Pejabat RI Terciduk Naik Angkot, Tolak Pakai Mobil Dinas, Bikin Geger di Ibu Kota

**Pejabat RI Terciduk Naik Angkot, Tolak Pakai Mobil Dinas, Bikin Geger di Ibu Kota** **Pembuka** Pejabat RI Baharuddin Lopa dikenal sebagai sosok sederhana yang tidak pernah menggunakan mobil dinas untuk kepentingan pribadi. Ia percaya bahwa mobil dinas hanya boleh digunakan untuk menjalankan tugas negara. Prinsip ini membuatnya menjadi sorotan di kalangan masyarakat, terutama saat ia menolak menggunakan mobil dinas untuk acara pernikahan pada 1980-an. **Momen Penentu di Menit Akhir** Pada hari Minggu, Baharuddin Lopa turun dari angkot dan berjalan memasuki lokasi acara pernikahan seperti tamu lainnya. Ketika ditanya mengapa ia tidak menggunakan mobil dinas, Lopa menjawab, “Ini hari Minggu. Ini juga bukan acara dinas. Jadi, saya tak boleh datang dengan mobil kantor.” Sikap ini membuatnya dikenal sebagai pejabat yang tetap hidup miskin meski memiliki karier cemerlang. **Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda** 1. Sejak menjadi jaksa pada 1958, Baharuddin Lopa tidak memiliki mobil pribadi dalam waktu yang lama. Baru pada akhir 1980-an dia membeli mobil melalui Jusuf Kalla, yang saat itu dikenal sebagai pebisnis mobil di Sulawesi Selatan. 2. Lopa membeli mobil seharga sekitar Rp50 juta dengan cara mencicil setiap bulan. Ia tidak ingin diistimewakan dan menolak tawaran harga khusus dari Kalla. 3. Selama bertugas sebagai jaksa di berbagai daerah, Lopa berhasil menyelamatkan uang negara dari berbagai kasus korupsi. Rekam jejak ini mengantarkannya dipercaya menjadi Jaksa Agung pada Juni 2001. **Apa Artinya Ini ke Depan?** Kesederhanaan Baharuddin Lopa tidak hanya terlihat dari penggunaan angkot, tetapi juga dari hidupnya yang tanpa perabot mahal. Ia tetap hidup miskin meski memiliki karier cemerlang. Dampaknya, ia menjadi contoh bagi pejabat lain untuk mengingatkan diri bahwa kekuasaan hanya untuk menjalankan tugas negara, bukan untuk kepentingan pribadi. **Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh** Meski Baharuddin Lopa meninggal dunia pada 3 Juli 2001, namun prinsipnya tetap relevan hingga saat ini. Masyarakat masih perlu diingatkan akan pentingnya kesederhanaan dan tidak menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Lebih dari itu, masih banyak pejabat yang perlu belajar dari contoh Lopa dan mengingatkan diri bahwa kekuasaan hanya untuk menjalankan tugas negara.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714162653-25-750768/bikin-geger-pejabat-ri-terciduk-naik-angkot-tolak-pakai-mobil-dinas, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *