Di Balik Hasrat Bermusik yang Tak Pernah Mati, Kisah Bapak-bapak yang Tetap Ngeband

Di balik hasrat bermusik yang tak pernah mati, kisah bapak-bapak yang tetap ngeband menjadi inspirasi bagi banyak orang. Denni Aksandhianto, seorang pria asal Yogyakarta, adalah salah satu contohnya. Lebih dari 20 tahun, dia mengubur mimpinya untuk menjadi musisi terkenal. Namun, hasrat bermusiknya tidak pernah mati.

Kembalinya Hasrat Bermusik

Denni menemukan komunitas “Ngeband Dadakan” alias Badak, yang memungkinkan dia untuk kembali menampung hasrat bermusiknya. Melalui media sosial, dia bergabung dengan Badak regional Bekasi dan kini kembali rajin “ngulik” untuk mendapatkan kembali sentuhan emasnya di belakang set drum. Bersama komunitas Ngeband Dadakan, dia sudah beberapa kali tampil di gigs-gigs komunitas.

Momen Penentu di Menit Akhir

Arnold, seorang pria yang bekerja di bidang IT dan product support, juga mengalami hal serupa. Dia terakhir ngeband pada tahun 2005 dan harus merapikan lagi gitarnya, membersihkan debu-debu di sarungnya, bahkan menyempatkan diri datang ke luthier untuk merestorasi gitar dan pedal effect kesayangan. Maklum, dia bersyukur menemukan Badak dan kini kerap berkumpul di “District 29” dan “Bamboology”, dua tempat yang menjadi “kandang” Badak Bekasi.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Dewo Iskandar, founder komunitas Ngeband Dadakan, mengungkapkan bahwa komunitas ini lahir dari keresahan sederhana: banyak orang yang masih mencintai musik, masih ingin ngeband, tapi tak punya band tetap atau kehilangan teman bermusik karena kesibukan pekerjaan, keluarga, dan rutinitas. Dengan adanya komunitas Ngeband Dadakan, siapa pun bisa datang, bertemu orang baru, lalu bermain musik bersama secara spontan dan menyenangkan.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Kini, komunitas Ngeband Dadakan tersebar di delapan regional dengan total anggota mencapai 700 orang. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari karyawan swasta, ASN, pekerja kreatif, guru, konten kreator, dokter, pelaku UMKM, wiraswastawan, hingga musisi profesional dan ibu rumah tangga. Ke depannya, Dewo melihat tantangan terbesar komunitas ini adalah menyatukan seluruh chapter dalam satu kegiatan bersama karena setiap anggota memiliki kesibukan dan domisili yang berbeda.

Ngeband Dadakan membuktikan bahwa musik bisa menjadi media yang mempererat hubungan antarmanusia. Dengan komunitas ini, orang-orang dapat menyalurkan hobi bermusik, bertemu teman baru, dan menjaga kesehatan mental melalui musik.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/8124352/hasrat-bermusik-tak-pernah-mati-ketika-bapak-bapak-tak-berhenti-ngeband, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *