Wisatawan Bikin ‘Debu Setan’ Bromo Malah Jadi Tontonan, Mengapa?
Fenomena ‘debu setan’ atau dust devil kembali muncul di kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, dan menjadi tontonan bagi wisatawan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo menegaskan bahwa fenomena ini merupakan hal yang lumrah terjadi di kawasan kaldera Bromo, terutama saat memasuki musim kemarau. ‘Debu setan’ ini merupakan pusaran angin yang mengangkat debu, pasir, dan beberapa barang ringan di sekitarnya.
Momen Penentu di Kawasan Bromo
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, fenomena dust devil terbentuk dari bawah akibat pemanasan permukaan tanah yang sangat tinggi saat cuaca cerah. Kawasan lautan pasir Bromo yang luas, kering, dan minim vegetasi membuat permukaan tanah menyerap panas matahari secara intensif. Udara panas di dekat permukaan tanah kemudian naik dengan cepat. Saat bertemu dengan lapisan udara yang lebih dingin di atasnya, terbentuk lah pusaran udara yang mengangkat debu dan pasir halus.
Dalam rekaman video yang beredar, pusaran angin tersebut tampak mengangkat debu, pasir, hingga beberapa barang ringan di sekitarnya. Kendati demikian, sejumlah pedagang di lokasi terlihat tetap tenang dan tidak panik. Sebaliknya mereka malah asyik menontonnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Oemar Sjarief juga meluruskan anggapan wisatawan yang kerap menyamakannya dengan angin puting beliung. “Secara visual memang tampak seperti tornado kecil yang membawa debu dan pasir, namun ukurannya jauh lebih kecil dan proses terbentuknya berbeda dengan puting beliung,” kata Oemar. Ia menjelaskan bahwa puting beliung terbentuk dari awan cumulonimbus yang menjulur ke permukaan bumi, sedangkan dust devil terbentuk dari bawah akibat pemanasan permukaan tanah.
Mengenai dampak, BPBD tetap mengimbau para wisatawan untuk tidak mendekati pusaran angin tersebut dan menjaga jarak aman. Wisatawan juga disarankan untuk selalu menggunakan masker guna menghindari debu, memakai kacamata pelindung, serta menggunakan tabir surya atau pelembap untuk melindungi kulit dari cuaca panas ekstrem di Bromo.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
“Apabila pusaran angin tiba-tiba melintas di dekat lokasi, pengunjung diimbau tetap tenang, berhenti sejenak, menutup mata jika diperlukan, dan membiarkan pusaran berlalu dengan sendirinya,” pungkas Oemar. Dengan demikian, wisatawan dapat menikmati keindahan alam Bromo dengan aman dan nyaman.
Dengan kejadian ini, wisatawan diharapkan lebih waspada dan memahami fenomena alam yang ada di Bromo. Selain itu, pihak terkait juga diharapkan untuk terus memberikan informasi dan imbauan kepada wisatawan untuk meningkatkan kesadaran dan keselamatan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/travel-news/d-8567384/fenonema-debu-setan-menerjang-bromo-wisatawan-malah-jadikan-tontonan, without altering the facts of the original article.