Pakar UMY Ingatkan Masyarakat Tetap Rasional saat Selat Hormuz Dibuka, Ini Alasannya
Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Dunia Tak Akan Anjlok
Setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Selat Hormuz yang merupakan salah satu urat nadi pelayaran paling strategis di dunia akhirnya dibuka kembali. Dengan dibukanya selat ini, lalu lintas kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya sentimen positif dari perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang sedang berlangsung. Masyarakat Indonesia dan dunia berharap pembukaan ini dapat menurunkan harga minyak.
Apa yang Terjadi?
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D., menjelaskan bahwa dibukanya kembali Selat Hormuz memiliki peran besar dalam menekan ketidakpastian distribusi minyak global. Namun, situasi ini bekerja sebagai penstabil harga, bukan penurun harga secara mendadak. “Pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif dan menurunkan risk premium geopolitik di pasar minyak dunia. Namun, harga minyak tidak otomatis anjlok karena pasar masih mempertimbangkan faktor lain, seperti kuota produksi OPEC+, volume permintaan dari Tiongkok dan Amerika Serikat, serta kondisi stok minyak global,” urainya.
Mengapa dan Dampaknya
Mekanisme penentuan harga BBM di Indonesia sendiri melibatkan variabel yang kompleks. Selain mengacu pada pergerakan harga minyak mentah internasional, pemerintah juga harus mengalkulasi rata-rata Indonesian Crude Price (ICP), pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, ongkos logistik dan pengadaan, hingga kontrak perdagangan minyak yang sedang berjalan. Fluktuasi harga minyak dunia direspons secara berbeda oleh jenis BBM di Indonesia, bergantung pada peruntukannya.
Menurut Dyah, BBM Non-Subsidi (Pertamax Series) yang harganya bersifat lebih dinamis dan penyesuaiannya relatif cepat karena mengikuti mekanisme pasar keekonomian. Di sisi lain, pergerakan harga BBM Bersubsidi, seperti Pertalite dan Solar, sangat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan intervensi kompensasi dari pemerintah. “Ketika harga minyak dunia melonjak, pemerintah menahan dampaknya melalui subsidi agar masyarakat tidak terbeban, meski ruang fiskal negara menjadi berat. Sebaliknya, saat harga minyak turun, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih longgar. Jadi, intervensi pemerintah membuat masyarakat tidak langsung merasakan seluruh fluktuasi harga dunia,” jelasnya.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Selain kebijakan subsidi, faktor krusial lainnya adalah nilai tukar rupiah. Dikarenakan seluruh transaksi minyak internasional menggunakan mata uang dolar AS, penguatan atau pelemahan rupiah akan sangat menentukan apakah penurunan harga minyak dunia bisa memberikan keuntungan maksimal bagi Indonesia atau tidak. Dampak dari normalisasi Selat Hormuz ini juga memerlukan waktu transisi (time lag) sebelum benar-benar dirasakan oleh sektor riil. Untuk BBM non-subsidi, evaluasi harga umumnya dilakukan setiap bulan sekali. Sementara itu, bagi sektor industri, logistik, dan transportasi, dampaknya baru terlihat dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan karena keterikatan kontrak stok lama. Efek rantai ini baru akan memengaruhi tingkat inflasi setelah ongkos distribusi barang ikut mengalami penyesuaian.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2026/06/30/selat-hormuz-dibuka-pakar-umy-minta-masyarakat-tetap-rasional-dan-bijak-kelola-energi, without altering the facts of the original article.