Bamsoet Soroti Tantangan Polri di Usia ke-80: Makin Profesional atau Tertinggal?

Bamsoet Soroti Tantangan Polri di Usia ke-80: Makin Profesional atau Tertinggal? menjadi sorotan penting pada peringatan HUT ke-80 Bhayangkara. Ketua DPR RI ke-20 ini menegaskan bahwa momentum ini adalah kesempatan bagi Polri untuk bertransformasi menjadi institusi yang makin profesional, modern, adaptif, serta dipercaya masyarakat. Delapan dekade perjalanan Polri menunjukkan bahwa tantangan menjaga keamanan terus berubah, dari ancaman konvensional menjadi kejahatan siber, penipuan digital lintas negara, perdagangan orang, terorisme, pencucian uang, hingga kejahatan berbasis kecerdasan buatan.

Transformasi Polri di Era Digital

Pada kesempatan ini, Bamsoet menjelaskan bahwa tantangan keamanan nasional kini makin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Modus kejahatan siber berkembang sangat cepat, mulai dari pembobolan data, penipuan investasi daring, judi online, pencurian identitas digital, hingga pemanfaatan artificial intelligence untuk membuat konten palsu atau deepfake yang berpotensi memicu keresahan sosial.

Kondisi tersebut menuntut Polri memperkuat kemampuan digital forensik, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kerja sama internasional, serta mempercepat integrasi teknologi dalam sistem penegakan hukum. Di sisi lain, pelayanan publik berbasis digital yang telah berkembang melalui berbagai aplikasi kepolisian perlu terus disempurnakan agar semakin mudah diakses masyarakat.

Tantangan dan Kebutuhan Masyarakat

Bamsoet menambahkan bahwa transformasi Polri harus berjalan seiring transformasi masyarakat. Ketika kejahatan memanfaatkan teknologi mutakhir, aparat penegak hukum juga harus memiliki kemampuan, perangkat, dan sistem yang lebih maju sehingga mampu memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat. Stabilitas keamanan juga memiliki hubungan langsung dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Iklim investasi akan berkembang apabila terdapat kepastian hukum, keamanan yang terjaga, serta penegakan hukum yang adil. Indonesia yang tengah mendorong hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, ekonomi digital, transisi energi, dan peningkatan investasi membutuhkan institusi kepolisian yang mampu menjamin kepastian berusaha.

Apa Artinya Ini ke Depan?

Keamanan adalah fondasi pembangunan. Investor membutuhkan kepastian hukum, masyarakat membutuhkan rasa aman, pelaku usaha membutuhkan stabilitas. Semua itu memerlukan Polri yang profesional, responsif, dan mampu bekerja sama dengan seluruh elemen bangsa.

Bamsoet juga mengapresiasi berbagai langkah pembenahan yang terus dilakukan Polri dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai inovasi pelayanan publik, digitalisasi administrasi kepolisian, penguatan transparansi, hingga peningkatan keterbukaan terhadap kritik menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat.

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Ia pun menyoroti sejumlah survei yang menunjukkan tren peningkatan kepercayaan publik terhadap Polri. Hasil survei Litbang Kompas tahun 2026 mencatat tingkat kepercayaan publik kepada Polri mencapai sekitar 82,4 persen, meningkat dibandingkan periode sebelumnya. Capaian tersebut menurutnya menjadi modal penting yang harus dijaga melalui konsistensi pelayanan dan penegakan hukum yang berkeadilan.

Kepercayaan masyarakat merupakan prestasi yang diraih melalui kerja keras dan harus terus dijaga serta tingkatkan. Polri harus terus bertransformasi menjadi institusi yang makin profesional, modern, adaptif, serta dipercaya masyarakat.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.tribunnews.com/nasional/7848697/bamsoet-polri-harus-makin-profesional-adaptif-dan-responsif-di-usia-yang-ke-80, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *