Ono Surono Geram dengan Wacana Reaktivasi SPP SMA/SMK Negeri, Ini Alasannya
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, menolak wacana reaktivasi Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) di SMA dan SMK negeri. Menurutnya, pemerintah harus mengoptimalkan anggaran pendidikan untuk memenuhi seluruh kebutuhan sekolah, bukan membebankan biaya kepada masyarakat. Pendidikan dasar hingga menengah merupakan hak warga negara yang wajib dijamin pemerintah melalui alokasi anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
Reaktivasi SPP Menuai Kontroversi
Ono Surono menegaskan bahwa jika masih ada kekurangan fasilitas di sekolah-sekolah negeri, itu menjadi tanggung jawab pemerintah dan negara untuk memenuhinya, bukan dengan membebankan kembali SPP kepada masyarakat. Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat itu juga menjelaskan bahwa Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional mewajibkan pemerintah mengalokasikan sedikitnya 20 persen anggaran APBN maupun APBD untuk sektor pendidikan.
Selain itu, pemerintah juga berkewajiban menyelenggarakan program wajib belajar 12 tahun sehingga peserta didik di sekolah negeri, berhak memperoleh layanan pendidikan tanpa dipungut biaya. Ono juga mengkritisi usulan penerapan SPP bagi masyarakat yang masuk kategori desil 6 hingga desil 10. Menurutnya, data kesejahteraan yang digunakan sebagai dasar pengelompokan, masih belum sepenuhnya akurat.
Data Kesejahteraan yang Belum Akurat
Ono menilai bahwa masih banyak warga yang sebenarnya tidak mampu, tetapi tercatat dalam kelompok desil yang lebih tinggi sehingga tidak memperoleh bantuan sosial maupun mengalami penonaktifan kepesertaan BPJS Kesehatan. “Artinya, belum ada jaminan bahwa masyarakat yang masuk desil 6 sampai 10 benar-benar memiliki kemampuan ekonomi untuk membayar SPP,” ucapnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Ono meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, mengoptimalkan pemenuhan mandatory spending pendidikan sebesar 20 persen agar seluruh kebutuhan sekolah negeri dapat dipenuhi. “Anggaran tersebut harus diprioritaskan untuk pembangunan ruang kelas, laboratorium, sarana olahraga, tempat ibadah, hingga kebutuhan operasional sekolah dan kesejahteraan tenaga pendidik,” ucapnya.
Selain memperkuat pembiayaan sekolah negeri, Ono juga meminta pemerintah memberikan dukungan yang lebih besar kepada sekolah swasta, melalui bantuan pembangunan ruang kelas maupun peningkatan sarana pendidikan. Ono menambahkan bahwa DPRD Jawa Barat akan terus mengawal agar APBD Provinsi Jawa Barat difokuskan pada pemenuhan kebutuhan pendidikan di tingkat SMA, SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan pemerintah Provinsi.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Prioritas tersebut meliputi penyediaan sarana dan prasarana belajar, biaya operasional sekolah, serta pemenuhan kebutuhan guru ASN maupun honorer. “Fokus kita adalah memastikan seluruh kebutuhan sekolah negeri di Jawa Barat dapat dipenuhi melalui APBD, sehingga hak masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas dan gratis benar-benar terwujud,” ucapnya.
Ono Surono berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali wacana reaktivasi SPP dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pendidikan di Jawa Barat. Dengan demikian, diharapkan seluruh masyarakat dapat memperoleh pendidikan yang berkualitas dan gratis, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://jabar.tribunnews.com/metro-bandung/1178695/ono-surono-tolak-wacana-reaktivasi-spp-smasmk-negeri-optimalkan-anggaran-pendidikan, without altering the facts of the original article.