Momen Mengharukan: Anak Afrika Tewas dalam Tontonan di AS, Begini Kronologinya

Ota Benga, seorang pria asal Kongo, menjadi sorotan dunia pada tahun 1906 ketika ia dipamerkan sebagai “kebun binatang manusia” di Amerika Serikat. Ia dipajang di Kebun Binatang Bronx di New York, bersama dengan orangutan bernama Dohong, untuk menunjukkan teori evolusi manusia Darwin. Ribuan orang datang setiap hari untuk melihat pria asal Kongo tersebut, yang dianggap sebagai hiburan sekaligus sarana mempelajari budaya dari wilayah yang dianggap “eksotis”.

Kronologi Pengerikan

Kisah Ota Benga bermula beberapa tahun sebelumnya saat penjelajah dan pedagang asal Amerika Serikat, Samuel Phillips Verner, datang ke wilayah Kongo. Verner menculik Benga ke AS dengan janji akan memberinya pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Namun sesampainya di Negeri Paman Sam, kenyataan yang dihadapi Benga jauh berbeda. Ia dipamerkan bersama sejumlah warga Afrika lainnya dalam area khusus yang dirancang menyerupai perkampungan Afrika.

Popularitas Benga terus meningkat seiring besarnya minat pengunjung. Ia dibawa berkeliling ke berbagai kota dan terus dipertontonkan demi mendatangkan keuntungan. Puncak eksploitasi terjadi pada September 1906 ketika pihak Kebun Binatang Bronx di New York menerima Benga sebagai bagian dari atraksi mereka. Di sana, Benga ditempatkan di area rumah primata dan kerap ditampilkan bersama orangutan bernama Dohong.

Treatment yang Tidak Manusiawi

Pengunjung diperbolehkan melihatnya secara langsung. Dalihnya untuk mengetahui secara langsung teori evolusi manusia Darwin yang mengungkap manusia berawal dari kera. Setiap hari ribuan orang datang memadati kebun binatang untuk melihat langsung pria asal Kongo tersebut. Tidak sedikit pengunjung yang mengejek, menertawakan, hingga mengganggunya. Pada suatu kesempatan, Benga bahkan diminta menunjukkan giginya yang sengaja dikikir menjadi runcing seakan-akan buas.

Mengapa dan Dampak

Praktik tersebut akhirnya memicu kemarahan para pemimpin gereja dan tokoh masyarakat kulit hitam di AS. Mereka menilai tindakan Kebun Binatang Bronx sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat manusia. Setelah sekitar 20 hari dipamerkan, pihak kebun binatang menghentikan atraksi tersebut dan menyerahkan Benga kepada panti asuhan sebelum kemudian tinggal bersama komunitas kulit hitam di Virginia.

Benga sempat berusaha membangun kehidupan baru di AS. Ia belajar bahasa Inggris dan bekerja di sejumlah tempat sambil menabung agar suatu hari bisa kembali ke tanah kelahirannya di Kongo. Sayangnya, harapan tersebut tidak pernah terwujud. Pada 20 Maret 1916, setelah lebih dari satu dekade hidup jauh dari tanah kelahirannya, Ota Benga mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke dadanya sendiri. Ia meninggal dunia pada usia sekitar 32 tahun.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Pada 2020, 114 tahun kemudian, Kebun Binatang Bronx akhirnya menyampaikan permintaan maaf tindakan menjadikan Benga sebagai kebun binatang manusia. Kasus Ota Benga menjadi pengingat akan sejarah kelam perlakuan terhadap orang-orang Afrika di Amerika Serikat dan pentingnya pengakuan serta permintaan maaf atas kesalahan masa lalu. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua untuk terus memperjuangkan kesetaraan dan keadilan bagi semua orang.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260704115310-25-748022/tragis-nasib-anak-afrika-dipajang-jadi-tontonan-di-as-tewas-memilukan, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *