Ternyata, Singapura Bisa Maju Berkat Barang yang Kini Banyak Dipakai Warga RI
Singapura, sebuah negara kecil di Asia Tenggara, telah mengalami kemajuan ekonomi yang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Salah satu faktor yang berkontribusi pada kemajuan ini adalah penggunaan air conditioner (AC) atau pendingin ruangan. Ya, barang yang kini banyak dipakai masyarakat Indonesia ini ternyata pernah menjadi salah satu kunci keberhasilan Singapura berubah dari negara miskin menjadi negara maju.
Kebijakan Pemerintah Singapura
Pemerintah Singapura, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Lee Kuan Yew (1965-1990), telah berupaya keras untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya. Salah satu kebijakan yang diambil adalah memasang AC di gedung-gedung pemerintahan. Lee Kuan Yew percaya bahwa AC dapat meningkatkan produktivitas pekerja dan membantu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.
Dalam wawancara dengan jurnalis senior Nathan Gardels pada 2009, Lee mengungkap bahwa salah satu kebijakan pertama yang dia lakukan setelah menjadi Perdana Menteri adalah memasang pendingin udara di gedung-gedung tempat pegawai negeri kerja. “Hal pertama yang saya lakukan setelah jadi Perdana Menteri adalah memasang pendingin udara di gedung-gedung tempat pegawai negeri kerja. Ini adalah kunci efisiensi publik,” kata Lee.
Dampak Penggunaan AC
Pandangan Lee tersebut sejalan dengan berbagai riset modern. Salah satunya penelitian berjudul The Impact of Temperature on Manufacturing Worker Productivity (2018). Tim peneliti dari China menemukan bahwa bekerja dalam cuaca panas dapat menurunkan kemampuan kognitif, memori, penyerapan informasi, hingga kinerja pekerjaan secara umum. Sebaliknya, suhu yang lebih rendah terbukti membantu meningkatkan produktivitas pekerja.
Dengan kata lain, di negara tropis, AC menjadi salah satu intervensi paling efektif untuk menjaga produktivitas. Pemerintah Singapura juga memberikan perlindungan dan dukungan terhadap industri AC. Bersama berbagai kebijakan lainnya, strategi tersebut ikut menopang pertumbuhan ekonomi Singapura.
Momen Penentu di Menit Akhir
Data World Economic Forum menunjukkan GDP per kapita Singapura melonjak dari sekitar US$500 pada 1965 menjadi US$14.500 pada 1991. Selama periode tersebut, ekonomi Singapura tumbuh rata-rata 8% per tahun. Ini tak terlepas dari kekhawatiran Lee Kuan Yew terhadap Singapura yang sangat rentan. Negara ini tidak memiliki sumber daya alam dan harus mengandalkan kualitas sumber daya manusia untuk bertahan dan berkembang.
Dalam autobiografi berjudul The Singapore Story (2012), Lee menyebut dirinya berupaya keras menciptakan generasi unggul yang mampu menggantikan kekurangan sumber daya alam. Salah satu caranya adalah berinvestasi besar di sektor pendidikan dengan mengirim pelajar terbaik ke luar negeri dan mewajibkan mereka kembali untuk membangun Singapura.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kini, Singapura telah menjadi negara maju dengan ekonomi yang kuat. Namun, perjalanan masih panjang dan tantangan masih banyak. Pemerintah Singapura harus terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan global untuk mempertahankan posisinya sebagai negara maju. Sementara itu, Indonesia dapat belajar dari pengalaman Singapura dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kemajuan ekonomi.
Dengan demikian, Indonesia dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya dan mencapai kemajuan ekonomi yang pesat. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah meningkatkan penggunaan AC dan teknologi lainnya untuk meningkatkan produktivitas pekerja dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260625130412-25-745658/singapura-bisa-maju-berkat-barang-yang-kini-banyak-dipakai-warga-ri, without altering the facts of the original article.