Malaria Masih Mengancam, DPRD Pesawaran Desak Pemkab Benahi Infrastruktur untuk Kesehatan Warga

Malaria Masih Mengancam, DPRD Pesawaran Desak Pemkab Benahi Infrastruktur untuk Kesehatan Warga

Malaria masih menjadi ancaman serius bagi warga Kabupaten Pesawaran, Lampung. Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Pesawaran, Muhammad Rinaldi, menegaskan bahwa strategi perang melawan malaria tidak akan pernah tuntas secara berkelanjutan jika pemerintah daerah hanya mengandalkan sektor pelayanan kesehatan dan pembagian obat semata. Infrastruktur buruk dan abainya tata ruang lingkungan dinilai menjadi hulu utama yang memanjakan nyamuk Anopheles selaku vektor penyakit untuk terus berkembang biak dengan subur di permukiman warga.

Apa yang Terjadi?

Rinaldi mengungkapkan bahwa jajarannya di parlemen kerap kali menerima jeritan dan keluhan langsung dari masyarakat pesisir, khususnya yang mendiami wilayah Kampung Baru, Kecamatan Marga Punduh, serta Desa Sukarame, Kecamatan Punduh Pidada, yang hingga kini masih menyandang status zona rawan penularan. “Iya benar, saya sering mendapat keluhan dari masyarakat, biasanya dari Kampung Baru di Marga Punduh dan Sukarame di Punduh Pidada terkait malaria,” ujarnya.

Mengapa dan Dampak

Dari kacamata pengawasan legislatif, Rinaldi menilai performa dinas kesehatan melalui puskesmas di garda terdepan wilayah pesisir sebenarnya sudah menjalankan tugas kedinasan dengan sangat baik. Ketersediaan draf logistik obat-obatan antimalaria maupun kesigapan tim medis dalam merawat para pasien yang tumbang dipastikan aman dan tidak mengalami kendala operasional yang berarti. Namun, politisi ini menggarisbawahi bahwa kesiapan medis tersebut akan menjadi sia-sia jika faktor eksternal di luar rumah sakit diabaikan. Masalah fundamentalnya berada pada kondisi geografis dan infrastruktur pemukiman yang rusak, sehingga menciptakan ekosistem buatan yang mendukung perkembangbiakan nyamuk secara masif. Rinaldi membeberkan bahwa tantangan berat penanganan malaria di Pesawaran saat ini murni terganjal sektor infrastruktur fisik. Di satu sisi, kawasan pesisir tersebut dipenuhi oleh hamparan rawa alam serta ratusan petak bekas tambak udang atau ikan yang sudah telantar dan tidak lagi dikelola oleh pemiliknya. Kondisi diperparah dengan hancurnya sejumlah ruas jalan penghubung antardusun di dalam desa. Saban kali hujan turun, jalanan berlubang tersebut langsung berubah menjadi kubangan air tawar raksasa yang menetap lama karena buruknya sistem drainase.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Meskipun tim medis dari Puskesmas Punduh Pidada maupun Puskesmas Maja sudah rutin melakukan tindakan preventif berupa pengasapan (fogging) secara berkala ke rumah-rumah warga, langkah itu dinilai hanya sekadar peredam instan. Oleh karena itu, Rinaldi mendesak pemerintah daerah untuk segera membenahi infrastruktur yang menjadi penyebab utama penyebaran malaria. Dengan demikian, upaya pencegahan dan penanganan malaria dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan. Pemerintah daerah harus serius dalam menangani masalah ini, karena malaria masih menjadi ancaman serius bagi warga Kabupaten Pesawaran.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://lampung.tribunnews.com/lampung/1212745/penanganan-malaria-tak-cukup-pakai-obat-dprd-pesawaran-desak-pemkab-benahi-infrastruktur, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *