Menteri UMKM Ungkap Alasan Ojol Lebih Pilih Status Usaha Daripada Karyawan
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan bahwa mayoritas pengemudi ojek online (ojol) memilih berstatus sebagai pelaku usaha mikro ketimbang menjadi pekerja atau karyawan. Hal ini disampaikan Maman setelah menggelar audiensi dengan sekitar 19 perwakilan komunitas dan asosiasi pengemudi ojol dari GrabBike, Gojek, hingga Maxim di Kantor Kementerian UMKM di Jakarta. Menurut Maman, para pengemudi memiliki sejumlah alasan memilih status sebagai pelaku usaha, termasuk fleksibilitas dalam bekerja dan peluang untuk mengembangkan usaha lain.
Fleksibilitas dan Peluang Usaha
Maman menjelaskan bahwa para pengemudi ojol memilih status usaha karena adanya fleksibilitas dalam bekerja. Mereka juga menganggap bahwa status usaha ini memberi peluang bagi mereka untuk mengembangkan usaha lain di luar aktivitas sebagai pengemudi ojek online. “Alasannya apa? Pertama ada fleksibilitas. Yang kedua, mereka menganggap dengan status usaha ini mereka bisa punya beberapa usaha lain karena mereka tidak hanya satu-satunya ojol. Dengan didorong statusnya menjadi pengusaha, mereka punya kesempatan untuk usaha-usaha yang lainnya,” ungkapnya.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Dengan status sebagai pelaku usaha mikro transportasi online, pengemudi ojol nantinya berhak memperoleh berbagai fasilitas yang selama ini diberikan kepada pelaku UMKM, termasuk akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Maman menegaskan bahwa status baru tersebut secara otomatis akan mempermudah akses pengemudi terhadap pembiayaan pemerintah. “Secara konsekuensi, pasti. Karena kehadiran pemerintah dengan program KUR memang ingin membuka akses pembiayaan kepada saudara-saudara kita yang punya keterbatasan modal,” kata Maman.
Maman juga menjelaskan bahwa penyaluran KUR kepada pengemudi ojol akan relatif lebih mudah karena seluruh aktivitas mereka sudah tercatat dalam ekosistem digital milik perusahaan aplikasi seperti Grab, Gojek, dan Maxim. “Kalau kita dorong akses pembiayaan ini ke teman-teman ojol, ini menjadi lebih mudah karena ekosistemnya mereka sudah terbentuk. Mereka masuk dalam ekosistem digital, baik itu sistem yang ada di Grab, Goto, dan Maxim. Dari sisi pendapatan dan aktivitas mereka lebih mudah kita integrasikan,” ujar Maman.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Meski demikian, Maman menegaskan bahwa tidak semua pengemudi otomatis bisa memperoleh KUR. Pengemudi yang memiliki riwayat kredit bermasalah, seperti tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK dengan kolektibilitas (KOL) 5, tetap tidak memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku. “Tapi teman-teman juga memahami. Kalau memang sudah pernah ada masalah kredit macet, ya kita tidak bisa berbuat banyak. Namun masih ada ratusan ribu teman-teman ojol yang berpeluang mendapatkan kesempatan ini,” katanya.
Pemerintah akan menyusun sistem yang sederhana agar tidak membebani pengemudi. Pemerintah akan membahas teknis pelaksanaannya bersama perusahaan aplikator. “Saya pikir begini, seperti apa mekanismenya yang terpenting itu tidak merepotkan. Itu dulu ya. Kita akan bicarakan dengan aplikator, kita akan siapkan mekanisme yang sesimpel mungkin, semudah mungkin, dan tidak mengganggu aktivitas mereka,” ujarnya.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260708184522-37-749261/menteri-umkm-sebut-ojol-tak-mau-jadi-karyawan-100-pilih-status-usaha, without altering the facts of the original article.