China Kuasai Superkomputer, AS Kalah Jauh: Apa yang Membuat Chip China Begitu Unggul?

China kembali menempati posisi teratas dalam daftar superkomputer tercepat di dunia dengan LineShine dari Shenzhen yang menduduki peringkat pertama dalam daftar Top500. Superkomputer ini mencatat performa 2,198 exaflops, atau mampu melakukan lebih dari 2 kuintiliun kalkulasi per detik. LineShine menggeser El Capitan, superkomputer milik Amerika Serikat yang berada di Lawrence Livermore National Laboratory, California.

LineShine: Superkomputer Terbaru yang Mengubah Permainan

LineShine merupakan superkomputer yang tidak mengandalkan GPU layaknya kebanyakan superkomputer modern yang digunakan untuk kecerdasan buatan atau AI. Sistem ini berjalan sepenuhnya memakai CPU konvensional dan membutuhkan daya listrik sekitar 42,2 megawatt. Walau tidak mengandalkan GPU, performa LineShine tetap cukup membawa China ke puncak.

Apa yang Terjadi?

Sebelumnya, El Capitan milik Departemen Energi AS di Lawrence Livermore National Laboratory, California, menempati posisi pertama. Namun, dengan munculnya LineShine, El Capitan turun ke peringkat kedua. Dua superkomputer AS lainnya, yang berlokasi di laboratorium nasional di Tennessee dan Illinois, mengisi posisi ketiga dan keempat. Di posisi kelima, superkomputer Jupiter asal Jerman mengalami penurunan peringkat.

Kelima mesin tersebut adalah satu-satunya superkomputer exascale yang telah diverifikasi secara publik di seluruh dunia. Negara-negara lain memiliki mesin dalam 10 besar antara lain Italia, Swiss, dan Jepang.

Mengapa dan Dampak

Superkomputer sekelas LineShine ini digunakan untuk berbagai keperluan skala besar, seperti pencarian terobosan medis, pemodelan sistem iklim, simulasi ledakan nuklir, prediksi perilaku manusia, hingga pengujian senjata secara virtual. Kembalinya China ke posisi puncak Top500 juga mempertegas persaingan teknologi dengan AS.

Daftar ini kerap dilihat sebagai salah satu indikator kemampuan negara dalam komputasi performa tinggi. Persaingan tersebut kini makin erat dengan perkembangan AI. Uni Eropa, misalnya, sudah mengumumkan rencana investasi senilai 20 miliar euro untuk membangun fasilitas superkomputer raksasa demi mengembangkan model AI generasi berikutnya.

Perkembangan Teknologi yang Berkelanjutan

Menjelang penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di bursa Nasdaq, SpaceX menuai perhatian industri teknologi dunia. Perusahaan kedirgantaraan milik Elon Musk ini baru saja mengamankan kesepakatan komputasi bernilai tinggi dengan raksasa mesin pencari, Google.

Dalam dokumen regulasi yang dirilis Jumat lalu, Google sepakat membayar SpaceX sebesar USD 920 juta atau sekitar Rp 16,6 triliun per bulan. Kontrak fantastis ini dijadwalkan berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Juni 2029. Melalui kerja sama tersebut, Google akan mendapatkan akses superkomputer berupa 110.000 unit GPU NVIDIA, CPU, memori, serta komponen pendukung mutakhir lainnya milik SpaceX.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Dengan demikian, China dan AS akan terus bersaing dalam pengembangan superkomputer dan AI. Perkembangan teknologi yang berkelanjutan akan membawa dampak signifikan pada berbagai bidang, seperti kesehatan, lingkungan, dan keamanan.

Dalam beberapa tahun ke depan, kita dapat mengharapkan kemajuan yang lebih besar dalam pengembangan superkomputer dan AI. Oleh karena itu, perlu dilakukan investasi yang lebih besar dalam pengembangan teknologi ini untuk meningkatkan kemampuan negara dalam komputasi performa tinggi.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/tekno/read/8086859/superkomputer-china-salip-as-ada-yang-tidak-biasa-di-chipnya, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *