Nasib Pilu Anak Afrika yang Dipajang di AS, Meninggal dengan Cara Tragis

Nasib pilu dialami oleh Ota Benga, seorang pria asal Kongo yang dipajang di Amerika Serikat pada tahun 1906. Ia menjadi bagian dari “kebun binatang manusia” yang dipamerkan kepada publik, layaknya satwa. Ironisnya, praktik tersebut terjadi di negara yang identik dengan gagasan kesetaraan manusia, penghapusan perbudakan, dan penghormatan terhadap HAM.

Kronologi Pengerikan Ota Benga

Ota Benga adalah seorang pria asal Kongo yang dibawa ke Amerika Serikat oleh penjelajah dan pedagang asal Amerika Serikat, Samuel Phillips Verner, pada tahun 1904. Verner memiliki misi mencari penduduk asli Afrika untuk dibawa ke AS dan dipamerkan dalam ajang pameran dunia di St. Louis. Benga yang saat itu telah kehilangan keluarga akibat konflik dan kekerasan, diculik oleh Verner dengan janji akan memberinya pendidikan dan kehidupan yang lebih baik.

Namun, sesampainya di Negeri Paman Sam, kenyataan yang dihadapi Benga jauh berbeda. Ia justru dipamerkan bersama sejumlah warga Afrika lainnya dalam area khusus yang dirancang menyerupai perkampungan Afrika. Pengunjung datang untuk melihat bagaimana mereka berbicara, berpakaian, berburu, hingga menjalani aktivitas sehari-hari. Bagi masyarakat AS saat itu, pameran tersebut dianggap sebagai hiburan sekaligus sarana mempelajari budaya dari wilayah yang dianggap “eksotis”.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada September 1906, Benga dibawa ke Kebun Binatang Bronx di New York, di mana ia ditempatkan di area rumah primata dan kerap ditampilkan bersama orangutan bernama Dohong. Pengunjung diperbolehkan melihatnya secara langsung dengan dalih untuk mengetahui secara langsung teori evolusi manusia Darwin yang mengungkap manusia berawal dari kera. Setiap hari, ribuan orang datang memadati kebun binatang untuk melihat langsung pria asal Kongo tersebut. Tidak sedikit pengunjung yang mengejek, menertawakan, hingga mengganggunya.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Praktik menjadikan Benga sebagai “kebun binatang manusia” memicu kemarahan para pemimpin gereja dan tokoh masyarakat kulit hitam di AS. Mereka menilai tindakan Kebun Binatang Bronx sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat manusia. Setelah sekitar 20 hari dipamerkan, pihak kebun binatang menghentikan atraksi tersebut dan menyerahkan Benga kepada panti asuhan sebelum kemudian tinggal bersama komunitas kulit hitam di Virginia.

Benga sempat berusaha membangun kehidupan baru di AS. Ia belajar bahasa Inggris dan bekerja di sejumlah tempat sambil menabung agar suatu hari bisa kembali ke tanah kelahirannya di Kongo. Sayangnya, harapan tersebut tidak pernah terwujud. Pada 20 Maret 1916, setelah lebih dari satu dekade hidup jauh dari tanah kelahirannya, Ota Benga mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke dadanya sendiri. Ia meninggal dunia pada usia sekitar 32 tahun.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kebun Binatang Bronx akhirnya menyampaikan permintaan maaf tindakan menjadikan Benga sebagai kebun binatang manusia pada tahun 2020, 114 tahun setelah kejadian tersebut. Namun, kejadian ini tetap menjadi catatan kelam dalam sejarah Amerika Serikat dan menjadi pengingat akan pentingnya menghormati martabat manusia. Oleh karena itu, kita harus terus mengingat dan mempelajari kejadian ini agar dapat memahami pentingnya kesetaraan dan keadilan bagi semua manusia.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260704115310-25-748022/tragis-nasib-anak-afrika-dipajang-jadi-tontonan-di-as-tewas-memilukan, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *