Kuil Jadi Alternatif, Anak Muda Korea Pilih Mencari Jodoh di Tempat Ibadah

Kuil Naksansa di Korea Selatan menjadi lokasi retret perjodohan yang unik, di mana anak-anak muda lajang berkumpul untuk mencari pasangan hidup. Program yang digelar selama dua hari satu malam ini berhasil mempertemukan lima pasangan lajang sebagai upaya mengatasi rendahnya angka kelahiran di negara tersebut. Retret perjodohan ini menjadi alternatif bagi anak-anak muda Korea yang mencari jodoh di tempat ibadah. Angka kelahiran yang rendah menjadi perhatian serius pemerintah Korea Selatan.

Momen Penentu di Menit Akhir

Retret berlangsung di Kuil Naksansa yang didirikan pada 671 Masehi pada era Kerajaan Silla. Salah satu kegiatan utamanya adalah latihan membangun kepercayaan, di mana peserta berjalan dengan mata tertutup sambil bergandengan tangan dan saling memandu melalui deskripsi pemandangan. Seorang biksu mengikuti mereka dari belakang hingga mencapai gerbang kuil yang menurut legenda merupakan tempat mimpi menjadi kenyataan. Program ini diikuti 10 pria dan 10 wanita lajang berusia 20 hingga 30 tahun.

Minat terhadap program terus meningkat. Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 4.225 orang mendaftar untuk memperebutkan hanya 20 tempat yang tersedia, mencatat jumlah pelamar tertinggi sejak program dimulai. Salah seorang peserta, Choi Ye-ri (30), mengaku terdorong mengikuti retret karena melihat banyak orang di sekitarnya telah menikah dan membangun keluarga.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Ketua Yayasan Buddhis Korea untuk Kesejahteraan Sosial, Yang Mulia Doryun, mengatakan retret tersebut bukan sekadar ajang mencari pasangan. Menurutnya, kegiatan itu juga bertujuan mendorong peserta merenungkan persoalan rendahnya angka kelahiran serta memikirkan masa depan Korea Selatan. Angka kesuburan total negara itu naik menjadi 0,80 pada 2025 dari 0,75 pada 2024, menandai peningkatan selama dua tahun berturut-turut.

Namun, pemerintah memperkirakan jumlah penduduk Korea Selatan akan menyusut dari sekitar 51,8 juta jiwa menjadi 36,2 juta jiwa pada 2072. Oleh karena itu, program seperti retret perjodohan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan angka kelahiran dan mengatasi krisis demografi yang dihadapi negara tersebut.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Panitia mengumumkan pada Minggu (12/7/2026) bahwa retret tersebut berhasil mempertemukan lima pasangan. Mereka yang berhasil menemukan pasangan melalui program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat Korea Selatan bahwa mencari jodoh tidak harus melalui cara-cara yang biasa. Program ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk mencari pasangan hidup melalui jalur yang lebih positif dan bermakna.

Kedepannya, program seperti ini diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi rendahnya angka kelahiran di Korea Selatan. Dengan demikian, negara tersebut dapat meningkatkan jumlah penduduk dan menghadapi tantangan demografi yang dihadapi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260713173850-34-750490/anak-muda-korea-ramai-ramai-cari-jodoh-di-kuil-nyerah-dengan-aplikasi, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *