Destry Ungkap 4 PR Besar Bank Sentral di Era AI-Fragmentasi Global

**Destry Ungkap 4 PR Besar Bank Sentral di Era AI-Fragmentasi Global** **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada hari Sabtu, 31 Juli 2026, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan 4 prioritas besar bank sentral di era transformasi digital dan fragmentasi geoekonomi global. Destry menekankan bahwa bank sentral di seluruh dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks akibat fragmentasi geoekonomi, percepatan transformasi digital, hingga meningkatnya risiko sistemik. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** Destry menuturkan bahwa kondisi tersebut membuat pendekatan kebijakan yang selama ini berjalan secara sektoral tidak lagi memadai. Bank sentral kini dituntut mengintegrasikan berbagai instrumen kebijakan, mulai dari kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi dengan kebijakan fiskal. Pesan itu disampaikan Destry saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Untuk menjawab tantangan tersebut, riset bank sentral harus diarahkan pada sejumlah agenda prioritas yang relevan dengan perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global. Adapun, prioritas pertama adalah memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi yang memengaruhi perdagangan, investasi, dan arus modal global. Kedua, memperdalam kajian mengenai perkembangan keuangan digital dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral. Kajian tersebut mencakup sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), teknologi finansial (fintech), aset kripto, hingga mata uang digital. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Selanjutnya, BI juga menilai penting untuk mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi berbagai risiko baru, mulai dari ancaman siber, perubahan iklim, tekanan likuiditas, hingga risiko lintas negara. Adapun agenda keempat adalah memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan guna menjaga kepercayaan publik terhadap otoritas moneter. “Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” tegas Destry. **Koordinasi Kebijakan di Tengah Ketidakpastian Global** Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyoroti pentingnya koordinasi kebijakan di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi. Menurut Juda, otoritas ekonomi menghadapi tantangan yang dikenal sebagai trilema kebijakan, yakni menjaga stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter secara bersamaan. Karena itu, ia menekankan bahwa kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendiri. Stabilitas ekonomi memerlukan dukungan kebijakan fiskal, kebijakan makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas yang saling melengkapi. **Kesimpulan** Konferensi BMEB tahun ini juga menyoroti berbagai isu strategis yang tengah menjadi perhatian bank sentral dan pembuat kebijakan di seluruh dunia. Dalam sesi terkait fragmentasi geoekonomi, para akademisi menyoroti semakin besarnya pengaruh guncangan global terhadap kebijakan moneter, perdagangan, dan investasi. Kondisi tersebut dinilai menuntut penguatan koordinasi kebijakan, penggunaan analisis berbasis skenario (scenario analysis), serta kerja sama internasional guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan investasi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260805071300-17-756609/destry-ungkap-4-pr-besar-bank-sentral-di-era-ai-fragmentasi-global, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *