Indonesia Tertinggal dalam Revolusi 5G, Akankah 6G Menjadi Peluang?

Indonesia masih tertinggal dalam revolusi teknologi 5G, dengan penetrasi yang belum mencapai 10%, jauh di bawah negara-negara lain yang telah mencapai di atas 70%. Sarwoto, seorang ahli teknologi, menyebutkan bahwa Indonesia harus segera mengerjakan teknologi 6G agar tidak tertinggal lagi. “Kita kan suka lelet tuh. Makanya kita mesti kerjain sekarang gitu. Karena kalau kita tidak terencana dengan baik, tahu-tahu didadadak oleh international environment yang mereka sudah siap,” katanya.

Momen Penentu di Menit Akhir

Sarwoto menjelaskan bahwa teknologi 5G sudah masuk laboratorium sejak 2012 dan pertama kali diimplementasikan sekitar 2017 di dunia. Indonesia sendiri pertama kali meluncurkan 5G pada 2021 oleh Telkomsel. Namun, hingga saat ini, penetrasi 5G di Indonesia masih sangat rendah. Sarwoto juga menyebutkan bahwa tidak masalah untuk langsung lompat ke 6G, asalkan bergantung pada pemanfaatan kegiatan ekonomi dan non-ekonomi yang bisa didapatkan.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Berikut adalah tiga fakta yang membuat kejadian ini berbeda:

Teknologi 5G sudah masuk laboratorium sejak 2012 dan pertama kali diimplementasikan sekitar 2017 di dunia. Indonesia sendiri pertama kali meluncurkan 5G pada 2021 oleh Telkomsel. Penetrasi 5G di negara lain telah mencapai di atas 70%, sedangkan Indonesia belum sampai 10%. Sarwoto juga menyebutkan bahwa sebagai operator seluler, mereka akan memikirkan pemanfaatan ekonomi yang ada, terkait jumlah device 5G yang sudah aktif.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Mengapa penetrasi 5G masih rendah? Sarwoto menjelaskan bahwa sebagai operator seluler, mereka akan memikirkan pemanfaatan ekonomi yang ada. Ini terkait jumlah device 5G yang sudah aktif. “Nah kalau saya harus berinvestasi BTS mengganti seluruh BTS 4G menjadi 5G sedangkan enabler-nya cuman di bawah 20%, itu yang jadi maksudnya economic wise-nya itu belum masuk,” jelasnya. Dampaknya, Indonesia harus segera mengerjakan teknologi 6G agar tidak tertinggal lagi.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kesimpulannya, Indonesia masih memiliki jalan panjang untuk mengejar ketertinggalan dalam revolusi teknologi 5G. Namun, dengan segera mengerjakan teknologi 6G, Indonesia dapat memanfaatkan peluang baru dan meningkatkan penetrasi teknologi di dalam negeri. Sarwoto menyebutkan bahwa “market akan menjawab” jika teknologi 6G dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi dan non-ekonomi yang lebih baik. Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan teknologinya dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260710042228-37-749629/lelet-masuk-5g-ini-alasan-ri-harus-mulai-pindah-ke-6g, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *