Mimpi Cuan Piala Dunia di Seattle Kandas, Banyak Usaha Wisata Merugi
Mimpi Cuan Piala Dunia di Seattle Kandas
Piala Dunia FIFA 2026 telah meninggalkan Seattle, tetapi mimpi cuan yang diharapkan oleh banyak usaha wisata di kota ini tampaknya kandas. Selama hampir sebulan turnamen berlangsung, kawasan tepi laut, pusat kota, hingga lokasi nonton bareng resmi dipenuhi suporter. Namun, manfaat ekonomi yang dijanjikan belum sepenuhnya terealisasi. Seattle menutup rangkaian tugas sebagai salah satu kota tuan rumah Piala Dunia FIFA 2026 dengan menggelar laga babak 16 besar antara Amerika Serikat (AS) dan Belgia. Transportasi umum mencatat rekor jumlah penumpang, sementara sejumlah bar dan restoran menikmati lonjakan pengunjung. Meski atmosfer turnamen berlangsung meriah, sejumlah indikator menunjukkan hasil yang belum sesuai harapan.
Apa yang Terjadi?
Visit Seattle memperkirakan sekitar 750 ribu wisatawan datang selama Piala Dunia 2026 dengan potensi perputaran ekonomi mencapai USD 845,6 juta (Rp 15,2 triliun). Proyeksi tersebut sebelumnya direvisi turun dari USD 929 juta (Rp 16,72 triliun) seiring melemahnya kunjungan wisatawan internasional ke Amerika Serikat. Volume wisatawan dilaporkan belum mampu melampaui jumlah pengunjung yang biasanya datang ke Seattle saat musim liburan musim panas. Biaya perjalanan meningkat akibat situasi geopolitik, sementara pemesanan kamar hotel dalam jumlah besar oleh FIFA sempat membatasi ketersediaan penginapan dan mendorong kenaikan tarif. Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara juga menjadi tantangan. Wisatawan asal Kanada, yang selama ini menjadi salah satu pasar utama Seattle, dilaporkan mengurangi perjalanan sejak awal 2025 setelah kebijakan imigrasi diperketat dan hubungan politik memanas.
Mengapa dan Dampak
Pemilik usaha di sekitar stadion telah diminta bersiap menghadapi lonjakan wisatawan jauh sebelum turnamen dimulai. Namun, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. Seattle menjadi satu-satunya kota tuan rumah di AS yang mengalami penurunan pemesanan penerbangan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sejumlah pelaku usaha juga mengaku belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan. Pengelola properti sewa jangka pendek menyebut tingkat okupansi relatif datar dibandingkan musim panas tahun lalu. Penjualan toko roti juga hanya mencapai sekitar seperempat dari hari biasa karena pelanggan tetap menghindari kawasan stadion. Dampak yang beragam juga dirasakan sektor pariwisata. Seattle Aquarium mencatat penurunan jumlah pengunjung, terutama pada hari pertandingan.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Meski manfaat ekonomi belum dirasakan secara merata, pelaku usaha dan pemerintah daerah tetap optimistis turnamen ini akan membawa dampak jangka panjang bagi Seattle. CEO Seattle Metropolitan Chamber of Commerce, Joe Nguyen, menyatakan bahwa secara geografis Seattle berada di ujung kawasan sehingga orang-orang hanya melewatinya saja. “Karena letak kami di ujung barat laut, banyak wisatawan biasanya melewatkan Seattle dalam perjalanan mereka,” katanya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Piala Dunia 2026 telah meninggalkan Seattle, tetapi jalan panjang masih harus ditempuh untuk memulihkan dan meningkatkan dampak ekonomi. Pelaku usaha dan pemerintah daerah harus bekerja sama untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan meningkatkan manfaat ekonomi dari event-event besar seperti Piala Dunia. Dengan demikian, mimpi cuan yang diharapkan oleh banyak usaha wisata di Seattle dapat menjadi kenyataan di masa depan.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://travel.detik.com/travel-news/d-8564030/mimpi-cuan-piala-dunia-di-seattle-belum-jadi-kenyataan-usaha-wisata-muram, without altering the facts of the original article.