Mantan Menteri RI Terciduk Jualan Beras di Glodok, Begini Reaksi Publik

Momen Penentu di Menit Akhir

Saifuddin Zuhri diketahui berjualan beras di Pasar Glodok hampir setiap hari. Setiap pagi sekitar pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, dia menyetir mobilnya sendiri sambil mengangkut barang dagangan menuju pasar. Aktivitas itu dijalaninya tanpa diketahui keluarganya. Mereka hanya mengetahui Saifuddin selalu pulang membawa uang, tetapi tidak pernah tahu dari mana penghasilan itu berasal. Hingga suatu hari, salah seorang putranya secara tidak sengaja memergoki sang ayah sedang berdagang di Pasar Glodok.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Saifuddin Zuhri memiliki latar belakang yang sederhana dan komitmen untuk menjalani hidup sederhana. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), dia menceritakan bahwa pada 1942, ketika anak pertamanya lahir, dia pernah mencari nafkah sebagai pedagang. Saat itu, dia menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang, mulai dari pakaian bekas, peralatan rumah tangga bekas, hingga rokok. Kesederhanaan Saifuddin ternyata sudah terlihat sejak masih menjabat sebagai Menteri Agama. Baginya, jabatan merupakan amanah yang tidak boleh dimanfaatkan untuk memperoleh keistimewaan pribadi. Saifuddin juga dikenal sebagai sosok yang menolak fasilitas rumah dinas ketika menjabat sebagai Menteri Agama. Dia memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di Jalan Dharmawangsa Raya No. 4, Kebayoran Baru. Bahkan ketika didesak agar menerima fasilitas tersebut, dia tetap menolak karena tidak ingin bersikap serakah. “Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain… sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang,” tegasnya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok dapat menjadi contoh bagi pejabat negara lainnya bahwa kesederhanaan dan komitmen untuk menjalani hidup sederhana sangat penting. Saifuddin menunjukkan bahwa tidak ada salahnya untuk bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara yang halal, bahkan setelah pensiun dari jabatan negara. Jejak hidup Saifuddin Zuhri berakhir pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Namun, pengabdiannya seolah berlanjut ketika putra bungsunya, Lukman Hakim Saifuddin, dipercaya menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kisah Saifuddin Zuhri juga dapat menjadi refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya kesederhanaan dan komitmen untuk menjalani hidup sederhana. Dalam era yang serba mewah ini, kejadian Saifuddin Zuhri berjualan beras di Pasar Glodok dapat menjadi pengingat bahwa tidak ada salahnya untuk bekerja keras dan mencari nafkah dengan cara yang halal. Dengan demikian, kita dapat meneladani kesederhanaan dan komitmen Saifuddin Zuhri untuk menjalani hidup sederhana dan bermanfaat bagi masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260714151404-25-750735/geger-mantan-menteri-ri-terciduk-jualan-beras-di-glodok, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *