Rupiah Menguat Tipis 0,39%, Nilai Tukar Dolar AS Kini Rp17.835

Rupiah berhasil menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda ditutup menguat 0,39% ke posisi Rp17.835/US$, menurut data Refinitiv. Penguatan ini terjadi di tengah koreksi yang tengah terjadi pada pergerakan indeks dolar AS. Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah solid berada di zona penguatan sejak pagi tadi.

Faktor yang Mempengaruhi Penguatan Rupiah

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah terkoreksinya dolar AS di pasar global. Pelemahan tersebut memberi ruang bagi sejumlah mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk bergerak positif. Indeks dolar AS (DXY) per pukul 15.00 WIB terpantau mengalami tekanan dengan terkoreksi 0,15% ke level 101,203.

Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran kembali saling melontarkan pernyataan keras pada akhir pekan lalu. Namun, kedua negara tersebut kemudian sepakat menghentikan serangan balasan dan dijadwalkan bertemu di Qatar pada Selasa. Kondisi ini membuat pelaku pasar masih mencermati keberlanjutan gencatan senjata tersebut.

Tantangan yang Masih Dihadapi Rupiah

Meski demikian, posisi dolar AS masih relatif kuat. Greenback masih berada di tren penguatan bulanan terbesar dalam hampir setahun, ditopang ketegangan di kawasan Teluk, imbal hasil surat utang AS yang masih tinggi, serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat pada pekan ini.

Dari dalam negeri, para pimpinan DPR pada Senin (29/6/2026) menggelar pertemuan dengan sejumlah pejabat yang bertanggung jawab menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertemuan tersebut dihadiri Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun, Ketua Banggar Said Abdullah, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, serta Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu.

Upaya Menjaga Stabilitas Ekonomi

Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu mengatakan menjaga stabilitas makro ekonomi dalam jangka pendek menjadi prioritas, terutama karena gejolak harga komoditas strategis seperti minyak mentah berisiko menekan inflasi dan daya beli masyarakat. “Ada kesepakatan saya rasa yang tercapai bahwa yang penting menjaga kestabilan makro ekonomi di jangka pendek karena kita sudah melihat dampak ketidakpastian global, misalnya harga minyak meningkat dan dampaknya ke inflasi dan daya beli di masyarakat. Sehingga ini menjadi prioritas untuk menjaga kestabilan makro.”

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan BI fokus menjaga kecukupan likuiditas di sistem perekonomian agar tidak terjadi gejolak di pasar uang dan pasar valas. “Kalau kita lihat di akhir bulan Mei ekspansi yang kami lakukan sekitar Rp600 triliun maka di akhir bulan Juni ini kami sudah melakukan ekspansi hingga Rp1.000 triliun, khusus itu untuk menjaga likuiditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita.”

Jalan Panjang yang Masih Harus Ditempuh

Untuk menjaga stabilitas kurs, BI juga telah menyesuaikan arah kebijakan moneter dengan menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir hingga berada di level 5,75%. Selain itu, BI juga menyesuaikan harga instrumen operasi moneter untuk menarik aliran modal asing masuk ke pasar dalam negeri. Dengan upaya-upaya tersebut, diharapkan rupiah dapat terus menguat dan stabilitas ekonomi dapat terjaga.

Disclaimer: This article was automatically rewritten by AI based on source: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260629144652-17-746554/rupiah-menguat-039-nilai-tukar-dolar-as-turun-ke-rp17835, without altering the facts of the original article.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *