Jenderal TNI Ini Menangis Histeris Usai Bertengkar dengan Asisten Pribadi Presiden, Ada Apa?

Jenderal TNI bintang empat, Soemitro, pernah mengalami momen dramatis ketika dirinya menangis histeris di hadapan Presiden Soeharto akibat perseteruan dengan Asisten Pribadi (Aspri) Presiden, Mayor Jenderal Ali Moertopo. Perseteruan ini terjadi pada akhir 1973 dan merupakan puncak dari ketegangan yang sudah berlangsung lama di lingkaran kekuasaan Orde Baru. Soemitro yang menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) sejak 1971, memiliki kewenangan besar dalam urusan keamanan nasional, sementara Ali Moertopo dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan utama Soeharto sejak awal Orde Baru.

Momen Penentu di Menit Akhir

Pada akhir 1973, Presiden Soeharto memanggil Soemitro dan Ali Moertopo ke pertemuan khusus untuk meredakan ketegangan yang sudah berlangsung lama. Dalam pertemuan tersebut, Ali Moertopo mendapat kesempatan mengajukan sejumlah pertanyaan langsung kepada Soemitro terkait berbagai tindakan yang dianggap merugikan dirinya. Sebelum menjawab pertanyaan itu, Soemitro menangis. Pertemuan pun dihentikan setengah jam.

Menurut Jusuf Wanandi dalam bukunya, Menyibak Tabir Orde Baru (2015), tangis Soemitro bukan muncul begitu saja. Saat itu, hubungan dirinya dengan Ali Moertopo memang sudah lama memanas. Keduanya merupakan orang kuat di sekitar Soeharto yang sama-sama memiliki pengaruh besar. Ali Moertopo dikenal sebagai salah satu orang kepercayaan utama Soeharto sejak awal Orde Baru, sementara Soemitro memiliki kewenangan besar dalam urusan keamanan nasional.

Tiga Fakta yang Bikin Kejadian Ini Berbeda

Soemitro menilai Opsus kerap memasuki wilayah kerja lembaga intelijen resmi. Sebaliknya, kubu Ali Moertopo menuduh Soemitro semakin memperluas pengaruh politiknya dan bertindak layaknya “presiden kedua”. Persaingan itu kemudian berkembang menjadi saling curiga dan perebutan pengaruh di sekitar Soeharto.

Dalam forum pertemuan tersebut, Ali Moertopo mempertanyakan berbagai langkah Soemitro yang membuatnya menangis. “Pak Ali mengulang pertanyaan yang dia sampaikan kepada Soeharto sebelumnya: mengapa pengawalan di rumahnya dan di rumah Soedjono ditarik? Mengapa teleponnya dan telepon Soedjono disadap Intelijen? Apa maksud Soemitro bertindak seperti dia yang memerintah? Mengapa ia menganjurkan agar mahasiswa mengkritik pemerintah Soeharto? Dan apa niat Soemitro dengan mengambil alih sebagian kekuasaan presiden, sebagai seorang perdana menteri, dan apa maksudnya dia selaku Panglima Kopkamtib yang memimpin sendiri Skogar?”

Apa Artinya Ini ke Depan?

Konflik tersebut baru berakhir dua pekan kemudian saat Soemitro mundur dari Pangkopkamtib karena dianggap gagal mengatasi kerusuhan Malari pada 15 Januari 1974. Setelah lengser, Soemitro mengaku sempat mengonfrontasi Ali Moertopo yang dituding berada di balik berbagai upaya merusak nama baiknya.

Perseteruan yang sempat membuat Soemitro menangis di hadapan presiden itu akhirnya berujung pada tumbangnya karier sang jenderal. Meski dianggap ‘menang’, Ali Moertopo kehilangan taji-nya. Sebab, Soeharto membubarkan struktur Aspri sehingga Moertopo tidak lagi memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dinamika politik di lingkaran kekuasaan dapat berdampak besar pada karier dan reputasi seseorang. Soemitro dan Ali Moertopo adalah contoh nyata bagaimana pertarungan pengaruh dan kekuasaan dapat berujung pada konsekuensi yang signifikan. Dalam konteks yang lebih luas, kejadian ini juga menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan di tingkat tertinggi pemerintahan seringkali melibatkan pertimbangan yang kompleks dan interaksi yang rumit antara berbagai pihak.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/entrepreneur/20260622123653-25-744589/saat-jenderal-tni-menangis-usai-ribut-dengan-asisten-pribadi-presiden, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *