Bukan Cuma Skill, Ini Rahasia Sukses Lionel Messi di Usia 35 Tahun

Di usia 35 tahun, Lionel Messi masih menjadi salah satu pemain paling mematikan di 2026 FIFA World Cup. Meski tak lagi mengandalkan kecepatan dan posturnya hanya 1,70 meter, kapten Argentina itu tetap memimpin daftar top skor sementara dengan koleksi tujuh gol, sejajar dengan Kylian Mbappé. Rahasia sukses Messi ternyata bukan terletak pada kekuatan fisik, melainkan kemampuan membaca permainan sebelum bola berada di kakinya.

Kemampuan Membaca Permainan

Profesor Ilmu Gerak Manusia di Australian Catholic University, Gert-Jan Pepping, menjelaskan bahwa banyak orang selama ini menganggap pesepakbola hebat harus memiliki kecepatan, kekuatan, atau postur tubuh ideal. Namun, Pepping bilang, Messi justru membuktikan bahwa kecerdasan membaca permainan jauh lebih menentukan.

Menurut Pepping, Messi hampir tidak pernah berhenti menggerakkan kepalanya sebelum menerima umpan. Ia terus menoleh ke kiri dan kanan untuk mengamati posisi lawan, rekan setim, serta ruang kosong yang bisa dimanfaatkan. Kebiasaan tersebut dikenal sebagai visual exploration atau scanning, yakni proses mengumpulkan informasi sebelum bola datang.

Scanning: Kunci Sukses Messi

Dengan begitu, ketika bola tiba di kakinya, Messi sudah mengetahui ke mana harus bergerak atau mengoper tanpa perlu berpikir terlalu lama. Tim peneliti memasang sensor gerak kecil di belakang kepala para pesepak bola, mulai dari pemain akademi hingga profesional, untuk mengukur seberapa sering mereka melakukan scanning selama pertandingan.

Hasilnya menunjukkan pemain yang lebih sering melakukan scanning mampu mengambil keputusan lebih cepat, lebih berani membawa bola ke depan, dan lebih sering menciptakan umpan yang membahayakan pertahanan lawan. Penelitian yang terbit di The Conversation itu juga menjelaskan soal scanning yang ada dua tahap.

Tahap Scanning

Tahap pertama adalah orientation, yakni mengamati seluruh situasi di lapangan untuk mengetahui pilihan yang tersedia dan potensi ancaman. Tahap kedua adalah specification, yaitu pengamatan yang lebih spesifik sesaat sebelum melakukan operan atau mengambil keputusan.

Peneliti menjelaskan, tahap orientasi justru paling sering diabaikan karena terjadi ketika pemain tidak sedang menguasai bola. Padahal, fase inilah yang menjadi dasar pengambilan keputusan saat bola akhirnya datang. Karena itulah Messi dinilai bukan mengalahkan lawan dengan kemampuan fisik, melainkan dengan waktu.

Kehebatan yang Bisa Diteladani

Ia mampu melihat situasi lebih cepat dibanding pemain lain sehingga tidak perlu beradu kecepatan. Penelitian tersebut juga menegaskan kemampuan scanning bukanlah bakat alami semata, tetapi keterampilan yang dapat dilatih sejak usia dini.

Selain teknik, pengalaman, dan strategi tim, kemampuan mengamati situasi sebelum menerima bola menjadi salah satu faktor yang membedakan pemain hebat dengan pemain biasa. Bagi para peneliti, dominasi Messi di usia yang tak lagi muda menjadi bukti bahwa kehebatan seorang pesepak bola tidak selalu berasal dari tubuh yang lebih kuat atau lebih cepat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

“Kehebatan tidak pernah tersembunyi pada tubuh. Kehebatan selalu ada pada cara seorang pemain melihat permainan,” tulis peneliti. Dengan kemampuan scanning yang dimiliki, Messi masih menjadi pemain yang sangat berbahaya di lapangan, bahkan di usia 35 tahun.

Kini, Messi masih harus terus berjuang untuk membawa Argentina meraih gelar juara di 2026 FIFA World Cup. Namun, dengan kemampuan membaca permainan yang dimiliki, Messi masih memiliki peluang besar untuk sukses.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260707162945-33-748868/messi-sudah-tua-dan-posturnya-pendek-apa-rahasia-suksesnya, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *