Apple Rugi Besar, Ini Penyebabnya yang Bikin Saham Anjlok
Saham Apple anjlok lebih dari 5% pada perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah perusahaan mengumumkan kenaikan harga besar-besaran untuk lini MacBook dan iPad secara global. Apple menyebut lonjakan harga tersebut dipicu kelangkaan chip memori dan penyimpanan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat ledakan permintaan kecerdasan buatan (AI). Kenaikan harga mulai berlaku di toko online Apple pada Kamis dan mencakup MacBook Neo, MacBook Air, MacBook Pro, iPad Air, serta iPad Pro. Sementara itu, Apple memutuskan tidak menaikkan harga iPhone.
Momen Penentu di Menit Akhir
Apple mengakui kenaikan harga komponen terjadi jauh lebih cepat dibandingkan yang pernah dialami perusahaan sebelumnya. “Kami belum pernah melihat kenaikan harga komponen sebesar ini dan secepat ini. Selama ini kami telah melindungi pelanggan kami dari kenaikan tersebut, tetapi kini kami telah mencapai titik di mana kami perlu mulai menaikkan harga sejumlah produk, termasuk kenaikan harga iPad dan Mac yang diumumkan hari ini,” kata juru bicara Apple. “Kami tahu ini bukan kabar yang diharapkan, dan kami bekerja tanpa henti untuk menemukan solusinya,” ujarnya menambahkan.
Sinyal kenaikan harga sebenarnya telah disampaikan CEO Apple Tim Cook pekan lalu. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, Cook mengatakan kenaikan harga sudah menjadi “tidak dapat dihindari” akibat melonjaknya biaya komponen. “Ada pasokan yang semakin sedikit ketika konsumen justru menginginkan perangkat, dan para produsen memori meneruskan kenaikan harga yang sangat besar,” kata Cook.
Apa Artinya Ini ke Depan?
Lonjakan harga komponen terjadi karena kelangkaan global chip dynamic random access memory (DRAM), komponen utama yang digunakan hampir di seluruh perangkat elektronik modern. Menurut lembaga riset TrendForce, harga kontrak DRAM konvensional melonjak hingga 90%-95% secara kuartalan pada kuartal I-2026. Pada kuartal berjalan, harga diperkirakan masih akan naik 58%-63%. Lonjakan yang disebut sebagian analis sebagai “RAMageddon” itu dipicu ledakan pembangunan pusat data AI.
Perusahaan seperti Nvidia menandatangani kontrak pasokan jangka panjang dengan produsen chip memori sehingga pasokan untuk pasar elektronik konsumen semakin terbatas. Micron bahkan mengungkapkan telah mengamankan komitmen pasokan jangka panjang senilai US$22 miliar. Dalam laporan keuangan terbarunya, pendapatan perusahaan melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi US$41,46 miliar dari US$9,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu, didorong permintaan produk memori dan penyimpanan untuk AI.
Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh
Kenaikan harga produk Apple ini tentu memiliki dampak signifikan pada konsumen dan investor. Dengan kenaikan harga, Apple mungkin akan mengalami penurunan penjualan dalam jangka pendek. Namun, perusahaan ini juga telah menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan harga produk tanpa mengalami penurunan penjualan yang signifikan. Investor harus memantau perkembangan ini dan mempertimbangkan dampaknya pada kinerja keuangan Apple ke depan.
Dalam jangka panjang, Apple masih memiliki potensi untuk tumbuh dan meningkatkan pangsa pasarnya. Namun, perusahaan ini harus terus berinovasi dan meningkatkan kualitas produknya untuk mempertahankan keunggulan kompetitif. Dengan demikian, Apple dapat terus menjadi pemimpin di industri teknologi dan meningkatkan nilai bagi konsumen dan investor.
Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260630185100-37-746961/apple-kehilangan-duit-rp-4482-triliun-gara-gara-hal-tak-terduga-ini, without altering the facts of the original article.