studi pada 2025 terkait persepsi pengembala unta di Ethiopia Selatan juga menunjukkan bahwa fenomena suhu tinggi dan variabilitas iklim berdampak buruk pada kesehatan kawanan unta. Di Somalia, kematian unta karena kekeringan akibat krisisi yang meluas telah berdampak pada 46% rumah tangga pemilik unta. Petugas veteriner di Kenya, Hassan Nuya Guyo mengatakan kematian unta di wilayahnya meningkat lebih dari 15% karena fenomena tersebut selama dua tahun terakhir. “Kami melihat peningkatan signifikan pada kasus hipertermia pada unta membuat mereka terkena sejumlah infeksi,” ujarnya. Cuaca panas ekstrem memang menjadi kejadian umum di Afrika Utara. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mencatat gelombang panas dengan tren kenaikan terjadi sejak 1981. Kawasan Afrika Utara serta Timur Tengah mencatat suhu hingga di atas 50 derajat Celcius pada 2024. WMO juga mengatakan Afrika Utara mengalami pemanasan tercepat di enam subwilayah, dengan 0,43 derajat celcius per dekade selama 1991 hingga 2025. Dengan demikian, Afrika Utara masih harus menghadapi tantangan besar dalam menghadapi perubahan iklim ini. Mereka harus mencari solusi untuk menghadapi perubahan iklim ini, seperti mencari sumber air yang lebih stabil dan mengembangkan teknik untuk mengurangi efek panas ekstrem. Dengan demikian, mereka dapat mengurangi dampak perubahan iklim ini pada kesehatan unta dan pada kehidupan mereka sendiri.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260806062422-37-756944/saking-panasnya-unta-di-afrika-tak-tahan-sampai-ada-yang-mati, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *