Pernyataan Kontroversial Pemimpin Tertinggi Iran, Kutip Pidato Presiden RI

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggalkan warisan yang tak terlupakan dalam sejarah negaranya. Sebelum wafat pada 28 Februari 2026, Khamenei pernah mengutip pidato Presiden pertama RI, Soekarno, untuk menjelaskan pentingnya persatuan di tengah perbedaan agama dan ideologi. Hal ini terungkap dalam memoar Cell No. 14 (2021), yang menceritakan pengalaman Khamenei saat menjadi tahanan politik pada era pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada dekade 1970-an.

Momen Penentu di Balik Jeruji Besi

Pada masa penjaranya, Khamenei pernah berbagi sel dengan beberapa tahanan, termasuk seorang pemuda yang belakangan diketahui merupakan jurnalis yang memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Tudeh. Menurut Khamenei, pemuda tersebut sangat pendiam dan selalu menghindari pembicaraan mengenai dirinya. Khamenei kemudian melihat kondisi mental pemuda itu semakin tertekan setelah ditangkap. Dia jarang makan dan tampak kehilangan semangat.

Melihat keadaan tersebut, Khamenei berusaha membantunya, bahkan beberapa kali menyuapinya agar mau makan. Beberapa waktu kemudian, pemuda itu akhirnya mengungkap alasan mengapa selalu menjaga jarak. Dia mengaku khawatir Khamenei akan mengajaknya bergabung dengan organisasi Islam. Jika gerakan Islam berhasil mendirikan republik, dia merasa akan menghadapi persoalan karena tidak mempercayai agama.

Kata-Kata Soekarno yang Mengubah Perspektif

Mendengar pengakuan itu, Khamenei tidak mempersoalkan perbedaan keyakinan. Sebaliknya, dia menegaskan bahwa orang-orang yang menghadapi kesulitan yang sama seharusnya tetap bisa bersatu. Untuk menjelaskan pandangannya, Khamenei kemudian mengutip pidato Presiden pertama RI, Soekarno, dalam Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.

“Tahukah kamu bahwa Presiden Sukarno dari Indonesia pernah mengatakan pada Konferensi Bandung bahwa dasar persatuan negara-negara berkembang bukanlah kesamaan agama, sejarah, atau budaya, melainkan ‘kesatuan kebutuhan’,” tulis Khamenei dalam memoarnya. Menurut Khamenei, pemikiran Soekarno itu juga menggambarkan keadaan para tahanan politik di penjara. Meski memiliki latar belakang agama, ideologi, dan pandangan politik yang berbeda, mereka sama-sama menghadapi penindasan dari rezim Shah.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Pernyataan Khamenei yang mengutip Soekarno ini memiliki dampak yang signifikan dalam sejarah Iran. Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin tertinggi Iran itu memiliki pandangan yang luas dan inklusif dalam memandang perbedaan agama dan ideologi. Selain itu, pernyataan ini juga menggambarkan bagaimana pengalaman sebagai tahanan politik membentuk perspektif Khamenei dalam memandang pentingnya persatuan.

Pemakaman Khamenei pada 9 Juli 2026 di kota kelahirannya, Mashhad, akan menjadi momentum penting untuk mengingat warisan yang ditinggalkan oleh pemimpin tertinggi Iran itu. Pernyataan kontroversialnya yang mengutip Soekarno akan terus dikenang sebagai simbol persatuan dan keberanian dalam memandang perbedaan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Setelah wafatnya Khamenei, Iran masih memiliki jalan panjang untuk ditempuh dalam memandang peranannya dalam sejarah. Namun, satu hal yang pasti adalah warisan yang ditinggalkan oleh Khamenei akan terus dikenang sebagai simbol keberanian dan persatuan. Pernyataan kontroversialnya yang mengutip Soekarno akan terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam memandang pentingnya persatuan di tengah perbedaan.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260707113053-25-748708/pemimpin-tertinggi-iran-kutip-pidato-presiden-ri-bilang-begini, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *